14 March 2022, 23:10 WIB

Prosesi Kendi Nusantara, Ini Keistimewaan Air dan Tanah yang Diberikan ke Presiden


Zubaedah Hanum | Humaniora

BPCB Kaltim
 BPCB Kaltim
Istana Kesultanan Kutai Kartanegara, Kaltim, yang kini difungsikan menjadi Museum Tenggarong (Mulawarman).

PROSESI Kendi Nusantara bersama Presiden Joko Widodo di Titik Nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, pada Senin (14/3), menyatukan air dan tanah dari penjuru negeri.

Air dan tanah itu diambil dari sejumlah tempat istimewa. Beberapa di antaranya memiliki sejarah panjang yang jarang diungkapkan. Berikut ini kisahnya.

1. Desa Kutai Lama dan Museum Tenggarong, Kaltim

Sebagai tuan rumah, Gubernur Kaltim Isran Noor menjadi yang paling terakhir menyerahkan tanah dan air ke Presiden Joko Widodo, dari seluruh gubernur se-Indonesia.
 
Tanah dan air yang diserahkan oleh Gubernur Kaltim ke Presiden RI diambil dari dua daerah, yakni dari Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Paser.

Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setprov Kaltim M Syafranuddin mengungkapkan, pengambilan tanah dan air dilakukan berdasarkan sejarah. Tanah dan air dari Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) diambil dari Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara dan dari Museum Tenggarong (Mulawarman), kemudian dari Kabupaten Paser.
 
Untuk airnya diambil dari Sungai Cermain. Sementara tanah di ambil di seputar area komplek makam raja. Lalu ditutup lagi dengan pengambilan air di Tepian Batu atau Dermaga Kutai Lama.

Berdasarkan sejarah, tutur dia, Desa Kutai Lama tahun 1.300 merupakan pusat Pemerintahan Kutai Kartanegara selama 4 abad sejak tahun 1300. Pendirinya, Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti memindahkan pusat pemerintahan ke Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, dan kini terakhir di Tenggarong.

Sedangkan, Museum Mulawarman pada mulanya adalah istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Nama Mulawarman diambil dari sosok rajanya yang terkenal.

Menurutnya, tanah dan air dari dua kabupaten ini ( Kutai Kartanegara dan Paser) sebagai simbol dari semua kesultanan dan suku di Kaltim, dalam mendukung pemindahan IKN Nusantara ke Kaltim.
 
Tanah dan air tersebut diambil secara ritual adat dan mendapat dukungan Kesultanan Kutai Kartanegara dan Kesultanan Paser, dibungkus dengan kain kuning yang merupakan ciri khas kesultanan di Kaltim.
 
Kemudian dibawa menggunakan anjat, tas seperti ransel yang berbentuk bundar dan terbuat dari rotan. Anjat adalah kerajinan anyaman khas Suku Dayak di Kaltim.
 
Bentuk anjat menyerupai tabung dengan tinggi sekitar 70 cm (centimeter), garis tengah lingkaran atas maupun bawah sekitar 50 cm.
 
Anjat digunakan untuk membawa benda atau hasil bumi. Sedangkan penggunaan anjat dalam prosesi hari ini juga sebagai lambang dukungan warga Dayak Kaltim terhadap IKN yang disatukan dengan semangat pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan kesultanan di Kaltim.
 
2. Kesultanan Bulungan, Kaltara

Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Zainal Arifin Paliwang menyerahkan tanah dan air dari Kesultanan Bulungan saat mengikuti Prosesi Kendi Nusantara bersama Presiden Joko Widodo.

Tanah dari Kesultanan Bulungan berasal dari Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Untuk airnya, diambil dari Sungai Kayan yang merupakan salah satu sungai terbesar di Kaltara. Sedangkan air kedua berasal dari sumber mata air garam dari gunung di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan.

Dilansir dari laman indonesiakaya.com, Kesultanan Bulungan pada masanya merupakan salah satu kesultanan (dulunya kerajaan) besar dimana wilayah kekuasaannya mencangkup wilayah pesisir di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan.

Kesultanan Bulungan ini berdiri pada abad ke-16 dan meraih kejayaannya pada periode 1771-1938 Masehi. Di masa jayanya itu, Kesultanan Bulungan tidak memungut pajak kepada masyarakat. Kesultanan Bulungan ini bahkan menjadi salah satu kerajaan terkaya di Hindia Belanda. Salah satu penyumbang kekayaan terbesarnya ialah dari sumur minyak yang berasal di Tarakan.

Pada saat bergabung dengan Negara Republik Indonesia melalui Konvensi Malinau pada tanggal 7 Agustus 1949, wilayah Bulungan ditetapkan sebagai salah satu daerah istimewa.

3. Istana Damnah, Pulau Penyengat, Kepri

Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad membawa tanah dari Daik-Lingga dan air dari Pulau Penyengat-Tanjungpinang kepada Presiden Jokowi.

"Sesuai masukan dan saran dari para tetua adat di Kepri, kita putuskan membawa 2 kilogram tanah yang diambil dari Daik, dan 1 liter air sumur dari Balai Adat Pulau Penyengat," kata Gubernur Ansar Ahmad.

Alasan mengambil tanah yang diambil dari Daik karena berada di lokasi struktur cagar budaya bekas tapak Istana Damnah yang dibangun pada tahun 1860 semasa Kesultanan Lingga-Riau Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II (1857-1883), serta dibantu oleh yang Dipertuan Muda Riau X Raja Muhammad Yusuf Al – Ahmadi beserta Pemaisurinya (isteri) Tengku Embung Fatimah.

Tanah yang dibawa diambil lokasi tepat di Balai Bertitah (Singgasana) tempat Balai Pemerintahan Sultan yang merupakan Balai Bagian Bekas Istana Sultan Lingga-Riau terakhir di Daik.

Sesuai sejarah, katanya, Istana Damnah tahta pemerintahannya ketika itu diteruskan oleh Tengku Embung Fatimah (1883-1883) sebagai pemerintahan sementara sampai dinobatkannya Anandanya Raja Abdul Rahman menjadi Sultan Lingga-Riau pada Tahun 1875 dengan gelar Sultan Abdulrahman Muazzam Syah (1885-1991) yang merupakan Sultan Lingga-Riau terakhir.

"Berdasarkan sejarah, sumber tanah yang kita bawa ini sangat erat kaitannya dengan sejarah dan nilai-nilai leluhur Melayu di Kepri," jelas Ansar.

Adapun alasan membawa air dari sumur Balai Adat Pulau Penyengat, menurutnya, dikarenakan banyak yang mengatakan bila seseorang ke Tanjungpinang, Kepri, belum lengkap jika belum bertandang ke Pulau Penyengat serta minum atau sekedar cuci muka menggunakan air di pulau tersebut.

Bahkan saat ini situs-situs bersejarah yang ada di Pulau Penyengat sedang diusulkan kepada UNESCO (Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan) untuk menjadi situs warisan dunia.

Sumur yang dimaksud oleh Gubernur Ansar tersebut hanya memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter. Meski demikian tidak pernah kering sepanjang tahun walaupun di musim kemarau.

Selain itu, air sumur yang ditemukan sejak abad ke-16 itu tidak masin seperti kebanyakan sumber air yang berada dekat laut, walaupun sumur tersebut terletak hanya sekitar 30 meter dari pantai. (Ant/H-2)

BERITA TERKAIT