19 May 2022, 22:49 WIB

Inovasi Deteksi Dini Tingkatkan Cangkupan Skrining Kanker Serviks di Indonesia


Faustinus Nua | Humaniora

Frepik.com
 Frepik.com
Ilustrasi kanker

KANKER serviks menjadi salah satu penyakit yang dapat menyerang perempuan dari berbagai jenjang usia. Kanker jenis ini menempati peringkat kedua sebagai jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan Indonesia. 

Meski termasuk jenis kanker yang mematikan, ternyata risikonya dapat dicegah dengan pemeriksaan secara terpersonalisasi sejak dini. Hal ini didukung dengan adanya inovasi-inovasi dalam skrining kanker serviks yang berkualitas. Sayangnya, masyarakat masih menemui hambatan dalam melakukan deteksi dini risiko kanker serviks, khususnya di negara-negara ekonomi menengah ke bawah.

“Menurut survei global kami, 60% masyarakat global masih menghadapi hambatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dengan berbagai alasan seperti kurangnya informasi, faktor biaya, hingga ketakutan terhadap hasil tes yang positif," ujar Director, Country Manager Diagnostics, Roche Indonesia Ahmed Hassan dalam webinar 'Inovasi Deteksi Dini untuk Meningkatkan Cakupan Skrining Kanker Serviks di Indonesia', Kamis (19/5).

Dijelaskannya, selama 2019 hingga 2021, Kementerian Kesehatan mencatat 2,8 juta pasien melakukan skrining kanker serviks. Namun, angka itu perlu ditingkatkan untuk menurunkan risiko pasien kanker serviks di stadium lanjut.

"Pada kanker serviks yang terlambat dideteksi, angka harapan hidup pasien kanker serviks dapat turun menjadi kurang dari 20%. Karenanya, akses yang lebih luas untuk deteksi dan perawatan kanker serviks yang inovatif menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas kesehatan perempuan,” imbuhnya.

Ketua Dewan Penasihat Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia Andrijono mengatakan, pada 2020, WHO mencatat sebanyak 21.003 kasus kematian perempuan di Indonesia karena kanker serviks. Kanker yang disebabkan oleh infeksi virus Human Pappilomavirus Genital (HPV) itu dapat menular, salah satunya melalui hubungan intim, meskipun tanpa gejala. Infeksinya pun dapat berlanjut beberapa tahun setelah terpapar virus HPV. 

“Perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual rentan terhadap risiko penularan virus HPV. Pada tahap ini, deteksi dini sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya keterlambatan penanganan pada kanker serviks," jelasnya.

"Ada tahapan-tahapan teknis dalam mendeteksi virus HPV melalui tes HPV DNA, seperti skrining pra kanker untuk mengidentifikasi risiko sebelum munculnya gejala, kolposkopi untuk menindaklanjuti tes skrining kanker serviks yang abnormal, dan konfirmasi adanya kanker melalui pengambilan sel dari leher rahim untuk pemeriksaan laboratorium," tambah Andrijono.

Lantas, pemeriksaan fisik melalui deteksi dini yang inovatif hingga penanganan infeksi virus HPV untuk mencegah penularan perlu ditingkatkan. Pasien perlu diinformasikan secara berkala agar kesadaran masyarakat semakin meningkat.

Baca juga : Fahmi Mubarok, Ilmuwan dan Dosen ITS Terpilih Jadi Finalis European Inventor Award 2022:

Salah satu inovasi pengujian kanker serviks adalah cobas® HPV, yang diakui dalam penelitian ATHENA sebagai prediktor superior risiko kanker serviks. Inovasi ini menyederhanakan tahapan skrining pasien dengan menekankan pada tingkat akurasi dan sensitivitas tinggi, sehingga dapat menyaring lebih banyak pasien berpotensi kanker serviks. 

Inovasi ini juga memungkinkan tenaga kesehatan profesional untuk mendeteksi 14 virus HPV yang berisiko menyebabkan kanker serviks. Skrining kanker serviks dengan cobas HPV sudah dapat diakses di berbagai laboratorium maupun rumah sakit berbagai daerah di Indonesia.

Koordinator Substansi Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Aldrin Neilwan Pancaputra mengungkapkan, dalam mewujudkan akses yang lebih luas terhadap inovasi deteksi dini, perlu didukung dengan kolaborasi antarlembaga pemerintah, swasta, dan komunitas. 

Kolaborasi tersebut dapat diperkuat melalui tata laksana atau panduan dalam penanggulangan kanker serviks, seperti melalui SK Menkes No. 1163/MenKes/SK/2007. Sehingga, terbentuknya kelompok kerja pengendalian penyakit kanker leher rahim dan payudara. 

“Akses deteksi dini dan perawatan tentu akan menjadi prioritas bagi pemerintah. Terbentuknya kelompok kerja yang saat ini sudah berjalan membawa kami bekerja erat dengan berbagai lembaga swasta maupun masyarakat untuk menyosialisasikan pemahaman dasar mengenai kanker serviks," terangnya.

Pemerintah, lanjutnya, akan terus melakukan evaluasi secara berkala terkait perkembangan teknis penyelenggaraan penanggulangan, khususnya dalam deteksi dini. "Harapan kami, semakin banyak masyarakat yang dapat kami jangkau ke depannya,” tandasnya.

Salah satu penyintas kanker serviks, Shanty Eka Permana, menjelaskn, keputusan untuk memeriksakan diri tidak mudah. Selain karena takut menerima hasil pemeriksaan, ia menunjuk minimnya sumber informasi tepercaya dan mudah dipahami sebagai alasan menunda tes. 

"Oleh karena itu, penyebaran informasi dan akses yang lebih luas terhadap kemajuan maupun inovasi deteksi dini kanker serviks menjadi harapan terbesar bagi pasien dalam memperoleh pengalaman perawatan yang sesuai kebutuhan masing-masing," kata dia. (OL-7)

BERITA TERKAIT