02 May 2022, 11:45 WIB

Demam Anak Anda Sulit Turun? Waspada Kemungkinan DBD


Basuki Eka Purnama | Humaniora

Freepik
 Freepik
Ilustrasi

DEMAM yang sulit turun meski sudah mengonsumsi obat penurun panas bisa jadi gejala Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal itu dikatakan Ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi & Penyakit Tropis - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Anggraini Alam. 

"Demam tidak turun atau segera naik walau telah memberikan penurun demam seperti acetaminophen atau parasetamol," kata Anggraini dalam webinar kesehatan, dikutip Senin (2/5).

Waspadai terkena DBD bila demam juga tidak turun meski sudah memakai kompres hangat dan meminum cairan dengan rasa atau selain air putih. 

Baca juga: DBD Di Sikka Telan Korban lagi, Satu Siswa SD Meninggal

Demam juga bisa disertai kulit wajah kemerahan dan tidak nyaman saat menghadapi cahaya terang.

Jika itu terjadi, penting untuk mencari tahu apakah di lingkungan rumah, sekolah atau orang-orang di sekitar ada yang terkena DBD untuk membantu memastikan penyebabnya.

DBD adalah penyakit demam mendadak tinggi yang disebabkan virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. 

Selain demam tinggi, tanda-tandanya berupa nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri belakang mata, ruam di kulit, hilang nafsu makan, perdarahan dan mual serta muntah.

Perdarahan pada DBD bisa berupa mimisan, gusi berdarah, bintik-bintik merah kulit di daerah muka, leher, dada atau punggung atas, tinja berwarna hitam atau darah haid yang berlebihan.

Dalam perjalanan penyakit DBD, fase kritis justru terjadi ketika demam mulai turun, di mana ada potensi terjadinya komplikasi pada DBD antara hari ketiga hingga ketujuh. 

Pada fase kritis ada potensi komplikasi seperti syok karena perembesan plasma yang hebat, perdarahan otak, kelainan metabolik, kegagalan hati fulminan, hingga syok berkepanjangan yang berujung kematian.

Segeralah pergi ke fasilitas kesehatan bila tubuh merasa lemas, asupan minum kurang, tidak buang air kecil di atas enam jam, nyeri perut hebat, perdarahan, sesak napas, pucat, gelisah, kejang, tangan dan kaki dingin saat diraba.

Gejala lainnya adalah sering mengantuk, kesulitan bernapas, kebingungan mental, muntah darah, dan bercak merah kulit di berbagai tempat. Gejala-gejala tersebut merupakan tanda peringatan untuk kondisi yang membahayakan.

Pasien yang kondisinya lebih baik boleh saja dirawat di rumah, tapi pastikan asupan cairannya tercukupi, tidak hanya air putih, tetapi juga susu, jus buah dan cairan elektrolit isotonik agar elektrolit dalam tubuh tetap seimbang.

Anggraini mengatakan parasetamol oral bisa dikonsumsi dengan catatan tidak lebih dari 75mg/kgBB/hari dengan dosis maksimum 4g/hari. 

Kompres dan seka tubuh dengan air hangat serta periksa dan berantas sarang nyamuk di dalam atau sekitar rumah.

Dia mengingatkan konsumsi antibiobik tidak diperlukan, jangan pula mengonsumsi obat berisi asam asetilsalisilat (aspirin), asam mefenamat (ponstan), ibuprofen atau obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) atau steroid. 

Konsultasikan dengan dokter bila pasien telah mengonsumsi obat ini sebelumnya. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT