16 February 2022, 20:03 WIB

Pusat Penyebaran Covid-19 akan Bergerak ke Luar Jawa 


Andhika Prasetyo | Humaniora

Antara/Dhedhez Anggara
 Antara/Dhedhez Anggara
Petugas kesehatan melakukan tes PCR kepada warga di Indramayu, Jawa Barat

PEMERINTAH memprediksi, dalam dua pekan ke depan, pusat penyebaran omikron di Tanah Air akan bergeser dari DKI Jakarta menuju provinsi-provinsi lain di Jawa dan luar Jawa. 

Proyeksi tersebut didasarkan pada data yang menunjukkan bahwa angka penambahan kasus harian di ibu kota yang mulai menurun dalam beberapa hari terakhir. Sebaliknya, jumlah pasien positif di luar DKI Jakarta justru meningkat. 

"Kemarin episentrumnya di Jakarta kemudian bergeser ke Jawa Barat. Tentu dalam dua atau tiga minggu ke depan bisa ke luar Jawa," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai mengikuti sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (16/2). 

Guna mengantisipasi hal itu, pemerintah pun telah melakukan sejumlah langkah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas jangkauan telemedisin guna membantu pasien yang menjalani isolasi mandiri (isoman). 

Sebelumnya pelayanan telemedisin dan pengiriman obat hanya diperuntukan bagi pasien-pasien isoman di Jabodetabek. Ke depan, program tersebut akan diperluas sampai ke Bandung Raya, Semarang dan Surabaya Raya, bahkan luar Jawa. 

Baca juga : KSP: Pemerintah Terus Perkuat Sistem Kesehatan Nasional

Pemerintah juga akan memastikan ketersediaan tempat tidur, oksigen dan obat-obatan juga terus terjaga. 

"Pemerintah sudah mendorong berbagai hal, seperti dengan pelayanan telemedisin dan ketersediaan obat. Bagi pasien tanpa gejala dan gejala ringan bisa isolasi mandiri di rumah. Jika tidak bisa ke lokasi isolasi terpadu," sambung Airlangga. 

Sebagaimana diketahui, pada 15 Februari lalu, kasus positif covid-19 bertambah 57.049 orang. Angka tersebut melampaui jumlah kasus harian tertinggi pada masa gelombang delta Juli 2021 lalu yang mencapai 56.757 orang. 

Kendati demikian, tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit (bed occupancy rate/BOR) masih terbilang rendah yakni hanya 33,41%. Pada periode gelombang delta tahun lalu, BOR sempat mencapai 90%. 

"Jadi ini yang membedakan omikron dengan delta. Tentu pemerintah berharap masyarakat untuk tetap waspada dalam menjaga agar transmisinya tidak terlalu meningkat," tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT