26 March 2022, 11:08 WIB

Mudik Lebaran, Masyarakat Juga Diingatkan Pandemi Belum Berakhir


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

ANTARA/Aprillio Akbar
 ANTARA/Aprillio Akbar
Ilustrasi mudik 

Pemerintah mengizinkan untuk mudik lebaran pada Idulfitri tahun ini dengan syarat agar setiap pemudik sudah melakukan vaksinasi reguler ditambah 1 kali dosis booster. Meski pemerintah sudah mengizinkan diharapkan masyarakat tidak terlalu bereforia mengingat pandemi ini belum usai.

"Tentu kita menyambut positif keputusan pemerintah yang mengizinkan mudik lebaran. Namun kebijakan ini jangan disambut secara berlebihan, masyarakat jangan bereforia. Apalagi kalau menganggap pandemi sudah berakhir, itu salah besar," kata Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo, Sabtu (26/3).

Rahmad mengatakan pandemi covid-19 masih jauh dari selesai, karena itu, asas kehati-hatian harus selalu dikedepankan. WHO hingga saat ini terus mewanti-wanti bahwa pandemi masih jauh dari selesai.

Indonesia juga harus berkaca dari kasus covid-19 yang terjadi di beberapa negara di Benua Eropa karena sejumlah negara di Eropa kasus positif covid-19 sudah melandai bisa kembali meledak jika ada mobilitas masyarakat dalam jumlah banyak. "Mungkin karena adanya tekanan publik, tekanan politik dan sosial budaya, banyak negara di Eropa yang melonggarkan aturan dan sangat terbuka. Bahkan ada yang tidak mewajibkan pemakaian masker di ruang publik, justru lihat sekarang, di sana terjadi ledakan. Ada yang kasus positif per hari hingga 200 ribu. Dan rumah sakit penuh kembali," bebernya.

Menambahkan contoh lain seperti di Korea Selatan, bahwa di negara tersebut saat ini telah menembus 10 juta kasus atau hampir 20 persen dari jumlah populasi negara tersebut. Membuat negara ginseng tersebut angka positifnya tertinggi di dunia. "Saya kira kasus di Eropa dan Korea Selatan harus jadi perhatian kita bersama. Kita tentu tidak mau setelah melandai seperti saat ini kemudian meledak lagi. Karena itu kita harus berhati-hati," katanya.

Selain itu, belajar dari gelombang sebelumnya bahwa jika prinsip kehati-hatian tidak diterapkan maka bisa memunculkan gelombang baru seperti yang terjadi ditahun sebelumnya.

Rahmad mengatakan agar tidak kebablasan, pada momentum lebaran ini seluruh warga tanpa kecuali harus benar-benar bertanggungjawab akan keselamatan dirinya, lingkungannya dan warga di tempat mudik. "Kita harapkan agar saat melakukan perjalanan mudik, masyarakat tetap menggunakan protokol kesehatan. Ini tidak boleh ditawar-tawar dan diimbau kepada masyarakat agar segera mengikuti program vaksinasi," katanya.

"Yang belum divaksin segera vaksin. Ayo, ikuti petunjuk pemerintah. Kalau memang harus booster, ya silahkan booster. Mulai dari sekarang carilah vasilitas booster," tambahnya.

Menurutnya, untuk mengendalikan covid-19, dibutuhkan kerja sama semua pihak termasuk masyarakat yang akan dikunjungi. Jelang musim mudik, warga harus kembali menggiatkan program kampung tangguhnya, menyiagakan satgas, RT, dan RW untuk saling mengingatkan agar tidak bereforia dan mewanti-wanti saudaranya untuk boster atau paling tidak minimal vaksin lengkap.

"Kalau ada saudara atau kerabat yang belum vaksin lengkap, warga hendaknya meminta agar yang bersangkutan tidak mudik. Ketegasan seperti ini perlu dibutuhkan. Tujuannya, ya untuk saling menjaga," pungkasnya. (OL-12)

BERITA TERKAIT