10 February 2022, 11:18 WIB

Ini Faktor Penyebab Hasil Tes Covid-19 Bisa Berbeda dalam Satu Hari


Basuki Eka Purnama | Humaniora

MI/RAMDANI
 MI/RAMDANI
 Petugas melakukan tes swab PCR warga dari dalam mobil atau drive thru di Swab PCR FastLab Bumame kawasan Kebon Jeruk, Jakarta.

GURU Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan ada setidaknya empat faktor yang menyebabkan seseorang mendapati hasil tes covid-19 yang berbeda-beda dalam sehari sebagaimana dialami selebritas Atiqah Hasiholan.

Keempat faktor yang menyebabkan hasil tes covid-19, baik tes antigen maupun PCR (Polymerase Chain Reaction), bisa berbeda dalam sehari, antara lain terkait jumlah virus yang ada pada pasien dan proses pengambilan sampelnya.

"Jumlah virus yang ada pada pasien. Proses pengambilan sampel, apakah memang tepat sesuai tempat yang ada jumlah virus yang memadai," kata Prof. Tjandra, Rabu (9/2).

Baca juga: Pemberlakuan Aturan PPKM,  Netty: Imbangi dengan Peningkatan Testing, Tracing, dan Kebijakan Hulu ke Hilir

Faktor lainnya, sambung dokter yang pernah menjabat sebagai Dirjen Pengendalian Penyakit & Kepala Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan itu, adalah transportasi sampel dari tempat pengambilan ke tempat pemeriksaan, dan terakhir terkait proses pemeriksaan di laboratorium.

"Baik aspek teknik laboratorik maupun juga proses administrasi pencatatan dan pelaporan hasil," tutur Prof Tjandra.

Sebelumnya, Atiqah melalui unggahan di fitur Instagram Story mengungkapkan sempat menjalani tiga kali tes swab dalam satu hari dengan hasil PCR pertama positif, sementara berikutnya swab antigen negatif, kemudian PCR kedua negatif.

Tiga hari sebelumnya, dia juga menjalani tes swab antigen dan hasilnya negatif.

Terkait hasil tes covid-19, mengutip laman Prevention, ada empat kemungkinan hasil termasuk pada tes PCR yakni benar positif, benar negatif, positif palsu, dan negatif palsu. 

Benar dan salah mengacu pada keakuratan tes, sementara positif dan negatif mengacu pada hasil yang terima pasien.

Professor di Department of Laboratory Medicine and Pathology di University of Washington School of Medicine, Geoffrey Baird menuturkan hasil positif palsu berarti seseorang telah mendapatkan hasil positif, tetapi tidak benar-benar terinfeksi virus SARS-CoV-2.

Menurut dia, tes antigen paling akurat ketika yang menjalani tes memiliki gejala, karena biasanya itu berkorelasi dengan adanya banyak virus di tubuh sehingga lebih mudah untuk dideteksi.

Tes antigen covid-19 mengharuskan pemeriksa menyeka lubang hidung pasien untuk mengumpulkan sampel, tetapi tujuannya bukan untuk mengambil lendir.

"Banyak orang berpikir menggali sedalam mungkin. Itu sebenarnya dapat menyebabkan beberapa hasil positif palsu. Ingus, rambut, darah, dan tambahan lainnya dapat mengganggu kemampuan tes untuk mengidentifikasi antigen SARS-CoV-2," kata Baird.

Walau begitu, standar emas pengujian covid-19 yakni dengan tes PCR atau juga dikenal sebagai pengujian molekuler, ungkap pakar kesehatan dari Johns Hopkins Center for Health Security, Gigi Gronvall.

Namun, tes antigen bisa sama sensitifnya dengan tes PCR ketika seseorang mengalami gejala.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan, meskipun spesifisitas tinggi dari tes antigen, hasil positif palsu bisa saja terjadi.

"Secara umum, untuk semua tes diagnostik, semakin rendah prevalensi infeksi di masyarakat, semakin tinggi proporsi hasil tes positif palsu," ungkap CDC. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT