21 February 2022, 13:31 WIB

Wamen LHK: Persoalan Sampah Harus Menjadi Perhatian Utama Semua Pihak


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

ANTARA FOTO/Nyoman Hendra W
 ANTARA FOTO/Nyoman Hendra W
Upaya penanganan sampah

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyinergikan program pengelolaan sampah, pengendalian perubahan iklim di program kampung iklim (Proklim) dan perhutanan sosial dalam Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Alue Dohong mengatakan peringatan hari sampah nasional memberikan arti penting untuk mengingatkan semua pihak bahwa persoalan sampah harus menjadi perhatian utama, dengan upaya-upaya penanganannya melibatkan seluruh komponen.

"Meliputi pemerintah, pemerintah daerah, akademisi, aktivis, komunitas, dunia usaha, asosiasi profesional dan individu, sampah berada diantara kita semua dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada sumber dari segala tempat tertama rumah tangga, industri, pasar-pasar dan dari berbagai aktivitas manusia lainnya," kata Alue dalam sambutan virtual pada peringatan Hari Sampah Nasional 2022, Senin (21/2).

Dia menyebut sampah menjadi persoalan yang sangat serius dan multidimensi sehingga keterlibatan seluruh komponen masyarakat jadi penting dan resonansi kepedulian persoalan sampah secara terus menerus sangat diperlukan.

"Sampah juga menjadi salah satu sumber yang menyebabkan kondisi lingkungan menjadi menurun kualitasnya, bukan hanya karena secara estetika tetapi lebih penting lagi karena sampah merupakan salah satu sektor sumber emisi gas rumah kaca yang berbahaya bagi kerusakan atmosfer dan memberikan dampak buruk bagi kehidupan," sebutnya.

Baca juga: Anies: RDF Plant Bisa Jadi Solusi Pengelolaan Sampah Terpadu

Menurutnya, pemahaman tentang perubahan iklim telah menjadi perhatian bangsa-bangsa di dunia dan menjadi persoalan yang dianggap sangat serius, bahkan isu perubahan iklim menjadi trigger bersama negara di dunia untuk mengonsolidasi strategi pembangunan dengan konsep ramah lingkungan atau rendah emisi.

"Saat ini negara-negara di dunia dan juga Indonesia yang menyiapkan visi pembangunan net zero emission atau yang lebih dikenal dengan Long Term Strategy-Low Carbon Climate Resilience (LTS-LCCR) dalam upaya pemenuhan komitmen konferen si paris agreement," terangnya.

Indonesia juga memiliki tanggung jawab untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yang tertuang didalam NDC atau Nationally Determined Contributions pada 2030 sebesar 29% atau 41% dengan dukungan teknologi dan investasi internasional.

"Indonesia memastikan sektor kehutanan pada tahun 2030 juga akan mencapai emisi gas rumah kaca yang rendah sampai kondisi net zero yang ditegaskan dalam program nasional," ujarnya.

Dia memastikan paralel dengan itu, penurunan emisi gas rumah kaca dan sektor persampahan juga sangat penting karena akan terkait dengan upaya menahan gas buang melalui sistem pengelolaan siklik/rantai, sehingga tidak ada material terbuang menjadi gas; juga dalam hal posisinya sebagai substitusi energi, energi alternatif dari sampah menjadi listrik; serta sampah organik menjadi pupuk; dan sampah sebagai bahan baku industri.

"Jelas bahwa upaya-upaya pengelolaan sampah yang dilakukan menjadi bagian penting dari upaya menurunkan emisi GRK," tuturnya.

Peringatan dan semangat HPSN sejak awal hingga saat ini, senantiasa berlangsung dalam tema-tema membangun kesadaran publik dalam upaya pengurangan dan pengelolaan sampah.

"Fakta yang sangat menggembirakan, partisipasi elemen masyarakat sangat luar biasa baik dan membanggakan. Kesadaran semua pihak telah menghasilkan cukup banyak kebaikan, inisiatif, kreativitas dan sangat-sangat positif dalam ­upaya pengelolaan sampah," ujarnya.

Kini, sudah saatnya platform HPSN dapat bergeser kepada aktualisasi produktivitas masyarakat, melalui upaya-upaya pencegahan dan pengendalian penanganan sampah yang dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengembangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Selain itu juga, pengelolaan sampah diharapkan dapat mulai memberikan dampak positif terhadap upaya pengendalian perubahan iklim dalam rangka penyelamatan bumi.

Sampah merupakan salah satu sektor yang memberi kontribusi dalam peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Jumlah signifikan gas metan yang dihasilkan dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah mengambil peran besar dalam menciptakan efek gas rumah kaca.

Selain itu, masih adanya aktivitas pengelolaan sampah yang salah seperti pembakaran terbuka dan pembuang­an sampah secara sembarangan/illegal, serta kurang maksimalnya pengolahan sampah seperti tidak adanya pemanfaatan gas metan di TPA dan daur ulang sampah kertas yang masih minim.(OL-5)

BERITA TERKAIT