15 February 2022, 11:35 WIB

Kurangi Limbah Makanan Laut dengan Inovasi Pengolahan Ikan


Faustinus Nua | Humaniora

Ist/www.wso-site.com
 Ist/www.wso-site.com
Peneliti dari Chiang Mai University Division of Product Development Asst. Prof. Rajnibhas Sukeaw Samakradhamrongthai, Ph.D.

PENELITI dari Chiang Mai University Division of Product Development Asst. Prof. Rajnibhas Sukeaw Samakradhamrongthai, Ph.D, menyebut bahwa konsumsi ikan di dunia mengalami kenaikan mencapai 122% selama kurun waktu 1990-2018.

Hal ini disebabkan masyarakat dunia kini semakin banyak yang menyadari bahwa ikan dan produknya memainkan peran penting dalam pangan dan ketahanan gizi di seluruh dunia.

“Peningkatan perhatian diberikan pada ikan sebagai sumber nutrisi penting dalam makanan, tidak hanya protein bernilai tinggi, tetapi yang lebih penting juga sebagai sumber unik mikronutrien dan asam lemak omega-3 rantai panjang,” ujar Rajnibhas dalam keterangannya seperti dikutip dari laman Unpad dari Kuliah Umum Fakultas Perikanan dan Kelautan Unpad, Selasa (15/2).

Seiring meningkatnya angka konsumsi ikan turut pula meningkatkan jumlah limbah makanan laut. Namun, ternyata limbah olahan makanan laut memiliki sejumlah manfaat yang bisa dikembangkan.

Baca juga: Pakar Anjurkan Konsumsi Air Berkualitas dari Sumber Berkelanjutan

“Kita bisa menganalisis nutrien komponen utama dari limbah pengolahan makan laut. Dapat dilihat bahwa limbah makanan laut memiliki berbagai nutrien yang bermanfaat contohnya seperti kalsium, potasium, sodium, nitrogen nitrat, dan nutrien-nutrien lainnya,” paparnya.

Untuk itu, ia mendorong agar limbah makanan laut sebaiknya jangan dibuang. Pengolahan yang tepat akan menghasilkan produk berguna. Melalui reaksi biokonversi atau metode biologis yang memisahkan komponen makanan, pengembangan produk dari limbah makanan laut dapat dilakukan.

Rajnibhas menyampaikan beberapa inovasi dalam pengolahan ikan dan produk ikan. Salah satunya pembuatan yudong dari ekstrak sisik ikan, marshmallow dari gelatin ikan, hingga cashew nut cookies menggunakan tepung yang terbuat dari tulang ikan nila.

“Mengapa kita perlu menambahkan bahan-bahan dari produk ikan ke dalam produk? Karena konsumen mencari sifat produk yang mereka sukai dan nilai gizi yang mereka butuhkan, selain itu kita dapat memanfaatkan lebih dalam bidang perikanan,” tandasnya.(Van/OL-09)

BERITA TERKAIT