18 May 2022, 15:45 WIB

Jangan Sampai Pelonggaran Masker Merugikan Diri Sendiri


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

ANTARA
 ANTARA
Anggota komunitas pecinta Transjakarta mengenakan baju hazmat melakukan sosialisasi protokol kesehatan di Halte Transjakarta Harmoni.

EPIDEMIOLOG dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan pelonggaran penggunaan masker harus dilakukan sangat hati-hati terutama dalam menarasikan eforia atau percaya diri yang berlebihan sehingga membuat abai dan merugikan diri sendiri.

Karena dengan memakai masker saja merupakan salah satu perilaku yang mudah, murah, dan efektif dalam mencegah penularan penyakit yang menggunakan droplet sebagai alat penularannya seperti halnya SARS CoV 2.

Baca juga: Hanya 76 Persen Calon Jemaah Haji Sudah Divaksinasi Dosis Lengkap

"Kita belum berada di posisi yang cukup aman melakukan pelonggaran dalam artinya pembebasan masker ini dan sebaiknya bersabar," kata Dicky kepada Media Indonesia, Rabu (18/5).

Saat ini cakupan 2 dosis vaksinasi reguler jauh meningkat tetapi harus diingat bahwa dalam konteks turunan dari omikron seperti BA.2 dengan adanya cakupan 2 dosis kurang cukup dan harus ditambahkan dengan booster.

Di negara seperti Australia sudah bisa tidak menggunakan masker karena cakupan booster sudah di atas 70 persen sementara di Indonesia per 17 Mei 2022 baru 42, 7 juta orang, belum mencapai 70 persen.

"Sehingga kita harus berhati-hati melihat situasi setempat apakah cakupan vaksinasi di atas 50 persen atau belum. Meskipun outdoor pun tidak menjamin aman, harus disertai dengan sirkulasi udara yang ada harus bagus," ujar Dicky.

Sehingga tidak serta merta outdoor aman untuk tidak memakai masker. Dicky menjelaskan apabila di dagu kita merasakan hembusan angin maka sudah terbilang aman, ada juga outdoor namun anginnya kurang ini artinya harus tetap memakai masker.

"Jika pemerintah memiliki acuan maka harus diterangkan kepada publik terkait risikonya juga agar publik bisa menilai apakah bisa memakai masker atau tidak," ungkapnya.

Karena masih banyak masyarakat yang belum melakukan booster. Bahkan booster pun sudah lebih dari 6 bulan, sehingga risiko penularan covid-19 pun tetap ada meski tidak parah seperti sebelumnya.

"Sehingga apabila risiko penularan terjadi dan menularkan ke orang dekat dan akhirnya membawa covid-19 itu bisa terjadi. Sehingga kebijakan masker ini sebaiknya harus dilakukan dengan bijak dan tidak terburu-buru," jelasnya.

Dirinya memprediksi akhir tahun ini kondisinya sudah jauh lebih baik dan aman tapi kalau negara melakukan abai maka akan banyak yang tertular juga.

Apalagi diakselerasi dengan peningkatan cakupan vaksinasi ini menjadi suatu kombinasi yang sangat signifikan berkontribusi dalam menurunkan perbaiki situasi pandemi dengan menurunkan potensi penularan.

Kombinasi ditambah dan protokol kesehatan dan perbaikan kualitas udara akan menjadi salah satu upaya yang sangat jelas untuk keluar dari krisis pandemi. (OL-6)

BERITA TERKAIT