18 May 2022, 10:15 WIB

Prevalensi Hipertensi Naik karena Faktor Risiko yang tidak Terkontrol


Basuki Eka Purnama | Humaniora

Pexels
 Pexels
Ilustrasi

KETUA Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia Erwinanto memandang prevalensi atau jumlah penyandang hipertensi yang meningkat dari tahun ke tahun terjadi karena faktor risiko yang tidak terkontrol.

Ia mencontohkan beberapa faktor risiko hipertensi seperti diabetes, obesitas atau kegemukan, hingga konsumsi garam berlebih tidak pernah menurun.

Lebih lanjut, Erwinanto, dalam media briefing secara virtual di Jakarta, Selasa (17/5), menyebutkan faktor risiko juga termasuk kolesterol, konsumsi alkohol yang berlebihan, gangguan tidur sleep apnea, dan sebagainya.

Baca juga: Ini 7 Macam Karbohidrat yang Bisa Bantu Jaga Tekanan Darah Anda

"Hal-hal seperti itu yang harus kita kendalikan supaya prevalensinya turun, beban negara tidak tinggi, uangnya bisa dipergunakan untuk hal lain. Bagi masyarakatnya sendiri juga terhindar dari kemungkinan penyakit jantung, penyakit ginjal, dan stroke," katanya.

Ia mengatakan setiap peningkatan tekanan darah 20/10 mmHg yang dimulai dari tekanan darah 115/75 mmHg, maka kematian akibat stroke, jantung koroner, dan gagal ginjal akan naik lebih dari dua kali.

"Semua masalah tiga penyakit tadi tidak hanya dimulai pada saat hipertensi. Pada saat hipertensi memang meningkat tajam itu benar, tetapi tidak berarti ketika tidak hipertensi itu tidak meningkat," katanya.

Pada peringatan Hari Hipertensi Sedunia tahun ini, tema yang diangkat adalah 'Ukur tekanan darah Anda secara akurat, kendalikan dan hidup berkualitas lebih lama'.

Erwinanto mengatakan tema Hari Hipertensi tidak berubah dari tahun ke tahun, alasannya karena prevalensi atau jumlah penyandang hipertensi di dunia, tidak hanya di Indonesia, tidak menurun.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 diperkirakan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1% atau sekitar 63.309.620 orang di Indonesia terkena hipertensi.

Secara nasional, prevalensi hipertensi menunjukkan kecenderungan peningkatan dari Riskesdas 2007 hingga 2018 yang didasarkan pada tiga jenis metode yaitu diagnosa, konsumsi obat, dan pengukuran.

Erwinanto menekankan kata 'kendalikan' yang tertulis pada tema Hari Hipertensi Dunia menjadi kata kunci yang perlu diperhatikan.

Pesan untuk mengendalikan tekanan darah, lanjutnya, tidak hanya merujuk pada untuk orang yang sudah terkena hipertensi melainkan juga untuk orang yang belum hipertensi.

Sementara Advisory Board Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia Prof Rully MA Roesli menambahkan, edukasi yang tidak tepat sasaran juga menjadi alasan mengapa prevalensi meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia.

Hal tersebut, lanjut Rully, didasarkan pada data Riskesdas 2018 yang menyebut penderita hipertensi mayoritas diderita oleh masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan dan tidak lulus sekolah dasar. 

Ia menyarankan agar edukasi terkait hipertensi dapat dibuat dengan lebih inklusif.

"Ini bukan pekerjaan mudah. Bagaimana cara menyadarkan orang yang tidak sekolah atau yang tidak cukup baca bahwa hipertensi ini berat," ujarnya.

Untuk mencegah hipertensi, Erwinanto menekankan pentingnya untuk melakukan terapi intervensi gaya hidup. 

Perubahan gaya hidup, katanya, tidak hanya berkaitan dengan konsumsi makanan-makanan yang sehat melainkan juga olahraga teratur 30 menit sehari, kurangi berat badan jika kegemukan, dan kurangi konsumsi alkohol.

"Memang ada ukuran-ukurannya tetapi mengingat hidup kita sehari-hari tidak bisa diukur, maka mungkin yang paling tepat adalah sebesar mungkin yang bisa dilakukan, dan semua itu akan terlihat dari berat badan juga apakah index massa tubuhnya tercapai atau tidak," katanya. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT