05 May 2022, 12:02 WIB

PHRI: Okupansi Hotel dan Restoran Kembali Naik


M. Ilham Ramadhan Avisena | Humaniora

Ist
 Ist
Ilustrasi

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, tingkat okupansi hotel dan restoran pada momen mudik lebaran tahun ini kembali naik setelah terdampak pandemi covid-19 di dua tahun terakhir.

Bahkan diproyeksikan jumlah keterisian hotel dan kunjungan restoran akan melampaui capaian 2019. "Kondisi sekarang jauh lebih baik dari 2019, karena juga memang masa libur lebih lama, sehingga length of stay juga menjadi lebih lama," ujar Hariyadi saat dihubungi, Kamis (5/5).

Peningkatan okupansi juga didorong oleh keberadaan infrastruktur jalan tol. Menurut Hariyadi, masifnya pembangunan jalan tol di sejumlah wilayah Indonesia memberi dampak positif bagi sektor perhotelan dan restoran.

Pada masa mudik kali ini misalnya, pemudik yang hendak menuju Solo bisa menginap di Yogyakarta. Itu karena keterisian hotel di Solo cukup tinggi sehingga pemudik memilih untuk menginap di wilayah terdekat yang mudah diakses.

"Kemarin kebetulan ada rombongan Pak Presiden, beliau ingin ke Solo, dan mereka tidak dapat hotel di Solo, dan akhirnya stay di Yogyakarta. Jadi bergerak," kata Hariyadi.

Dia menambahkan, secara nasional tingkat okupansi hotel di momen lebaran kali ini mencapai 85%, naik sekitar 50% dari periode sebelum Ramadan dan lebaran yang hanya berkisar 35%. Wilayah tujuan mudik utama menjadi penyumbang utama seperti Yogyakarta, Solo, Malang, Bogor, Lampung, Palembang, dan Bogor naiknya okupansi hotel.

Peningkatan itu juga tak lepas dari keputusan pemerintah untuk memperlonggar mobilitas masyarakat. Apalagi, dua tahun ke belakang masyarakat tak bisa melakukan mudik karena adanya pembatasan mobilitas yang cukup ketat.

Karenanya, pemerintah diharapkan mampu terus mengendalikan pandemi dengan baik agar tak ada lagi pembatasan mobilitas masyarakat yang akan berimbas pada bisnis perhotelan dan restoran. "Sepanjang pergerakannya tidak dibatasi, pertumbuhan itu pasti akan naik," imbuh Hariyadi.

"Selain mereka yang berwisata, mereka yang bergerak karena bisnis pasti akan naik. Jadi kuncinya itu di pembatasan. Karena tren kita itu di 2019 naik terus, memang sempat turun, itu karena tiket mahal," sambungnya.

PHRI, tambah Hariyadi, telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga dan mendorong kembali geliat sektor pariwisata. Berbagai gelaran acara akan dilakukan untuk menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara di waktu mendatang.

Sejumlah acara itu dilakukan mulai Juni 2022 dan dilaksanakan di sejumlah kota seperti Padang, Bali, Palembang, Labuan Bajo, Jakarta, Bogor, Makassar, dan Yogyakarta.

Untuk menarik minat wisatawan, PHRI turut menggandeng asosiasi lain seperti Association of The Indonesian Travel & Tours Agencies (ASITA), Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia (Astindo), hingga sejumlah maskapai penerbangan.

"Jadi kita berkolaborasi membuat paket pariwisata menjadi satu bundling supaya harga kompetitif," pungkas Hariyadi. (OL-12)

BERITA TERKAIT