23 February 2022, 21:41 WIB

Kurikulum Merdeka Dinilai Hanya Fokus pada Metode Pembelajaran 


Mediaindonesia.com | Humaniora

Dok.Pribadi
 Dok.Pribadi
Pengamat pendidikan dari Gerakan Sekolah Menyenangkan Muhammad Nur Rizal

PEMERHATI pendidikan dari Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal menyebut karakteristik utama dari Kurikulum Merdeka hanya fokus pada metode pembelajaran. 

“Karakteristik utama Kurikulum Merdeka terlihat hanya fokus pada metode pembelajaran yang diterjemahkan dalam penguasaan mata pelajaran saja,” ujar Rizal dalam webinar yang dipantau di Jakarta, Rabu. 

Kurikulum Merdeka diluncurkan Menteri Pendidikan, Kebudayaa, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim pada pertengahan Februari 2022. Kurikulum yang semula bernama Kurikulum Prototipe tersebut memiliki beberapa karakteristik utama yang mendukung pemulihan pembelajaran. 

Karakteristik utama tersebut yakni pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan kompetensi teknis dan karakter, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, serta fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid dan melakukan penyesuaian dengan konteks serta muatan lokal. 

Meskipun demikian, lanjut dia, dalam Kurikulum Merdeka strategi pembelajaran berbasis proyek menjadi satu-satunya strategi yang ditekankan dalam pengembangan karakter siswa. 

Baca juga ; Kemenkominfo dan Siberkreasi Tingkatkan Kemampuan Podcasters Generasi Muda

“Kalau di GSM sendiri, dilakukan di semua area perubahan. Di lingkungan sekolah, penguatan empati, interaksi, hingga keterhubungan sosial,” terang dia. 

Dalam struktur Kurikulum Merdeka, sekitar 20 persen hingga 30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis proyek. Pembelajaran berbasis proyek itu memberi kesempatan siswa untuk belajar melalui pengalaman, mengintegrasikan kompetensi yang penting yang dipelajari siswa, dan struktur belajar yang fleksibel. 

Dia meminta Kemendikbudristek melakukan sosialisasi agar penerapan kurikulum tersebut benar-benar diterapkan seperti tujuan awal. 

“Pada Kurikulum 2013 sebenarnya setiap mata pelajar juga berorientasi pada proyek, karena terkait satu sama lain. Kalau benar cara pelaksanaannya, cuma asumsi  sejak awal maka menjadi tidak efisien dan efektif,” imbuh dia. 

Bagi GSM sendiri, lanjut dia, adanya Kurikulum Merdeka tidak terlalu berpengaruh karena fokus dari GSM adalah pada pembentukan ekosistem sekolah yang baik, yang mana guru saling belajar satu sama lain tanpa harus mengeluarkan anggaran yang besar. (Ant/OL-7)

BERITA TERKAIT