26 January 2022, 15:00 WIB

Terkait Pengasuhan Anak, Pasangan Cerai Harus Redam Ego


Basuki Eka Purnama | Humaniora

Medcom.id - M Rizal (Rhobi Shani)
 Medcom.id - M Rizal (Rhobi Shani)
Ilustrasi

PSIKOLOG anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan UI Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan orangtua yang bercerai perlu mengesampingkan ego masing-masing pihak demi mencapai kesepakatan pola pengasuhan pada anak.

Menurutnya, ego yang tidak terkendali di kedua pihak setelah bercerai sering kali menjadi pangkal permasalahan yang dapat memicu trauma pada anak.

"Perceraian semestinya tidak menghilangkan peran sebagai ayah dan sebagai ibu. Apapun yang terjadi tetap utamakan kepentingan anak," kata Vera melalui keterangan tertulis, dikutip Rabu (26/1)

Baca juga: Angka Kasus Perceraian di Bandung Barat Terus Meningkat

Ia menambahkan pengasuhan harus disepakati bersama karena bagaimana pun anak membutuhkan peran kedua orangtua. Setiap pilihan keputusan memiliki konsekuensi yang harus dijalani bersama. 

Oleh sebab itu, lanjut Vera, pertimbangkanlah pilihan mana yang setidaknya berdampak negatif paling minim.

Apalagi pada kasus perceraian yang disebabkan perselingkuhan, membuat keputusan atas pengasuhan anak memang membutuhkan proses yang panjang karena perselingkuhan biasanya meninggalkan banyak emosi negatif di antara kedua belah pihak.

"Ada yang memutuskan memaafkan lalu move on, tapi ada juga yang memutuskan untuk pisah sama sekali termasuk memutuskan hubungan dengan anak. Apapun itu seyogyanya anak tidak menjadi korban," kata Vera.

Sementara itu, psikolog anak dan keluarga Samanta Elsener mengatakan ada baiknya orangtua mempertimbangkan sejumlah hal sebelum memutuskan bercerai.

Selain membuat komitmen pengasuhan pascabercerai, kedua pihak juga perlu memikirkan ulang mengenai hak asuh anak, biaya pendidikan dan hidup anak, hingga kebutuhan anak bermain, bertemu, serta berinteraksi dengan kedua orangtuanya.

"Orangtua yang mendapatkan hak asuh anak pun perlu berhati bijak, lapang dada. Jangan ajarkan anak membenci salah satu orangtua karena masalah personal kegagalan pernikahan," kata Samanta.

Selain itu, ia menambahkan anak juga perlu diajarkan untuk bisa memaafkan dan menerima kondisi yang baru, terlebih apabila kondisi baru tersebut memiliki risiko yang lebih minim daripada keluarga utuh tetapi saling menyakiti.

"Butuh peran dan kebesaran hati orangtua yang mendapatkan hak asuh anak agar proses transisi ini berjalan lancar pasca-perceraian dan anak tidak membenci orangtuanya," tutur Samanta.

Hal senada juga dikatakan Vera. Ketika orangtua saling tidak berhenti menjelekkan satu sama lain, yang terjadi justru muncul kebingungan dan kemuakan pada diri anak karena merasa orangtuanya tidak kunjung dewasa dalam menghadapi masalah.

"Pertikaian berkepanjangan hanya akan menambah beban kecemasan pada anak," ujar Vera.

Ketika orangtua bercerai, anak dapat mengalami serangkaian emosi yang bisa berubah-ubah mulai dari kemarahan, kesedihan, kebingungan, kecemasan, tidak percaya diri dan merasa dirinya tidak berharga, menyalahkan diri sendiri, hingga trauma dan takut menjalin relasi di masa dewasa.

Samanta mengatakan trauma pascaperceraian bisa memberikan efek berbeda bergantung pada usia anak saat perceraian terjadi, kedekatan anak dengan orangtua, serta seberat apa konflik yang dihadapi orangtua.

Bagi anak yang memiliki orangtua yang selalu terlihat harmonis, lanjut Samanta, mereka akan cenderung lebih berat dalam penyesuaian pascaperceraian. Selain itu, bagi anak di bawah usia 3 tahun umumnya belum terlalu memahami mengenai apa yang sesungguhnya terjadi, namun tidak menutup kemungkinan memiliki dampak psikologis di kemudian hari. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT