14 May 2022, 23:05 WIB

Tradisi Silaturahim Lebaran Jadi Modal Keberagaman


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
KETUA Pembina Yayasan Perdamaian Lintas Agama dan Golongan KH Mohammad Dian Nafi

KETUA Pembina Yayasan Perdamaian Lintas Agama dan Golongan KH Mohammad Dian Nafi mengatakan silaturahim ketika Lebaran memiliki andil besar dalam mendukung kerukunan dan penerimaan terhadap keragaman, bahkan menjadikannya modalitas untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.

"Bangsa Indonesia terdiri atas 1.340 suku bangsa. Perjuangan bangsa Indonesia berhasil sukses karena bisa menyingkirkan sikap-sikap negatif seperti kebencian dan intoleransi sejak awal. Dan bangsa Indonesia diuntungkan oleh kebiasaannya untuk mendewasakan diri dengan berbagai perjumpaan," ujar Kiai Dian Nafi seperti dikutip Antara di Surakarta, Sabtu (14/5).

Pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad Windan Sukoharjo itu melanjutkan, hal tersebut bahkan dibuktikan dengan berbagai kekuatan asing yang telah masuk silih berganti ke dalam masyarakat suku Indonesia. Beruntung kerja sama antarsuku selalu menambahkan kekuatan suku-suku untuk mempertahankan kepribadian yang mereka miliki.

"Karena ada kekuatan yang terus berkembang, yaitu kesadaran sebagai sebuah himpunan besar yang lebih kuat, yaitu bangsa Indonesia yang terjalin melalui silaturahim," kata pria yang juga Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) tersebut.

Sehingga guna mewujudkan rasa memperkuat, mempererat persaudaraan kebangsaan, dan saling mengenal sebagai upaya mengebalkan imunitas, khususnya dari paham intoleransi dan radikalisme, dia menilai dibutuhkan upaya konkret yang positif.

"Untuk mewujudkan rasa memperkuat dan mempererat persaudaraan kebangsaan adalah melalui pengamalan agama, pendidikan, kegiatan hidup penduduk sehari-hari, dan kekuatan untuk mengurus ikhwal penegakan norma di antara mereka," katanya.

Menurutnya, dalam ajaran agama-agama sendiri selalu memuat segi-segi yang memperkuat kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kerja sama, kepedulian, dan perdamaian. Tidak hanya itu, pengamalan Pancasila sebagai pandangan hidup juga mencegah masyarakat kehilangan kekuatan sebagai sebuah bangsa serta dari kehilangan rahmat Ilahi.

"Dengan itu masyarakat Indonesia menguatkan imunitasnya dari gagasan-gagasan yang merusak kemanusiaan dan persatuan," ujarnya.


Baca juga: Menjalin Silaturahim untuk Mengurai Kebencian dan Intoleransi


Kiai Nafi bahkan menilai bahwa tradisi mudik yang identik dengan momen Lebaran, memiliki fungsi psikososial untuk memulihkan kesegaran mental guna memperbaiki penghidupan.

"Silaturahim sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Saling menyapa dan berkunjung. Dan mudik, bermanfaat untuk menapak kembali sejarah para pendahulu, meneguhkan kearifan tempat kelahiran, membangun kohesi sosial, pemerataan pendapatan keluarga dan pemantauan publik atas hasil-hasil pembangunan," jelas pria kelahiran Sragen, 58 tahun lalu itu.

Oleh karenanya, ia menilai setidaknya ada empat harmoni yang perlu dijadikan pembekalan terhadap generasi muda termasuk sejarah perjuangan bangsa di masa lalu.

"Pertama, harmoni alamiah, yaitu generasi muda berhak dan butuh untuk mengeksplorasi lingkungan alamiahnya. Ini penting untuk menanamkan kecintaan kepada bumi pertiwi dan wawasan kedaulatan teritorial Indonesia," ucapnya.

Kedua, harmoni sosial, yang memuat di dalamnya ikhwal kerukunan di antara sesama warga bangsa yang merupakan modalitas hidup yang dinamis, yang menggerakkan rumah tangga alam (ekologi) Indonesia dan rumah tangga manusia (ekonomi).

"Ketiga, harmoni psikologis selalu dibutuhkan di tengah-tengah situasi disruptif dewasa ini. banyak kemajuan ilmu pengetahuan mendesakkan aneka perubahan yang silih berganti dan efeknya adalah tarikan yang semakin kuat kepada warga bangsa untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif," jelasnya.

Keempat, harmoni spiritual yang menjadi pangkal keberadaan manusia di muka bumi ini kepada-Nya yang diabadikan dengan semua jerih payah perjuangan masyarakat bangsa ini, dan perlunya masyarakat bangsa ini memupuk kesadaran terus menerus sebagaimana para pendiri bangsa ini percaya bahwa atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa maka masyarakat bangsa ini dianugerahi kebaikan sebagai bangsa yang merdeka.

Tidak hanya itu, Kiai Nafi juga memandang perlu adanya peran dari tokoh agama dan tokoh masyarakat, sebagai ujung tombak masyarakat dan teladan kehidupan umat, guna memperkuat persaudaraan kebangsaan melalui tali silaturahmi dan menjadikan bulan Syawal ini sebagai titik pijak baru dalam membangun ukhuwah. (Ant/S-2)

 

BERITA TERKAIT