17 May 2022, 07:05 WIB

Penerapan Model Optimasi Biaya Pemeliharaan Ayam


Antyesti Vania Hapsari, Muhammad Akbar, Mohammad Mi’radj Isnaini | Humaniora

Dok. ITB
 Dok. ITB
Kunjungan ke peternakan ayam. 

PRODUKSI sektor peternakan di Indonesia masih didominasi usaha peternakan rakyat yang dijalankan dalam skala kecil. Umumnya, mereka menjalankan usaha berdasarkan pengalaman tanpa adanya penerapan metode tertentu. Selain itu, pelaksanaan usaha peternakan rakyat itu belum menerapkan prinsip-prinsip bisnis modern. Pada 2021, diperkirakan kebutuhan daging ayam di Indonesia mencapai 3,19 juta ton atau setara dengan 2,7 miliar ayam hidup. Besarnya angka kebutuhan ayam tersebut sangat bergantung pada usaha peternakan ayam skala kecil hingga menengah.

Di sisi lain, kegiatan produksi peternakan ayam skala kecil saat ini masih memiliki keterbatasan dalam berbagai aspek, antara lain kurangnya pengetahuan, keterampilan, serta teknologi. Selain itu, ketidakmampuan peternak dalam mengelola sumber daya yang sifatnya terbatas dalam rangka memenuhi jumlah permintaan dengan harga jual yang fluktuatif menyulitkan pelaku usaha untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan usaha mereka. Oleh karena itu, diperlukan dukungan teknis terhadap para pelaku usaha peternakan ayam untuk membantu meningkatkan produksi agar diperoleh keuntungan maksimal.

Salah satu usaha peternakan ayam yang belum menerapkan model optimasi biaya pemeliharaan ayam ialah sebuah peternakan yang terletak di Desa Cikareo, Banten. Peternakan tersebut memiliki dua kandang yang masing-masing berkapasitas 44 ribu ayam broiler. Dalam menjalankan usahanya, pemilik peternakan bekerja sama dengan pemilik usaha lain membentuk hubungan kemitraan. Secara teknis, baik pemilik peternakan maupun perusahaan mitra memiliki ranah masing-masing dalam mengelola kegiatan produksi. Perusahaan mitra bertanggung jawab memilih dan menentukan jumlah anak ayam yang dijadikan sebagai bibit untuk diternakkan, jenis pakan, pemberian bonus, waktu panen, serta jumlah ayam yang dipanen. Di sisi lain, pemilik peternakan bertanggung jawab terhadap kegiatan operasional pemeliharaan ayam beserta kandang, antara lain meliputi proporsi pemberian pakan, obat, vaksin, penjarangan, serta penentuan ayam yang dipanen untuk memenuhi permintaan.

Pada saat panen, pemilik peternakan tidak memiliki keleluasaan untuk menentukan waktu dan jumlah ayam yang dipanen sehingga perencanaan produksi untuk mengoptimalkan penjualan sulit diterapkan. Meskipun demikian, pemilik peternakan dapat menentukan ayam mana yang akan dipanen terlebih dahulu, yaitu dengan memperhatikan kondisi fisik dan bobotnya. Potensi pertumbuhan berat badan ayam dapat diketahui dengan cara membandingkan berat seekor ayam dengan berat rata-rata ayam per ekor.

Perlu diperhatikan, seekor ayam diduga mengalami keterlambatan dalam proses pertumbuhannya apabila selama masa pemeliharaan, berat badannya di bawah berat rata-rata ayam per ekor. Pada kondisi tersebut, ayam tidak akan mengalami kenaikan berat badan yang signifikan meski telah diberi cukup makanan secara berkelanjutan. Ayam dengan kondisi tersebut tidak mampu memberikan pengaruh positif terhadap besar keuntungan yang diperoleh pemilik peternakan sehingga umumnya ayam-ayam dengan pertumbuhan lambat akan dijual terlebih dahulu untuk menurunkan biaya pakan.

Keberlanjutan usaha peternakan ayam broiler sangat bergantung pada besar keuntungan yang diperoleh. Salah satu faktor yang menentukan besar keuntungan usaha ternak ialah nilai feed conversion ratio (FCR), atau rasio konversi pakan, dengan biaya pakan ternak memiliki persentase terbesar, yaitu 65%-75% dari keseluruhan biaya produksi. Selain biaya pakan, besar keuntungan dipengaruhi pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan dan bonus. Semakin berat jumlah ayam yang dipanen, semakin besar pula pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan.

Bonus yang diperoleh pemilik peternakan terbagi menjadi dua, yaitu bonus kematian dan bonus FCR. Sama seperti halnya pendapatan penjualan, kedua bonus tersebut juga akan meningkat seiring dengan kenaikan berat ayam yang dipanen. Perolehan bonus kematian dipengaruhi persentase ayam yang mati. Bonus tersebut tidak akan diperoleh apabila persentase ayam yang mati melebihi standar tertentu yang ditetapkan perusahaan mitra.

Besar bonus FCR dipengaruhi nilai FCR yang merupakan hasil bagi antara berat makanan dan berat ayam. Semakin kecil nilai FCR, semakin efisien konversi pakan ternak serta semakin besar pula bonus yang akan diperoleh. Dengan demikian, berarti dibutuhkan lebih sedikit makanan bagi ayam untuk mengalami kenaikan berat badan.

Secara umum, FCR memiliki kecenderungan untuk mengalami kenaikan dengan beberapa fluktuasi pada bagian awal hingga pertengahan periode. Pada pertengahan hingga akhir periode, FCR cenderung stabil. Hal tersebut menunjukkan semakin lama pertumbuhan berat badan ayam akan semakin melambat hingga berhenti pada berat tertentu. Ketika ayam tidak lagi mengalami kenaikan berat badan yang signifikan, nilai FCR menjadi besar. Hal tersebut akan berdampak pada sedikitnya bonus FCR yang diperoleh. Pola yang tergambar melalui data FCR tersebut (lihat grafis) dapat dimanfaatkan peternak untuk memperkirakan kapan sebaiknya ayam dipanen agar diperoleh keuntungan yang maksimum.

Saat ini, pemilik peternakan belum menerapkan metode khusus dalam memprediksi potensi profit yang diperoleh pada saat ayam akan dipanen sehingga amat mungkin keuntungan yang diperoleh dari hasil pemeliharaan selama satu periode belum maksimal. Meski pemilik peternakan tidak memiliki keleluasaan dalam menentukan waktu panen, pemanfaatan data FCR untuk memperkirakan profit yang akan diperoleh selama beberapa hari ke depan apabila ayam dipanen setelah waktu panen yang diajukan pembeli mampu memberikan opsi bagi pemilik peternakan untuk negosiasi dengan pembeli terkait dengan waktu panen ayam. Dengan adanya negosiasi tersebut, waktu panen ayam diharapkan dapat disesuaikan dengan waktu panen tersebut akan memberikan keuntungan maksimum bagi pemilik peternakan.

 

Model matematis

Dalam rangka menyelesaikan permasalahan tersebut, kami dari tim Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung melakukan penelitian untuk mengembangkan model matematis yang mampu mengoptimalkan waktu panen ayam broiler berdasarkan hasil prediksi perolehan keuntungan dengan menggunakan metode pendekatan pemrograman linier. Pemanfaatan data FCR yang menggambarkan tingkat efisiensi konversi pakan ternak dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan berat badan harian ayam yang akan berpengaruh terhadap harga jual ayam. Dengan mempertimbangkan biaya makanan dan pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan berdasarkan pertambahan berat badan ayam per hari, dapat dilakukan perhitungan untuk memperkirakan besar keuntungan yang diperoleh peternak setiap harinya selama masa pemeliharaan. Perkiraan besar keuntungan tersebut menjadi dasar dalam menentukan waktu panen terbaik yang mampu memberikan keuntungan maksimum.

Model yang telah dikembangkan selanjutnya diterapkan untuk menentukan solusi bagi sebuah skenario dengan terdapat permintaan panen ayam sebanyak 5.000 ekor ketika ayam tersebut mencapai usia 14 hari. Pencarian solusi diawali dengan menghitung besar keuntungan yang diperoleh apabila sejumlah ayam tersebut dipanen sesuai dengan waktu yang diajukan pembeli, yaitu ketika berusia 14 hari. Kemudian, dilanjutkan dengan menghitung perkiraan besar keuntungan yang akan diperoleh pemilik peternakan apabila panen ayam dilakukan beberapa hari setelahnya.

Ternyata berdasarkan hasil perhitungan, keuntungan maksimum dapat diperoleh dengan menunda waktu panen selama satu hari atau panen dilakukan ketika ayam sudah berusia 15 hari. Solusi tersebut diperkirakan mampu meningkatkan perolehan keuntungan sebesar Rp34.740.043,66 atau 13% dari besar keuntungan yang diperoleh apabila waktu panen ayam disesuaikan dengan permintaan pembeli.

Berdasarkan hasil tersebut, pemilik peternakan dapat bernegosiasi dengan pembeli untuk menunda waktu panen ayam selama satu hari.

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas, diketahui bahwa solusi berupa waktu panen yang dihasilkan dari perhitungan menggunakan model sensitif terhadap harga perubahan jual ayam. Namun, di sisi lain, solusi tersebut tidak sensitif terhadap perubahan harga makanan ayam dan penambahan jumlah ayam yang mati. Dengan demikian, model yang telah dikembangkan dapat diterapkan untuk menjawab permasalahan bagi para peternak ayam broiler yang mengeluhkan tingginya harga pakan ternak.

Selain itu, agar penerapan model dapat berjalan secara efektif, sebaiknya pemilik peternakan memperhatikan kondisi lingkungan eksternal yang dapat memengaruhi hasil perhitungan prediksi, antara lain seperti harga jual ayam, harga makanan ayam, jumlah permintaan dan penawaran ayam, serta virus atau penyakit yang dapat mengancam kondisi kesehatan ayam ternak.

Pemilik peternakan hendaknya juga mempertimbangkan secara matang segala kemungkinan dan risiko yang dapat memengaruhi hasil prediksi serta berhati-hati dalam bernegosiasi dengan pembeli terkait dengan waktu panen ayam untuk menghindari terjadinya kerugian bagi kedua pihak. (M-4)

 

Tentang penulis

 

Mohammad Mi’radj Isnaini ST MT PhD

Dosen Kelompok Keahlian Sistem Manufaktur Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung

 

Muhammad Akbar ST MT PhD

Dosen Kelompok Keahlian Sistem Manufaktur Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung

 

Antyesti Vanisa Hapsari

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung

BERITA TERKAIT