06 April 2022, 15:11 WIB

Perlu Langkah Adaptif agar Media Cetak Bertahan di Masa Pandemi


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

MI/SUSANTO
 MI/SUSANTO
Direktur Pemberitaan Media Indonesia Gaudensius Suhardi menyampaikan paparan dalam diskusi yang digelar secara daring Studium Generale

DIREKTUR Pemberitaan Media Indonesia Gaudensius Suhardi mengatakan perlu langkah adaptif agar surat kabar atau media cetak bisa bertahan di tengah pandemi ini. Langkah yang diambil yakni menciptakan kanal digital baik di Youtube maupun media sosial lain serta memperluas kolaborasi.

"Langkah adaptif yang kami lakukan yakni Media Indonesia tidak lagi sekedar surat kabar tetapi kami sudah memasuki juga digital seperti mediaindonesia.com, e-paper Media Indonesia, dan juga masuk ke kanal-kanal digital seperti Youtube dan lainnya," kata Gaudensius Suhardi dalam Stadium Generale: Media Cetak Menunggu Sunset, Benarkah? secara daring dari ITB, Rabu (6/4).

"Bahkan menggelar Forum Group Discussion (FGD) tetap dilakukan lewat YouTube dan hasilnya bagus kok. Artinya memang kalau kita bekerja biasa-biasa saja tidak mencapai hasil yang maksimal. Tetapi kalau kita berada di bawah tekanan tidak bekerja biasa-biasa saja pasti hasilnya bagus," tambahnya.

Untuk tetap bertahan, Media Indonesia berkomitmen akan terus kreatif atau out of the box melakukan apa yang tidak biasa dilakukan orang lain. Ia mencontohkan berbagai program di media sosial yang bisa dinikmati masyarakat tidak hanya surat kabar.

Media Indonesia, kata Gaudensius, juga berkolaborasi dengan berbagai lembaga dan asosiasi antara lain dengan Asosiasi Tradisi Lisan sehingga setiap di hari Minggu. Setiap pekannya ada ada tulisan-tulisan menarik yang ditulis oleh ahli yang tergabung dalam ATL ada di seluruh Indonesia.

Baca juga: Frenemy Media Massa Konvensional dan Digital di Era Disrupsi

Bukan hanya itu, Media Indonesia juga berkolaborasi dengan diaspora NU di luar negeri. Setiap hari Sabtu terdapat 1 halaman untuk opini dari NU yang berada di luar negeri. Media Indonesia juga bekerja sama dengan PP Muhammadiyah dan setiap hari Rabu ada 1 halaman khusus untuk pemikiran Muhammadiyah.

"Bekerja sama dengan lembaga keagamaan itu disebutkan sebagai syiar kebajikan, tetapi dalam rangka membangun intelektualisme kami bekerja sama dengan ITB. Setiap hari Selasa menerbitkan Reka Cipta ITB," jelasnya.

"Rupanya pada pandemi ini tanpa kerja sama atau tidak ada kolaborasi maka (industri media cetak bisa bisa) mati, imbuhnya.

Media Indonesia, lanjutnya, mampu melewati padenmi dan hasilnya sangat memuaskan, tidak ada karyawan yang dirumahkan, hak-hak karyawan tidak dikurangi. Dan menunjukkan bahwa Media Indonesia sebagai perusahaan mampu menyejahterakan karyawannya.

"Dengan kata lain paling penting kalau kita memberi kami di sini juga memberi kan satu Hotel media Hotel khusus kami dedikasikan untuk seluruh tenaga kesehatan dan mereka tidur di Media Hotel dan ditanggung semua, memberi selalu mendapatkan hasil yang baik dan untuk memberi tidak harus kaya berbuatlah dari sekarang," pungkasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT