20 January 2022, 18:33 WIB

Mely, Bayi Orangutan Pertama Tahun Ini di Suaka Margasatwa Lamandau 


Atalya Puspa | Humaniora

Dok. KLHK
 Dok. KLHK
Mely, bayi orangutan di Suaka Margasatwa Lamandau

SATU sore di Suaka Margasatwa Lamandau, seekor induk orang utan bernama Max terlihat menggendong bayinya yang baru lahir. Bayi orangutan mungil tersebut terlihat dipeluk erat dan sesekali diberikan kecupan oleh Max. Pemandangan tersebut dilihat langsung oleh Kepala Resort SM Lamandau Sugih Trianto. 

Ia menceritakan, pada pukul 15.21 WIB, dirinya melihat Max menggendong bayinya ke Camp Gemini di SM Lamandau. Namun, pemantauan mendetil baru dilakukan pada Kamis (6/1) dan diketahui bahwa bayi orangutan tersebut berjenis kelamin betina. 

"Sampai saat ini staf Balai KSDA Kalteng dan staf lapangan OF-UK Indonesia masih mengikuti Max untuk memantau kondisi Max dan bayinya selama beberapa minggu ke depan awal pasca melahirkan," kata Sugih dalam keterangan resmi, Kamis (20/1). 

Kelahiran bayi orangutan itu menjadi spesial. Pasalnya, ia menjadi bayi ke-100 yang lahir di SM Lamandau dan menjadi orangutan pertama yang lahir di tahun 2022. Oleh petugas di SM Lamandau ia kemudian diberi nama Mely. 

Dikatakan Sugih, sejak Desember 2021 Max sudah terpantau sedang hamil. Sebelumnya pada tahun 2018, Max juga sempat melahirkan bayi betina diberi nama Monti. Max merupakan orangutan yang berasal dari Orangutan Care Center and Quarantine (OCCQ) pada tahun 2003. 

Baca juga : BMKG Rilis Peringatan Dini Gelombang Tinggi di Sejumlah Perairan Indonesia

Terpantau dari tahun 2003 sampai dengan Januari 2022 sejumlah 100 individu orangutan telah lahir di area soft release SML. Di tahun 2020 lahir 7 individu orangutan, tahun 2021 sebanyak 4 individu, selanjutnya Januari 2022 lahir 1 individu orangutan, yaitu Mely. 

Kepala Balai KSDA Kalteng Nur Patria Kurniawan mengatakan, Balai KSDA Kalteng dan OF-UK Indonesia akan selalu memantau secara intensif kesehatan orangutan yang ada di SML, terutama orangutan yang terpantau sedang hamil agar kesehatannya selalu terjaga, baik induk maupun anaknya. 

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) mempunyai status konservasi kritis (Critically Endangered/CR) sejak 2016. Perlindungan terhadap populasi dan habitatnya sudah semestinya menjadi perhatian semua pihak. 

“Jumlah kelahiran yang terus bertambah di area soft release menandakan bahwa area soft release cukup representatif dan animal welfare memadai. Semoga bayi orangutan sehat dan dapat survive di habitatnya,” pungkas Nur. (OL-7)

BERITA TERKAIT