02 February 2022, 23:18 WIB

Kasus Covid-19 Melonjak, Untar Tunda Pelaksanaan PTM Terbatas 


Mediaindoensia.com | Humaniora

Dok. Untar
 Dok. Untar
Pembukaan Sentra vaksinasi Bosster di Universitas Tarumanagara

UNIVERSITAS Tarumanagara Jakarta menunda penyelenggaraan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di kampus yang seharusnya dimulai pada awal semester genap tahun akademik 2021/2022. 

“Kami sudah umumkan akan dilakukan pembelajaran secara bauran, yang terdiri dari PTM terbatas dan juga pendidikan jarak jauh, pada 7 Februari mendatang, tetapi seiring dengan meningkatnya kasus COVID-19 di Jakarta akhirnya kami tunda hingga bulan depan,” ujar Rektor Universitas TarumanagaraAgustinus Purna Irawan, pada pembukaan sentra vaksinasi penguat di Jakarta, Rabu (2/2). 

Untuk mahasiswa program studi yang memerlukan praktik langsung, seperti kedokteran, lanjut dia, maka praktik tetap diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Akan tetapi, secara umum perkuliahan tetap dilakukan secara daring. 

Dia menambahkan, pelaksanaan vaksinasi penguat tersebut juga bertujuan untuk persiapan PTM terbatas pada bulan berikutnya. Vaksinasi ditujukan pada mahasiswa, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, keluarga karyawan Untar dan juga masyarakat sekitar. Sentra vaksinasi penguat tersebut diselenggarakan selama tiga hari dengan kuota sebanyak 600 dosis per hari. 

Baca juga : Gelombang Ketiga Covid-19 Ancam Indonesia, Legislator : Target Penurunan Stunting Makin Berat 

“Ini merupakan bagian dari upaya kami untuk memutus mata rantai penularan, selain dari protokol kesehatan juga vaksinasi penguat,” ujar dia. 

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Grogol Petamburan Darus Sahmedi mengatakan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dapat mempercepat proses vaksinasi penguat di DKI Jakarta. 

“Kami mengajak masyarakat yang telah berusia 18 tahun ke atas dan mendapatkan notifikasi tiket elektronik vaksinasi di platform Peduli Lindungi, segera melakukan vaksinasi penguat. Semua varian harus kita waspadai. Varian Omicron memang berdasarkan analisas risikonya lebih rendah, tetapi penularannya lebih tinggi. Jika jumlah pasiennya besar, maka risiko perawatannya juga besar. Ini yang harus kita cermati bersama,” ujar Darus. (Ant/OL-7)

BERITA TERKAIT