12 February 2022, 00:08 WIB

Tingkatkan Profesional, Dosen Dituntut Mampu Menulis Jurnal Ilmiah


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
Acara Teras LPPM ATVI  bertema “Menulis Ilmiah Semudah Update Status” melalui zoom.

PARA dosen dituntut untuk lebih meningkatkan profesional dalam mengajar dan mampu menulis karya ilmiah,baik untuk jurnal maupun media lainnya. Karena itu, kegiatan mengajar dan meneliti harus jadi kesatuan setiap dosen.

Sayangnya, selama ini para dosen masih mengutamakan mengajar, bukan meneliti dan menulis. Alasannya bermacam-macam, yang paling umum adalah tidak ada waktu.

Dosen dan peneliti, Dr. Widodo, mengatakan hal itu saat menjadi  narasumber pada acara Teras LPPM ATVI (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat–Akademi Televisi Indonesia) bertema “Menulis Ilmiah Semudah Update Status” melalui zoom yang dapat diikuti via kanal Youtube LPPM ATVI, Jumat malam (11/2).

Karena itu, Widodo mendorong para dosen untuk giat menulis karya ilmiah, terutama di jurnal yang terindeks Sinta (Science and Technology Index), juga Scopus (publikasi ilmiah internasional).

“Saya yakin para dosen mampu, hanya saja belum konsentrasi untuk menulis. Langkah paling mudah pelajari artikel yang ada dalam jurnal-jurnal, dan pelajari kriteria jurnal yang ada sehinga tulisan kita mudah diterima,” katanya.

Cara membaca dan mempelajari jurnal yang ada, menurut Widodo, akan menghilangkan persepsi atau stigma bahwa menulis jurnal itu sulit.

"Padahal kalau kita jeli membacanya, mungkin kita akan menilai tulisan yang ada di jurnal itu biasa. Jadi, ya memang harus mulai menulis,” ujar Widodo.

Dalam acara yang dipandu Ketua LPPM ATVI, Dr. Ratih Damayanti ini, Widodo mengingatkan, jangan memaksakan diri menggunakan metode yang tidak kuasai, pilih kualitatif atau kuantitatif.

Bagi yang suka angka, ya pilih kuantitatif. Rumpun ilmu sosial cendrung kualitatif. Jadi kita harus sadari kita berada di rumpun ilmu yang mana.

“Tapi bisa jadi rumpun ilmu social didisain dengan metode kuantitatif, misal kasus kekerasan dalam rumah tangga  (KDRT) atau kasus-kasus hukum lainnya . Jika ini bisa, sangat baik,” kata Widodo yang sudah menulis enam buku di antaranya, Metodologi Penelitian Populer & Praktis yang dicetak ulang tiap tahun sejak 2017.

Acara Teras LPPM ATVI berlangsung setiap dua minggu denganmenghadirkan narasumber dosen-dosen ATVI dan juga selingan dosen dari perguruan tinggi lain.

Acara ini merupakan kolaborasi antara LPPM ATVI dengan TBM Bukit Duri Bercerita, Mastepedia, dan didukung oleh dua penerbit, Prenada Jakarta dan Matapadi Yogya.

Dua penanya yang dinilai cukup baik akan mendapat hadian buku dari penerbit.

Lebh lanjut Widodo mengatakan, peradaban yang terus berubah dengan cepat yang didorong oleh perkembangan teknologi informasi yang sangat masif dengan anak kandungnya sosial media memerlukan respons cepat dari kalangan perguruan tinggi dalam bentuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). 

Dalam realitasnya, pengembangan iptek tidak akan dapat berjalan dan berlangsung dengan baik tanpa adanya penelitian. Inilah yang kemudian mendorong penelitian menjadi gatra kedua Tridharma Perguruan Tinggi setelah pengajaran.

"Artinya, penelitian memiliki posisi strategis dan menjadi pilar utama dalam arus pengembangan iptek yang harus ditegakkan dan diemban oleh perguruan tinggi dan para dosen," jelasnya.

Tips tembus jurnal

Dalam acara ini muncul sejumlah pertanyaan, terutama bagaimana menembus jurnal. Widodo yang telah berhasil mempublikasikan 42 artikel pada jurnal nasional dan internasional memberikan kiat.

Menurut Widodo, buatlah dan submit jurnal yang sesuai dengan kualifikasi jurnal. Jika ingin nulis di jurnal Sinta 6, bacalah jurnal tersebut, begitu juga dengan Sinta yang lain.

Tentang kualitas yang dimaksud antara lain, berapa banyak variabel yang diteliti. Level analisis, mau dianalisis dengan teori apa. Begitu juga untuk jurnal internasional, kita meski baca. Jika masuk ke jurnal Scopus, mulai terlihat persyaratan yang ketat. 

Widodo menjelaskan, untuk bisa melakukan penelitian dengan luaran artikel layak publikasi di jurnal terindeks Sinta maupun apalagi Scopus/WoS diperlukan strategi khusus, dari pemilihan topik, literatur, sampel, instrumen, alat analisis, penyajian hasil dan  pembahasan, sampai penarikan kesimpulan serta menyampaikan saran, implikasi dan keteratasan penelitian.  

Setelah itu, supaya hasil penelitian layak dipublikasikan di jurnal tertentu, juga masih perlu penyesuaian dengan “gaya selingkung” atau spesifikasi atau karakteristik jurnal yang dituju. 

Widodo memaparkan bahwa penyesuaian tidak hanya sebatas teknis yang disyaratkan tetapi juga menjangkau segi kualitas yang diharapkan dari sebuah artikel, baik yang tekait dengan fenomena, literatur, metode, hasil dan analisisnya, kedalaman pembahasan, maupun penarikan kesimpulan yang tepat disertai penyampaian keterbatasan penelitian dan saran-saran yang relevan. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT