23 February 2022, 07:45 WIB

BRIN Resmikan Infrastruktur Strategis Riset Kelautan Modern


Faustinus Nua | Humaniora

dok.brin.go.id
 dok.brin.go.id
Logo Badan Riset dan Inovasi Nasional 

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Oseanografi meresmikan Laboratorium Terpadu Riset Oseanografi (LATERIO) di Kawasan Ancol, Jakarta Utara,  Selasa (22/2). Gedung itu menjadi faslitas infrastruktur strategis riset kelautan modern dengan mengusung konsep open laboratory dan coworking space

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, mengungkapkan bahwa pihaknya berkomitmen membangun ekosistem riset nasional yang didukung oleh SDM unggul, infrastruktur riset terbuka dan pendanaan riset yang kompetitif. Terkait infrastruktur riset, BRIN mengusung kebijakan open laboratory agar investasi yang dilakukan membawa manfaat seluas-luasnya bagi para periset, akademisi dan mahasiswa di seluruh Indonesia secara berkelanjutan.

”Investasi tersebut ditujukan untuk mendorong kolaborasi dan hasil-hasil riset kelas dunia di bidang kelautan,” tutur Handoko dalam keterangannya, Rabu (23/2).

Dikatakan Handoko, salah satu platform riset global yang dicanangkan oleh BRIN adalah digital green dan blue economy. Dan riset ilmu kelautan melalui pengungkapan keanekaragaman hayati dan perubahan iklim memegang peran penting bagi negara kepulauan Republik Indonesia.

“Sebagai open laboratory untuk mendukung riset kolaboratif di Indonesia dan regional, fasilitas BRIN tersebut terbuka bagi para periset, akademisi dan mahasiswa di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Gedung LATERIO dilengkapi dengan fasilitas Laboratorium Instrumentasi Terpadu dan empat belas laboratorium preparasi untuk mendukung berbagai disiplin dalam ilmu kelautan. “Laboratorium Instrumentasi Terpadu disiapkan sebagai hub atau pusat bagi platform E-layanan Sains ( ELSA) BRIN di Kawasan Ancol,” sebut Handoko.

Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Kebumian BRIN, Ocky Karna Radjasa menyampaikan bahwa pembangunan Gedung LATERIO selesai pada 2020-2021. Gedung itu disiapkan sebagai regional hub untuk riset kelautan dan sebagai walidata nasional untuk ekosistem terumbu karang dan lamun.

“Ini sebagai walidata nasional dengan berbagai instrumen analisis laboratorium yang rutin digunakan oleh para periset lintas disiplin dalam ilmu kelautan,”tuturnya.

Menurut Ocky, yang menjadi perhatian saat ini adalah terpasangnya alat automated digital microscope yang pertama di BRIN. “Mikroskop lainnya seperti trinocular stereo microscope, trinocular compound microscope with phase contrast, dan fluorescence microscope, serta instrumentasi fluorescence imaging system untuk mendukung berbagai penemuan keragaman hayati laut Indonesia,” ungkap Ocky.

Selain itu, LATERIO dilengkapi dengan instrumentasi inductively coupled plasma – optical emission spectrometer, mercury analyzer, graphite furnace atomic absorption spectrometer, Fourier transform infrared spectrometer, gas chromatography–mass spectrometry, autoanalyzer dan microbalance. Dan instalasi berbagai instrumentasi laboratorium lainnya (raman spectrometer, scanning electron microscope, total organic content analyzer, particle size analyzer, colony counter, microplate spectrophotometer, accelerated solvent extractor).

Adapun, gedung delapan lantai itu memperoleh pendanaan Hibah Luar Negeri program Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI). Hibah itu didanai oleh Bank Dunia, dengan investasi sebesar Rp73 miliar untuk gedung dan Rp49,5 miliar untuk mendukung sistem dan instrumentasi laboratorium serta interior kantor. (OL-13)

Baca Juga: BMKG Ingatkan Perubahan Iklim Akibatkan Krisis Air Bersih

BERITA TERKAIT