28 January 2022, 08:47 WIB

Sulawesi, Pusat Lokasi Penemuan Spesies Baru


Faustinus Nua | Humaniora

ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
 ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Owa Siamang

AKHIR 2021, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mencatat 88 penemuan jenis baru yang telah dideskripsikan. Hampir 80% spesies baru tersebut ditemukan di Sulawesi. Penemuan fauna mendominasi dengan jumlah 75 spesies, sisanya flora sebanyak 13 spesies. Penemuan jenis baru ini memiliki arti penting bagi studi taksonomi dan sistematika. Lebih jauh, penemuan ini menjadi awal dari penelitian biodiversitas selanjutnya, seperti konservasi hingga bioprospeksi.

Meski masa pandemi masih berlangsung, semangat para peneliti BRIN di Pusat Riset Biologi tak pernah surut untuk menemukan dan mengungkap potensi kekayaan biodiversitas Indonesia. Berkat ketersediaan fasilitas riset yang semakin lengkap dan kolaborasi antarpeneliti dalam dan luar negeri, BRIN berhasil mengungkapkan 88 spesies baru untuk data biodiversitas Indonesia. 

Dari keseluruhan penemuan tersebut, hampir sebagian besar spesies baru yang ditemukan merupakan endemik flora dan fauna dari lokasi penemuannya. Hanya lima spesies berasal dari spesimen yang sampelnya diambil dari luar pulau Indonesia, yaitu Papua Nugini, sisanya mayoritas dari Pulau Sulawesi. Selanjutnya spesimen lain berasal dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali dan beberapa pulau Indonesia lainnya.

Dari 75 spesies fauna baru yang berhasil diidentifikasi, 68% fauna endemik dari Sulawesi. Kelompok fauna ini yaitu jenis baru kumbang, celurut, ular, cacing, udang dan ikan. Sedangnya 32% sisanya berasal dari kelompok coleoptera, cicak, kadal, katak, kecoa, burung, ikan, isopoda dan krustasea yang ditemukan di beberapa tempat di Indonesia dan Papua Nugini.

Sementara itu dari 13 spesies flora yang ditemukan 54% dari Sulawesi. Jenis flora yang ditemukan antara lain begonia, jahe-jahean, anggrek, Cyrtandra, Bulbophyllum, Artocarpus. Sedangkan sisanya ditemukan di Pulau Sumatera, Jawa Barat dan Filipina.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Puluhan Spesies Baru Tumbuhan dan Hewan Sepanjang 2021

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati (OR-IPH) BRIN Iman Hidayat mengatakan Indonesia merupakan negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia yang meliputi kekayaan hayati darat dan laut. Namun, jumlah yang berhasil diungkap dan terekam saat ini masih minim.

“Beberapa peneliti memperkirakan jumlah keanekaragaman hayati yang sudah ditemukan saat ini baru sekitar 10% dari total potensi keanekaragaman hayati yang ada,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/1).

Sejak BRIN terbentuk, salah satu program prioritas BRIN adalah upaya pengungkapan dan pemanfaatan biodiversitas. OR-IPH BRIN sebagai koordinator program riset nasional saat ini memiliki dua kegiatan penting yaitu rumah program terkait pengungkapan dan pemanfaatan biodiversitas nusantara serta konservasi tumbuhan terancam punah.

Iman menjelaskan beberapa upaya konservasi keanekaragaman hayati BRIN yang dilakukan meliputi penyimpanan data whole genome sequence dan partial DNA/protein sequence Kehati. Kemudian, mengungkapan ancaman dan dampak perubahan global terhadap status ekosistem dan biodiversitas nusantara.

"Rehabilitasi dan peningkatan populasi spesies terancam punah eksplorasi dan konservasi secara ex situ serta ekologi restorasi spesies," imbuhnya.

Kepala Pusat Riset Biologi Anang S. Achmadi menerangkan keberhasilan peneliti BRIN dalam mengungkap spesies baru Indonesia ibarat menemukan harta karun di bumi pertiwi. Proses penelitian itu panjang, dimulai dari eksplorasi, studi koleksi museum hingga penggunaan teknologi untuk proses identifikasi.

"Perjalanan penelitian tidak serta merta berhenti setelah menemukan spesies baru, akan muncul banyak penelitian lanjutan yang dapat dilakukan terhadap penemuan spesies baru tersebut. Seperti kandungan zat aktif apa yang terdapat pada spesies ini, atau menjadi indikator lingkungan perubahan lingkungan,” ungkap Anang.

Terkait upaya konservasi biodiversitas Indonesia, Anang mengatakan BRIN sangat berperan aktif. Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati (SKIKH)-BRIN memiliki peran sebagai otoritas ilmiah (scientific authority) di Indonesia. Disini, SKIKH berpartisipasi aktif sebagai delegasi Indonesia dalam Convention on Biological Diversity (CBD), Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) dan lain sebagainya. 

Selain itu, upaya konservasi lain BRIN yang telah dilakukan sejak puluhan atau ratusan tahun selama ini juga diwujudkan dalam bentuk depositori dan repositori ilmiah. Semua itu tersimpan dalam Museum Zoologicum Bogoriense, Herbarium Bogoriense, dan Indonesian Culture Collection.(OL-5)

BERITA TERKAIT