01 February 2022, 11:17 WIB

ICE Institute Luncurkan Program Microcredential Game Developer


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist/UT
 Ist/UT
Acara Peluncuran Program Microcredential Game Developer yang digelar Indonesia Cyber Education Institute (ICE Institute).

INDONESIA Cyber Education Institute (ICE Institute) berada di bawah naungan Universitas Terbuka (UT). Pada awal tahun 2022, ICE Institue menggandeng 12 mitra baru sekaligus mencermati peluang dengan meluncurkan Program Microcredential Game Developer. Peralihan menuju digitalisasi pada segala lini telah melahirkan bisnis metaverse.

ICE Institute telah melakukan pengembangan mata kuliah daring dan riset-riset untuk ikut serta menjawab tantangan era revolusi industri 4.0 yang semakin digaungkan pemerintah.

Program Microcredential Game Developer merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang berkolaborasi dengan 10 perguruan tinggi antara lain Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas AMIKOM Yogjakarta, Universitas Telkom, Universitas Indonesia (UI), Universitas Pradita, Universitas Bina Nusantara (Binus), dan Universitas Terbuka (UT).

Sepuluh perguruan tinggi tersebut turut merancang kurikulum dan mengembangkan program studi dengan 5 (lima) topik peminatan.

“Ada lima stream yang dapat dipilih oleh peserta, yaitu Game Artist, Game Project Management, Game Designer, Game Programmer, Educational Game Developer dan Capstone Project. Pada Capstone Project, peserta yang telah lulus pada stream pilihan mereka akan bergabung dan membuat sebuah prototipe game sederhana,” jelas Prof. Paulina Pannen, Kepala Unit Pengembangan Pembelajaran dalam Jaringan Indonesia (UPPDJI) atau yang lebih dikenal sebagai ICE Institute.

Baca juga: Universitas Terbuka Kedepankan Inklusifitas Pendidikan

“Para mahasiswa, calon mahasiswa, dan publik yg berminat, kami dorong untuk masuk ke dalam industri game dengan bantuan para mentor yang merupakan profesional di industri game di Indonesia dari Asosiasi Game Indonesia (AGI), Lokapala Game, dan Google” lanjut Prof. Paulina Pannen.

“Peserta akan bergabung dari seluruh kompetensi dan, dengan bantuan para mentor, ikut terlibat langsung dalam mekanisme life cycle pengembangan suatu produk game, termasuk promosi di sosial media dan pemasaran produk game tersebut sampai ke pengguna,” katanya.

Di samping itu, ICE Institute secara resmi, meluncurkan program Microcredential Game Developer dan melaksanakan webinar Cyber Education Forum (CEF) ke-9 dengan tema “Program Game Developer: Peluang dan Tantangan” pada Sabtu (29/1/2022) /

Peresmian dilakukan plt. Dirjen Dikti Prof. Nizam, dihadiri Ketua Konsorsium sekaligus Rektor UT Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D., Direktur ICE Institute Prof. Paulina Pannen, para Rektor perguruan tinggi mitra, dan tim kerja Konsorsium ICE Institute.

Rektor UT Prof. Ojat Darojat, pada kesempatan ini menyampaikan keberlangsungan ICE Institute sangat ditentukan oleh sinergitas antara anggota konsorsium.

Rektor UT mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja sama selama ini dan semangat gotong royong untuk mensukseskan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

Kegiatan ini pun dihadiri secara virtual oleh Prof. Ismunandar, Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO yang turut menggagas berdirinya ICE Institute.

“Sangat senang dengan kemajuan dari ICE Institute yang telah banyak aktivitasnya. Semoga ICE Institute menjadi lebih berkiprah dan meningkat kualitasnya dan membangun networknya semakin luas,” kata Prof.Ismunandar.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dirjen Dikti) Prof. Nizam menyatakan harapannya dalam menyongsong era metaverse bersama dengan Konsorsium ICE Institute pada Rapat Koordinasi Konsorsium ICE Institute di akhir tahun lalu.

“ICE Institute adalah mimpi saya yang akan dikembangkan secara kolaboratif. Ini merupakan amanah untuk memimpin proyek year-end di Asia Pacific sehingga inheren dan kebutuhan akan e-learning akan semakin terjangkau,” kata Prof.Nizam.

“Sebagai wadah bagi kolaborasi kampus di seluruh Indonesia, modul-modul untuk mata kuliah-mata kuliah dari UGM dan Binus, misalnya, dapat digunakan hingga ke pelosok,” jelas Prof. Nizam.

Ia menambahkan, “Topik-topik mata kuliah yang langka, tetapi dibutuhkan atau disebut sebagai metaverse, seperti cyber security atau future trading dapat sampai hingga ke pelosok.” 

Mitra baru Konsorsium ICE Institute merupakan institusi yang berasal dari dalam dan luar negeri. Kedua belas institusi tersebut bersedia untuk menjadi penyedia dan pengguna layanan pada platform ICE Institute, terutama dalam bentuk ketersediaan mata kuliah daring berkualitas.

Perguruan tinggi dan institusi yang akan bergabung dengan Konsorsium ICE Institute dan ikut serta dalam proses pengajaran daring di Indonesia, yaitu Universitas Airlangga (Unair), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Andalas (Unand), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Lampung (Unila), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Medan (Unimed), Universitas AMIKOM Yogjakarta, EnglishScore – British Council, Asosiasi Game Indonesia (AGI), dan Cipta Karsa Adikarya (Cakra).

"Potensi pasar dari penjualan video game di Indonesia sangat besar, baik dalam hal penjualan maupun penyerapan tenaga kerja yang mencapai hampir 30 juta orang di seluruh dunia. Hal ini yang mendorong saya untuk membentuk program Microcredential Game Developer,” tutur Prof. Nizam. (RO/OL-09)

 

 

 

BERITA TERKAIT