26 April 2022, 19:55 WIB

Batu Bara masih Ancaman Utama bagi Tujuan Iklim Global


Mediaindonesia.com | Humaniora

AFP/Prakash Singh.
 AFP/Prakash Singh.
Pembangkit National Thermal Power Corporation (NTPC) di Dadri, India.

JUMLAH pembangkit listrik tenaga batu bara di seluruh dunia menurun pada 2021. Ini menurut penelitian yang dirilis Selasa (26/4). Namun bahan bakar fosil yang paling bertanggung jawab atas pemanasan global itu masih menghasilkan rekor emisi CO2 sehingga mengancam tujuan iklim Paris.

Sejak perjanjian 195 negara ditandatangani pada 2015, kapasitas tenaga batu bara yang sedang dibangun atau direncanakan untuk dikembangkan telah turun tiga perempat, termasuk penurunan 13% tahun ke tahun pada 2021 menjadi 457 gigawatt (GW). Secara global, terdapat lebih dari 2.400 pembangkit listrik tenaga batu bara yang beroperasi di 79 negara dengan total kapasitas 2.100 GW.

Rekor terendah 34 negara memiliki pembangkit batu bara baru yang sedang dipertimbangkan, turun dari 41 pada Januari 2021, menurut laporan tahunan Global Energy Monitor, Tracking the Global Coal Plant Pipeline. Tiogkok, Jepang, dan Korea Selatan--pendukung pengembangan batu bara di luar perbatasan mereka--berjanji menghentikan pendanaan pembangkit batu bara baru di negara lain, meskipun tetap ada kekhawatiran tentang kemungkinan celah dalam komitmen Tiongkok.

Namun pembangkit listrik tenaga batu bara di seluruh dunia tumbuh pada 2021 sebesar 18 GW dan per Desember tambahan 176 GW kapasitas batu bara sedang dibangun. Ini hampir sama dengan tahun sebelumnya.

Baca juga: Kaktus pun tidak Tahan Hadapi Pemanasan Global
 
Sebagian besar pertumbuhan itu terjadi di Tiongkok yang menyumbang lebih dari setengah pembangkit listrik tenaga batu bara baru yang sedang dibangun. Asia Selatan dan Tenggara bertanggung jawab atas 37% lain.

Tiga perempat dari pembangkit listrik tenaga batu bara baru yang mulai dibangun tahun lalu berada di Tiongkok. Kapasitas yang baru ditugaskan mengimbangi penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara di semua negara lain. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT