23 February 2022, 17:27 WIB

Pola Sirkulasi Angin Terpantau di Perairan NTT, Ini Analisis BMKG


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

Antara
 Antara
Ilustrasi awan hitam yang menyelimuti wilayah Indonesia bagian timur.

TROPICAL Cyclone Warning Center (TCWC) BMKG secara khusus melakukan pemantauan kondisi dinamika atmosfer, yang dapat berpotensi menjadi siklon tropis dan berdampak pada kondisi cuaca di sekitar wilayah Indonesia. 

Berdasarkan analisis pada Rabu (23/2) ini, terpantau adanya pola sirkulasi angin yang dipicu daerah pola tekanan rendah di sekitar Laut Timor sebelah selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dari pantauan citra satelit cuaca Himawari-8, di wilayah sekitar sistem sirkulasi itu terlihat adanya pumpunan awan konvektif yang bertahan dalam 12 jam terakhir. Namun, belum terorganisir dengan baik membentuk sistem dengan pola sirkular.

Baca juga: BMKG Ingatkan Perubahan Iklim Akibatkan Krisis Air Bersih

"Hasil analisis angin per lapisan menunjukkan adanya pola sirkulasi pada lapisan bawah hingga menengah. Namun masih cukup melebar," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan resmi, Rabu (23/2).

Pembentukan pola sirkulasi angin dipicu oleh terbentuknya area tekanan rendah dan diperkuat dengan faktor konvektifitas udara yang signifikan di wilayah timur Indonesia. Itu sebagai dampak dari aktifnya fenomena gelombang atmosfer, yaitu MJO (Madden Julian Oscilation), Gelombang Kelvin, serta Gelombang ER (Equatorial Rosbby) di wilayah timur Indonesia. 

Data model prediksi BMKG menunjukkan bahwa pergerakan sistem sirkulasinya menuju ke arah selatan hingga barat daya. Serta, menjauhi wilayah Indonesia. Potensi sistem sirkulasi itu untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam periode 24 jam ke depan.

Baca juga: Penyebab Bencana Cuaca Buruk bukan hanya Perubahan Iklim

Lalu, masih berada dalam kategori rendah dengan potensi peningkatan sirkulasi yang semakin terorganisir untuk periode 72 jam ke depan. "Suatu kriteria bahwa Bibit Siklon dapat dikatakan meningkat menjadi Siklon Tropis, apabila kecepatan angin maksimum di sekitar sistemnya mencapai minimal 35 knot (65 km/jam)," jelas Guswanto.

Keberadaan sistem sirkulasi dapat membentuk daerah pertemuan dan belokan angin di wilayah Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, sebagian Jawa-Bali, NTB dan NTT. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah pusat tekanan rendah, sepanjang daerah pertemuan dan belokan angin tersebut.

Dalam 24 jam ke depan, pola sirkulasi angin dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan gelombang di wilayah Indonesia. Berikut, potensi hujan sedang-lebat disertai kilat/petir/angin kencang yang dapat berdampak pada potensi bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah. Seperti, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Maluku.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT