17 May 2022, 20:59 WIB

Menkes: Pelonggaran Masker Bagian dari Program Transisi Pandemi ke Endemi


Nur Aivanni | Humaniora

ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
 ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Pekerja berjalan di trotoar Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (17/5). Presiden Jokowi melonggarkan kebijakan masker di ruang terbuka.

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan keputusan pemerintah yang melonggarkan pemakaian masker merupakan salah satu bagian dari program transisi dari pandemi menjadi endemi.

"Itu merupakan salah satu bagian dari program transisi yang pemerintah siapkan secara bertahap dari pandemi ke kondisi endemi," katanya dalam konferensi pers secara daring, Selasa (17/5).

Dikatakannya, salah satu hal yang paling penting untuk bisa melakukan transisi dari pandemi ke endemi, selain data-data saintifik, ialah pemahaman masyarakat bahwa tanggung jawab kesehatan itu ada di diri masing-masing.

"Jadi sekuat apapun negara mencoba mengatur masyarakatnya untuk berperilaku hidup sehat, tetap yang paling baik adalah kesadaran untuk berperilaku hidup sehat ada di masing-masing individu," terangnya.

Dikatakannya, kenaikan kasus covid-19 itu disebabkan karena adanya varian baru. Sementara di Indonesia, imunitas masyarakatnya terhadap varian baru sudah relatif cukup baik.

Baca juga: Covid Dianggap Terkendali Jika 'Positivity Rate' usai Lebaran di Bawah 5%

Budi mengungkapkan sekitar 93% masyarakat Jawa dan Bali sudah memiliki antibodi. Antibodi itu bisa berasal dari vaksinasi yang diberikan oleh pemerintah atau juga bisa berasal dari infeksi. Itu berdasarkan sero survei yang dilakukan Kemenkes pada Desember 2021.

"Sebelum mudik lebaran kita jalankan, kita melakukan sero survei berikutnya untuk melihat kondisinya seperti apa. Ternyata naik dari 93% menjadi 99,2%," jelasnya.

Namun, sambungnya, tidak hanya jumlah populasi masyarakat yang memiliki antibodi lebih banyak, tapi kadar antibodinya juga jauh lebih tinggi. Jika pada Desember 2021, rata-rata kadar antibodinya mencapai sekitar 500-600. Kemudian, pada Maret 2022 kadar antibodinya meningkat sekitar 7.000-8.000.

"Ini membuktikan bahwa masyarakat kita, selain yang memiliki antibodinya tumbuh lebih banyak, tapi juga kadar antibodinya naik lebih tinggi," ucapnya. (A-2)

 

 

BERITA TERKAIT