25 January 2022, 17:06 WIB

Evaluasi PTM Bisa Dimulai dari Kecamatan Berzona Merah


Faustinus Nua | Humaniora

Antara/Fakhri Hermansyah.
 Antara/Fakhri Hermansyah.
Seorang siswa SMPN 252 mengikuti tes usap PCR di Jakarta Timur, Kamis (13/1/2022).

MANTAN Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama meminta pemerintah untuk kembali mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM). Pasalnya, di tengah peningkatan kasus covid-19 varian omikron, sekolah berpotensi menjadi klaster baru yang membahayakan warga sekolah, khususnya anak-anak.

Evaluasi untuk kembali menutup sekolah atau melaksanakan PJJ disarankan bisa dimulai dari kecamatan. Soalnya, beberapa wilayah kecamatan seperti di DKI Jakarta sudah masuk zona merah.

"Setidaknya di zona merah dalam suatu medan perang, baik kalau upaya perlindungan kesehatan ditingkatkan. Ini termasuk evaluasi pelaksanaan PTM setidaknya dimulai di daerah-daerah itu," ujarnya kepada Media Indonesia, Selasa (25/1).

Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi itu mengatkan bahwa evaluasi PTM perlu dilakukan. Setidaknya ada lima hal yang dapat menjadi pertimbangan tentang kebijakan PTM di hari-hari sekarang.

Pertama, pada 13 Januari 2022 lima Organisasi Profesi Dokter Spesialis (Anak, Paru, Penyakit Dalam, Jantung, dan Anastesi) membuat surat ke empat menteri sehubungan Evaluasi proses PTM. Mereka menyebutkan bahwa anak dan keluarga sebaiknya tetap diperbolehkan memilih PTM atau PJJ. Anak dengan komorbid perlu memeriksakan diri dulu, kelengkapan imunisasi untuk dapat ikut PTM, serta mekanisme kontrol dan buka tutup sekolah.

Kemudian, kasus covid-19 di hari-hari terakhir terus meningkat. Bukan hanya jumlah totalnya yang sudah lebih dari 3.000 per hari, tetapi juga ada kecenderungan peningkatan angka positif serta perlu pula menilai perkembangan angka reproduksi atau reproductive number. "Semua menunjukkan potensi penularan di masyarakat, apalagi angka transmisi lokal varian omikron juga terus meningkat," imbuhnya.

Poin ketiga, menurutnya, sebagaimana ditulis dalam surat lima organisasi profesi spesialis, anak dapat saja mengalami komplikasi berat yaitu multisystem inflammatory in children associated with Covid-19 (MIS-C). Bukan tidak mungkin juga ada komplikasi long covid-19.

"Pendapat para pakar beberapa negara, antara lain dari South Dakota Amerika Serikat, juga mulai membicarakan kemungkinan long covid-19 pada anak ini, walaupun memang tentu perlu penelitian lebih lanjut. Tetapi kita tentu tidak ada yang ingin ada dampak seperti ini terjadi pada anak-anak kita," jelasnya.

Selain itu, Prof. Tjandra mengungkapkan bahwa penelitian di Afrika Selatan tercatat 56.164 pasien covid-19 yang masuk RS. Dari data tersebut ditemukan bahwa angka masuk RS (admission rate) untuk anak di bawah 4 tahun ternyata mencapai 49%. Angka itu lebih tinggi saat varian omikron merebak dibandingkan varian delta.

Data lain dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa angka-anak masuk RS meningkat. Rata-rata 4,3 balita per 100.000 kasus masuk RS pada minggu sampai awal Januari. "Meningkat dari angka 2,6 per 100.000 pada minggu sebelumnya. Kalau dibandingkan dengan angka awal Desember, ada peningkatan 48%, peningkatan tertinggi pada kelompok umur ini selama pandemi covid-19," terangnya.

Baca juga: Perlindungan Hak-Hak Anak Harus Jadi Perhatian Semua Pihak

Lantas, saat ini ketika ada daerah yang disebut sebagai medan perang atau battlefield, di daerah tersebut juga sudah ada beberapa kecamatan yang masuk zona merah. karenanya perlu dipertimbangkan untuk menutup sekolah, terutama di daerah zona merah. (OL-14)

BERITA TERKAIT