08 April 2022, 17:54 WIB

Pengertian, Ciri-ciri, Jenis, Unsur, dan Contoh Di Balik Cerita Fiksi


Pierre Lavender | Humaniora

Dok.MI/Yopi Cahyono
 Dok.MI/Yopi Cahyono
Ilustrasi

BANYAK sekali anak-anak yang sangat tertarik dengan cerita fiksi. Cerita yang merupakan khayalan atau rekaan yang bertujuan untuk menghibur sering ditemukan pada novel dan cerpen.

Fiksi yang memiliki arti tidak nyata justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya. Karena dapat dengan mudah membayangkan cerita-cerita khayalan menarik tersebut bersama sang penulis.

Jika kita menemukan dan membaca cerita yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut, cerita tersebut merupakan cerita fiksi. Antara lain :
    -    Bersifat imajinatif dari sang penulis
    -    Tidak memiliki nilai kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan
    -    Bersifat sugestif
    -    Bercerita tentang perasaan pembaca, bukan nilai logika melainkan emosi
    -    Setiap cerita memiliki pesan moral

Selain ciri-ciri, yang harus kita ketahui lainnya yaitu jenis. Jenis pada cerita fiksi memiliki beberapa klasifikasi. Antara lain :
    -    Novel
        Merupakan sebuah karya prosa dari sebuah cerita tertulis
    -    Cerpen
        Merupakan sebuah karya prosa yang tujuannya cenderung padat dan langsung

Baca juga: Mengingat Penyair Intojo di Hari Puisi Sedunia

Sebagai penulis, cerita fiksi harus dilengkapi oleh beberapa unsur di dalamnya. Jika unsur tersebut tidak ada, maka cerita tersebut belum bisa dinyatakan cerita fiksi. Antara lain :

-    Tema
Gagasan dasar umum dalam sebuah karya
-    Tokoh
Pelaku yang ada dalam karya tersebut
-    Alur
Urutan kejadian yang ada di dalam cerita
-    Konflik
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi para tokoh dalam cerita
-    Klimaks
Akhir dari konflik, saat konflik sudah mencapai intensitas tinggi dan merupakan kejadian yang tidak bisa dihindari
-    Latar
Tempat, suasana, dan waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan
-    Amanat
Pemecahan solusi dari penulis atas persoalan dalam cerita tersebut. Amanat mengandung pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca
-    Sudut pandang
Pandangan penulis dalam menyampaikan sebuah cerita sehingga cerita tersebut lebih hidup dan tersampaikan dengan baik pada pembacanya
-    Penokohan
Cara penulis dalam menampilkan tokoh. Misalnya, tokoh A adalah tokoh protagonis yang memiliki sifat bijaksana, sedangkan tokoh B merupakan tokoh antagonis yang ceroboh.

Setelah mengetahui beberapa hal yang harus diperhatikan pada cerita fiksi. Berikut merupakan contoh cerita fiksi yang sudah sesuai dan memenuhi dari segi pengertian, ciri-ciri, jenis, dan juga unsur. Antara lain :

Mengejar Mimpi

Prasetya adalah seorang siswa sekolah dasar dari daerah terpencil di Indonesia. Dia tinggal di desa yang sangat sepi di ujung  Kalimantan. Kehidupan penduduk desa sangat sederhana dan jauh dari kehidupan modern. Akses listrik di sana sangat terbatas, belum lagi sinyal  dan akses internet. Namun, penduduk desa yang tinggal di sana masih bisa hidup bahagia dengan sepenuhnya memenuhi keterbatasan tersebut.

Prasetya sedari kecil sudah memiliki cita-cita ingin menjadikan desanya bisa lebih maju. Ia mulai berpikir paling tidak di desanya ada akses listrik yang mumpuni dan gratis untuk seluruh masyarakat yang tinggal disana. Keinginan itu muncul ketika ia pernah tak sengaja membaca selembar koran yang ia temukan di area sekolahnya. Koran tersebut itu memang sudah benar sangat lusuh, sehingga ia semakin bersemangat membangun desanya.

Atas impiannya itu, Prasetya kemuaian belajar sangat keras agar cita-citanya bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Plas adalah nama panggilan  SMA-nya, kemudian ia akhirnya bersekolah di luar desa karena ingin mengejar dengan lebih layak. Dia bekerja  sambil bersekolah. Pada akhirnya, ia diterima di salah satu universitas besar  di Indonesia.

Sejak itu, Prasetya telah belajar  dengan giat dan memperoleh prestasi dalam berbagai proyek penelitian yang dilakukan oleh para dosennya. Setelah lulus dari perguruan tinggi tersebut, Plas akhirnya kembali ke desa dan mulai mewujudkan mimpinya dengan membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sederhana.

Baca juga: Sajak-sajak Remy Sylado

Indonesia Merdeka

Namaku Ridho, saat itu usiaku masih 14 tahun. Tepatnya saat 17 Agustus 1945, bulan Ramadhan. Maka aku, ayah dan adikku keluar tempat tinggal  tanpa sarapan lantaran kami tengah menjalankan ibadah puasa. Kami ketika itu yang keluar tempat tinggal sekitar jam 09.00 pagi, tetapi tidak tidak bisa karena jalanan yang sangat sepi.

Sebetulnya diriku sekarang   sangat heran, namun aku  membisu dan akan terus berjalan mengikuti langkah ayahku. Ternyata, ayahku sudah membawa aku dan adikku menuju suatu tempat di Jalan Pegangsaan Timur angka  70. Disana banyaknya orang berkumpul, tentu saja itu membuat aku semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Disana juga ada sejumlah pemuda yang tengah berbaris rapi dan terlihat tamu undangan yg duduk rapi berdasarkan kumpulan kursi yg sudah disediakan.  Sedangkan waktu keluar tempat berkumpul itu, ada pula warga  berdasarkan dari berbagai kalangan. Hampir semua warga  yang berkumpul di tempat itu membawa bambu runcing, sekop, parang, dan jenis alat lainnya yang bisa dijadikan sebagai senjata.

Semua benda dibawa oleh mereka seakan-akan mereka ingin menunjukkan tekad mereka untuk berani meninggal demi bisa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Waktu itu, kami berjalan mendekat ke daerah tempat itu, maka semakin kentara terdengar seruan warga  yg sedang berteriak “Sekarang, Bung, Sekarang! Segera nyatakan dalam waktu ini, kini  pula bung”.

Tidak usang   kemudian, akhirnya berdasarkan tempat itu keluar 2 orang menggunakan kemeja putih rapihnya. Salah satu orang yang keluar itu membawa secarik kertas dan beliau sangat tegas, dia yg membacakan isi berdasarkan kertas isinya pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Mendengar bacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu diriku sangat terharu. Di usiaku yang ke 14 tahun ikut dan sebagai saksi bahwa negara tercinta sudah merdeka.(OL-4)

BERITA TERKAIT