04 March 2022, 23:05 WIB

Ribuan Spesies Terancam Punah, Masyarakat Diajak Selamatkan Satwa Liar


Atalya Puspa | Humaniora

Antara
 Antara
Kura-kura kaki gajah (Manouria emys) merupakan salah satu satwa liar yang terancam punah.

HARI Satwa Liar Sedunia (World Wildlife Day/WWD) baru saja diperingati pada 3 Maret lalu. Tahun ini, WWD mengangkat tema Recovering Key Species for Ecosystem Restoration.

Berkaitan dengan itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Alam dan Ekositem Wiratno mengajak semua pihak untuk bersama menyelamatkan keberadaan satwa liar, khususnya yang berada di ambang kepunahan.

Menurut data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species, lebih dari 8.400 spesies fauna dan flora liar terancam punah, sementara hampir 30 ribu lainnya dianggap terancam punah atau rentan. Berdasarkan perkiraan ini, diperkirakan lebih dari satu juta spesies terancam punah.

"KSDAE minta untuk seluruh komponen masyarakat, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk membantu selamatkan satwa liar dan lindungi habitatnya, yang secara tidak langsung juga bantu jaga hutan, sumber air, erosi, banjir. Semuanya kembali untuk masyarakat," kata Wiratno saat dihubungi, Jumat (4/3).

Wiratno membeberkan, saat ini sebanyak 27 ribu desa di Indonesia berbatasan dengan kawasan hutan negara. Selain itu, 6.474 desa berada di kawasan konservasi. Dengan kondisi tersebut, manusia harus mengupayakan segala cara agar bisa hidup harmonis berdampingan dengan alam tanpa menimbulkan konflik.

"Itu memang tantangan untuk menyeimbangkan hubungan antara manusia dan wildllife. Tapi itu memang harus menjadi bagian dari mainstreaming biodiversity. Mengarusutamakan sebagai bagian dari kita membuat strategi pembangunan," kata dia.

Dalam hal ini, KLHK terus mencari pemodelan yang tepat agar kehidupan di alam bisa berjalan beriringan dengan aktivitas perekonomian manusia. Upaya yang dilakkukan yakni dengan pembangunan ekonomi dan ekologi yang diseleraskan serta perlu adaptasi manusia untuk bisa terbiasa hidup dengan alam. Salah satu langkah konkret ialah dengan membangun ecotourism.

"Salah satunya yang sudah berjalan baik ialah di wilayah Tangkahan. Di sana konservasi gajah dikelola pihak pariwisata Tangkahan. Di zaman normal turisnya bisa mencapai 5.000 hingga 6.000 dan penghasilan Rp15 miliar sampai Rp20 miliar," cerita Wiratno.

Executive Director UN Environment Programme Inger Andersen mengungkapkan, hilangnya spesies, habitat, dan ekosistem yang terus berlanjut juga mengancam semua kehidupan di bumi, termasuk kita.

Orang di mana pun bergantung pada satwa liar dan sumber daya berbasis keanekaragaman hayati untuk memenuhi semua kebutuhan kita, mulai dari makanan, bahan bakar, obat-obatan, perumahan, dan pakaian. Jutaan orang juga mengandalkan alam sebagai sumber mata pencaharian dan peluang ekonomi mereka.

"Jadi pada hari satwa liar sedunia mari berkomitmen untuk mengatasi banyak ancaman yang dihadapi satwa liar mari manfaatkan daratan dan laut dengan lebih baik sehingga kita tidak mengikis ruang liar," ungkapnya.

Lebih jauh, ia juga mengajak masyarakat dunia untuk mengatasi perubahan iklim dan polusi yang keduanya merupakan ancaman bagi semua kehidupan di planet ini mari kita manfaatkan sumber daya alam yang berkelanjutan sehingga satwa liar dan ruang yang mereka huni benar-benar tumbuh subur.

"Dengan demikian mari kita hentikan perdagangan satwa liar ilegal yang menelan biaya antara tujuh hingga US$23 miliar dolar setiap tahun," tegasnya.

"Oleh karena itu, pada tahun 2022, Hari Margasatwa Sedunia akan mendorong perdebatan ke arah kebutuhan mendesak untuk membalikkan nasib spesies yang paling terancam punah, untuk mendukung pemulihan habitat dan ekosistem mereka dan untuk mempromosikan pemanfaatan berkelanjutan mereka oleh umat manusia," pungkasnya. (H-2)

 

BERITA TERKAIT