24 April 2022, 19:05 WIB

Cara Transformasi Digital di Kampus ala Dewan Pengarah BRIN


Mediaindonesia.com | Humaniora

DOK Pribadi.
 DOK Pribadi.
Marsudi Wahyu Kisworo.

TRANSFORMASI digital di perguruan tinggi sangat penting untuk meningkatkan kualitas kampus. Mustahil menyiapkan putra-putri bangsa yang menguasai teknologi digital dan mampu menaklukkan tantangan global, jika kampusnya sendiri belum mahir menggunakan teknologi.

Hal itu diungkapkan oleh Dewan Pengarah Badan Riset Inovasi Nasional Prof. Marsudi Wahyu Kisworo dalam Webinar Sevima pada Kamis (21/4) pagi. Dihadiri 2.000 rektor dan dosen se-Indonesia, Marsudi menjelaskan manfaat yang bisa dirasakan bila perguruan tinggi melakukan transformasi digital serta tips-tips bagi kampus untuk bertransformasi. 
"Transformasi digital merupakan disrupsi untuk meningkatkan bisnis serta pendidikan menjadi lebih cepat dan kuat. Teknologi digital seperti kuliah online bahkan bisa mengurangi biaya pengeluaran di perguruan tinggi. Namun kalau tidak beradaptasi, kampus sendiri akan terdisrupsi dan ditinggalkan," ungkap Marsudi didampingi Direktur Utama Sevima Sugianto Halim dan para panelis dari perguruan tinggi.

Tips transformasi digital ala Prof. Marsudi yang pertama yaitu memahami semua permasalahan di kampus. Proses ini akan membantu perguruan tinggi dalam memetakan solusi digital yang diperlukan untuk bertransformasi ke digital. "Misalnya permasalahan pandemi, apakah harus menghambat seluruh proses pembelajaran dan perbaikan sistem informasi akademik kampus? Jawabnya tentu saja tidak, kalau kita bisa bertransformasi digital, mengelola kelas, dan pelaporan justru makin murah dan mudah," lanjut pria yang kini juga menjabat sebagai Ketua Aliansi Pendidikan Vokasional Se-Indonesia (Apvokasi).

Tips kedua setelah memahami permasalahan yaitu transformasi bisa dilanjutkan dengan cara mengubah budaya dan pola pikir. Segenap komponen kampus harus siap melakukan perubahan, menyederhanakan pekerjaan yang ada, mengubah kebiasaan yang konvensional menjadi lebih maju dan kompeten, dan menjaga keamanan diri di ekosistem digital. Keamanan menjadi poin penting, karena pasti ada orang-orang tidak bertanggungjawab yang ingin memanfaatkan data-data tersebut. Jangan sampai ada pihak yang mengambil keuntungan dari banyaknya data yang dimiliki perguruan tinggi. Keamanan bisa dimulai dengan cara setiap pengguna bertanggung jawab mengamankan data masing-masing.

"Ketika sudah beralih menuju digital, setiap SDM (sumber daya manusia) di perguruan tinggi tersebut harus mengubah mindset yang ada. Harus transformasi budaya yang lebih maju dan kompeten untuk bisa melakukan manajemen informasi yang lebih baik. Rektor, dosen, mahasiswa, semua harus mau berubah," terangnya.
 
Tips terakhir dan tak kalah penting yaitu menentukan solusi digital yang tepat. Kampus bisa memilih akan berinovasi aplikasi sendiri atau memanfaatkan aplikasi yang sudah ada. Terlebih, aplikasi pembelajaran online seperti Zoom maupun sistem akademik berbasis awan (Siakadcloud) tersedia dan bisa dengan mudah diperoleh di internet. Kampus dapat mempertimbangkan kondisi kampus untuk menentukan solusi digital mana yang cocok. Marsudi mengungkapkan bahwa walaupun inovasi merupakan hal yang baik. Tidak semua kampus cocok untuk membuat aplikasi sendiri. 

Terlebih, kemampuan dosen di kampus pasti berbeda-beda. Ada kampus yang sudah memiliki talenta yang mahir dalam pemprograman dan pembangunan jaringan, tetapi tak sedikit juga yang belum mampu. Bagi kampus-kampus yang belum mampu, Marsudi berpesan agar pilihan membuat aplikasi dilakukan sendiri secara matang-matang dan jangan sampai dipaksakan. Karena akan beresiko dalam aspek keamanan. "Perguruan tinggi harus menyesuaikan setiap kemampuannya ketika membangun sistem informasi. Jangan sampai kampus yang belum mampu membangun sistem informasi memaksa untuk membuat sistem informasi sendiri," ujar Marsudi.

Baca juga: Korban Kekerasan Seksual Masih Ditangani UU yang Lama

Senada, Sugianto Halim selaku Direktur Utama Sevima dan pakar teknologi informasi mengungkapkan bahwa tersedia aplikasi akademik dan pelaporan (feeder) yang gratis dan digunakan ribuan kampus di Indonesia seperti Gofeeder. Aplikasi versi komunitas seperti ini bisa dengan mudah di-install oleh operator dan tim akademik di server kampus. Tidak perlu memikirkan perancangan aplikasi dan biaya. 

"Yang paling penting, bagaimana sistem akademik kita gunakan membentuk perguruan tinggi yang lebih kompeten. Aplikasi gratis seperti Gofeeder terintegrasi dengan sistem pelaporan pendidikan tinggi di pemerintah Indonesia (Neofeeder), bisa jadi alternatif kampus-kampus kecil. Dengan demikian kampus dapat tetap siap dalam menyiapkan segala tantangan digitalisasi, tanpa perlu khawatir dengan keadaan kampus," pungkas Sugianto. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT