23 March 2022, 21:46 WIB

Riset dan Penelitian di Masyarakat Sipil Bisa Digunakan Sebagai Basis Kebijakan di Masa Pandemi 


Mediaindoensia.com | Humaniora

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Webinar membahas pelibatan komunitas dalam pengambilan kebijakan

BERBAGAI kajian tentang knowledge-to-policy (K2P) sering dimulai dari perspektif bahwa ada kesenjangan antara pengetahuan dan praktik, dan cenderung menggali pertanyaan "bagaimana penggunaan hasil penelitian (knowledge utilization) dapat ditingkatkan dalam proses penyusunan kebijakan?" dan "dalam keadaan apa hasil penelitian benar-benar digunakan?"   

Proses pengetahuan-ke-kebijakan tentu memiliki tantangan tersendiri seperti riset yang relevan dan advokasi yang berkelanjutan. Para produsen pengetahuan seperti think tanks memiliki peranan besar dalam menghasilkan informasi yang tepat sasaran dan strategis. 

“Perlu intervensi mengenai kesadaran akan pentingnya science. Kemudian, setelah science (sudah dianggap) penting, perlu ada intervensi agar masyarakat paham tentang literasi science. Intervensi bukan hanya untuk masyarakat umum tapi justru untuk para pemimpin, pembuat kebijakan. Ketidakpahaman mengenai science dan literasi science yang rendah mengakibatkan science dianggap tidak ada manfaatnya sehingga tidak punya kekuatan dalam membuat kebijakan.” kata Satryo Soemantrioo Brodjonegoro, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dalam webinar Pelibatan Pemerintah Indonesia dan Komunitas dalam Knowledge to Policy Selama Pandemi.

Ia menambahkan, dalam membuat kebijakan perlu mengunakan berbagai macam sumber. 

“Baik bersifat ilmiah atau scientific, maupun yang mempertimbangkan aspek demografi karena rakyatlah yang menjalankan kebijakan. Pembuatan kebijakan juga perlu mengedepankan hak asasi manusia agar mengena dan sesuai dengan masyarakat,” ujar Satryo. 

Lebih lanjut, Professor of Law and Regulation, School of Regulation and Global Governance, Australian National University (ANU), Veronica Taylor mengatakan, Indonesia adalah negara besar dengan sumber daya yang beranekaragam. Namun, hasil pembangunannya belum merata. 

"Di Australia, kami mengalami hal yang sama. Sumber-sumber daya ini harus bisa sama rata secara nasional sehingga kapasitas nasional bisa terangkat bersama. Di Australia, ketika sebuah lembaga menerima pendanaan riset, maka lembaga tersebut harus bekerja sama dengan daerah setempat di tempat kajian. Pemerintah harus bisa membagi berdasarkan karakter geografi. Indonesia punya talent yang bagus. Ini dapat diatur sehingga mitra kerja pemerintah bisa sama rata dan bisa berkolaborasi lebih baik.” kata Veronica.  

Baca juga : Miliki Super Immunity, Salah Satu Alasan Mudik Diperbolehkan 

Sebelumnya, Wakil Direktur Eksekutif, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Medelina K Hendytio, memaparkan bagaimana pengetahuan dan data digunakan oleh CSIS sesuai perannya sebagai think tank dalam mendukung Pemerintah menangani Pandemi Covid-19 terutama dalam hal mendorong masyarakat untuk patuh akan protokol kesehatan. 

Sementara itu, peneliti Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Miftah Fadhli menjelaskan, pihaknya menggunakan pendekatan K2P dalam riset dan advokasi yang digunakan ELSAM dalam mendorong perubahan kebijakan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dan RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP). 

Dari sisi advokasi kebijakan, Manajer Riset Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA) Badiul Hadi menjelaskan, Seknas FITRA memastikan penggunaan pengetahuan dalam advokasi kebijakan, baik ke pemerintah Nasional maupun daerah terutama terkait realokasi dan refocusing anggaran untuk merespon pandemi. 

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Institute for Research and Empowerment (IRE) Dina Mariana memaparkan, IRE menggunakan pengetahuan lokal dan hasil riset dalam mendorong adanya kebijakan yang inklusif berbasis pengetahuan terkait isu ketahanan desa. 

Menurutnya, dalam situasi pandemi Covid-19, pendekatan yang dilakukan kepada masyarakat tidak hanya aspek kesehatan dan ekonomi namun juga aspek budaya dan sosial. Informasi yang memengaruhi kebijakan publik perlu bersifat multidisiplin dan berasal dari multiaktor. 

Sementara itu, dari sisi perlindungan data pribadi, diperlukan regulasi yang tepat dalam melindungi data pribadi masyarakat. Seperti dalam aplikasi kesehatan Peduli Lindungi. Sebaiknya tujuan aplikasi lebih fokus pada kesehatan dan tidak digunakan atau terintegrasi dengan layanan lainnya seperti untuk e-commerce atau perbankan sehingga tidak melanggar prinsip perlindungan data pribadi. 

"Tidak hanya itu, pondasi demografi menjadi hal yang penting dalam perumusan kebijakan untuk mendorong pemerintah yang responsif dan membangun inisiatif warga. Perlu arena dan afirmasi yang memberi ruang untuk partisipasi yang dibutuhkan masyarakat. Hal itu menjadi pembelajaran untuk mendorong warga yang aktif dan pemerintah yang responsif," pungkasnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT