28 January 2022, 10:50 WIB

Trauma Masa Lalu Pengaruhi Pol Pengasuhan Anak


Basuki Eka Purnama | Humaniora

freepik
 freepik
Ilustrasi

POLA pengasuhan pada anak dipengaruhi berbagai faktor kehidupan, salah satunya adalah hubungan suami istri di masa lampau, bahkan ketika mereka masa kecil.

Psikolog dan konselor pernikahan Adriana Soekandar Ginanjar mengatakan belum semua orangtua menerapkan pola asuh yang cukup baik untuk tumbuh kembang si kecil di rumah, di antaranya seperti pola asuh dengan kekerasan, baik itu secara verbal maupun nonverbal serta banyak terjadi konflik antarorangtua di depan anak.

"Sering kali hal ini tidak disadari sehngga dapat menimbulkan kecemasan dan trauma yang terdalam bagi anak," ujar Adriana dalam pernyataan resmi, dikutip Jumat (28/1).

Baca juga: Terkait Pengasuhan Anak, Pasangan Cerai Harus Redam Ego

Adriana menjelaskan terdapat beberapa jenis trauma yang dialami manusia, khususnya ketika berumah tangga. Trauma-trauma ini harus dikenali lebih awal agar ke depannya orangtua dapat memproses trauma menjadi bentuk emosi yang baik.

"Ketika dapat memproses emosi, tentunya akan membawa dampak yang lebih baik ke sekitar atau keluarga terdekat, kata Adriana.

Setidaknya terdapat tiga jenis trauma dalam berumah tangga yakni trauma akut, trauma kronis, dan trauma kompleks.

Trauma akut terjadi satu kali tetapi secara intens. Seperti adanya perceraian, bencana alam, dan pelecehan seksual yang terjadi di masa lampau atau masa kecil.

Trauma kronis terjadi berulang kali dalam jangka waktu yang panjang seperti mendapatkan kekerasan dari orangtua atau orang sekitar, perundungan, serta melihat kekerasan dan konflik orangtua.

Sementara trauma kompleks merupakan kejadian yang beragam terdiri dari kejadian traumatis yang berbeda-beda.

Jika tidak diperbaiki, trauma di masa lampau ini dapat terus menghantui kehidupan sehari-hari para orangtua bahkan dapat berdampak pada pola asuh ke anak saat ini.

"Tentu kita sebagai orangtua tidak menginginkan hal yang sama atau hal yang buruk terjadi turun temurun ke anak kita, ujar Adriana.

Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang juga mampu melatarbelakangi anak rentan terkena trauma dalam kehidupan, seperti sifat anak yang terlalu tertutup, orangtua yang tidak memahami anak, dan orangtua yang sering kali merasa paling tahu atau paling benar.

Yang dapat dilakukan orangtua agar anak terhindar dari trauma rumah tangga adalah dengan cara mengenal anak lebih baik, terbuka dengan anak agar dapat berkomunikasi dengan orangtua, menghormati anak denganmenghargai keputusan serta tidak menuntut terlalu sering.

Ajarkan juga anak untuk bisa bersuara dan berpendapat di setiap kondisi mulai dari hal-hal kecil yang ditemukan di keseharian. 

Orangtua juga harus bertindak sebagai detektif atau terus mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan anak.

"Mindful parenting untuk mencerna dan mempelajari emosinya agar dapat membuahkan perilaku yang baik juga kepada keluarga, kata Adriana.

Sementara itu, dokter spesialis anak yang juga pendiri dari Tentang Anak Mesty Ariotedjo  mengatakan penting bagi orangtua untuk dapat mengenali dirinya sendiri dan pasangan terlebih dahulu sebelum membantu kebutuhan anak.

"Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli agar bisa mendapatkan masukan untuk setiap permasalahan yang ditemukan," ujar Mesty. (An/OL-1)

BERITA TERKAIT