09 February 2022, 20:30 WIB

Iluni UI Siapkan Alumni Muda Membangun Karier


Bayu Anggoro | Humaniora

MI/BAYU ANGGORO
 MI/BAYU ANGGORO
Iluni UI menggelar webinar untuk para alumni baru


SALAH satu kunci sarjana baru dalam meraih kesuksesan di
tengah persaingan ketat dalam membangun karier di dunia profesional
adalah mengetahui potensi dan jati diri yang otentik.

Untuk membekali para mahasiswa tingkat akhir dan alumni muda dalam berkarier, Almamater Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) didukung Direktorat Pengembangan Karier Lulusan dan Hubungan Alumni (DPKHA) UI, serta bekerja sama dengan Komunitas MCC, mengadakan program mentoring dan coaching Future Star Corps bertajuk "Biarkan Karyamu Jadi Dutamu: Be Your Authentic Self.

Ketua Almamater Center Iluni UI M Try Sutrisno Gaus mengatakan, program
Future Star Corps merupakan salah satu usaha nyata Iluni UI dalam
mempercepat jumlah alumninya untuk bisa berkontribusi secara efektif
ketika mengawali kehidupan pascakampus.

Selain itu, Gaus juga berharap kegiatan ini dapat menjadi bukti kehadiran alumni melalui Iluni UI bagi mahasiswa dan almamater UI.

"Harapannya dengan ada kontribusi ini mereka (mahasiswa dan alumni muda) pernah merasakan bahwa alumni hadir untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi kehidupan pasca-kampus," tegas Gaus, Rabu (9/2).

Ketua DPKHA UI Ahmad Syafiq turut memberikan apresiasinya atas upaya Almamater Center Iluni UI dalam menyelenggarakan acara untuk almamater.

Menurutnya, acara webinar seperti Future Star Corps dan acara lain yang
diselenggarakan Iluni UI dapat mempererat ikatan antara alumni dengan
almamater. Dia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut.

"Sekarang sudah saatnya mentoring dan coaching jadi satu bagian yang
sangat penting dari hubungan antara almamater dan alumninya. Salah
satunya dengan memberikan pendampingan, pelatihan. Ini suatu hal yang ke depan jadi indikator penting berapa banyak alumni yang membantu
adik-adik kelasnya," kata Syafiq.

Sementara itu, Ketua MCC Budhi Martono menekankan pentingnya menjadi
diri sendiri yang terbaik. "Karena kalau menjadi diri orang lain akan
lelah, tentunya perlu menjadi diri sendiri yang terbaik," tegas coach
Budi.

Ketua Departemen Alumni Mentorship Almamater Center ILUNI UI Hesti Nur
Lestari menambahkan, salah satu cara meraih kesuksesan adalah dengan
fokus pada potensi diri.

"Kekuatan kita ada pada diri kita yang sesunggunya. Ketika kita fokus menjadi seseorang yang bukan diri kita, kekuatan kita tidak dapat termanifestasi karena tertutupi oleh topeng yang kita pasang pada diri kita," tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, penulis buku Your Journey to be The Ultimate
U
sekaligus life coach Rene Suhardono membagikan berbagai tips untuk
menjadi pribadi yang otentik dalam berkarier.

Menurut Rene, pada era informasi saat ini, rasa atau esensi merupakan sesuatu yang harus diperhatikan seseorang ketika bekerja.

"Melalui kesadaran akan pentingnya rasa dalam diri manusia, setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri yang otentik," ungkapnya.

Kunci lain untuk menjadi sukses dengan diri yang otentik adalah harus sebisa mungkin menghindari tendensi generalisasi diri.

Rene mengamati adanya tendensi yang sering ditemukan di masyarakat,
yakni kecenderungan generalizing the whole crowd.

"Kecenderungan ini tampak ketika seseorang dengan mudah menyeragamkan karakter orang-orang yang berada di sebuah kelompok, tanpa menghiraukan adanya otentisitas atau keunikan pada setiap orang," tutur dia.

Selain itu, Rene juga sangat menyayangkan orang-orang yang masih
bersembunyi di balik topeng tes kepribadian seperti MBTI atau tes
kepribadian lainnya ketika terjun ke dunia kerja.

Menurutnya hal-hal seperti itu tidak tepat untuk dijadikan definisi diri. Namun, lebih tepat bila dijadikan referensi untuk pengembangan diri.

Mencapai otentisitas diri dipandang Rene sebagai tantangan tersendiri
bagi seseorang, terutama pada era comparative happiness saat ini.

Comparative happiness merupakan kebahagiaan yang diukur dengan
membandingkan keadaan orang lain dengan diri sendiri.

Rene menegaskan, hal ini bisa menghambat pengembangan diri sebab seseorang akan senantiasa melihat dirinya melalui lensa orang lain, dan membiarkan orang lain tersebut mendefinisikan dirinya. Hal ini tentu saja berlawanan dengan makna otentisitas diri.

"Tidak akan berguna untuk meyakinkan orang lain sebelum kita meyakinkan
diri sendiri dulu. Dan kita tidak bisa meyakinkan diri sebelum kita
jujur pada diri sendiri," ujar Rene.

Lebih lanjut, menurut Rene, menjadi otentik berarti jujur kepada diri
sendiri, tanpa harus mengenakan topeng ketika diri harus berinteraksi
dengan orang lain. Pentingnya otentisitas diri ini pun berlaku bagi
mereka yang sedang mencari pekerjaan dan membangun karier.

Dalam pemaparannya, Rene juga mengingatkan para peserta untuk tidak terlena dalam konsep personal branding.

"Personal branding merupakan pseudo-knowledge yang bisa menjebak para
pencari kerja untuk memasang topeng di atas dirinya. Jadi diri sendiri
adalah cara terbaik dalam mencari pekerjaan," pungkasnya. (N-2)

BERITA TERKAIT