19 January 2022, 10:00 WIB

Badan POM: Molnupiravir Diproduksi di Dalam Negeri pada Mei-Juni 2022


HUMANIORA | Humaniora

ANTARANEWS/ istimewa
 ANTARANEWS/ istimewa
PRODUK DALAM NEGRI: Badan POM memperkirakan obat antivirus covid-19 Molnupiravir siap diproduksi di dalam negeri pada Mei atau Juni 2022.

KEPALA Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Penny K. Lukito memperkirakan obat antivirus covid-19 Molnupiravir siap diproduksi di dalam negeri pada Mei atau Juni 2022.

"Estimasi produksi lokal Molnupiravir pada Mei atau Juni 2022," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan PT Amarox Pharma Global sebagai anak perusahaan Hetero Labs Ltd, India akan memproduksi Molnupiravir kapsul keras di Indonesia. "Saat ini PT Amarox sudah mendapatkan izin produksi dan sedang membangun fasilitas yang akan digunakan untuk produksi. Badan POM mendampingi untuk persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)," katanya.

Badan POM hingga saat ini masih melakukan pendampingan pemenuhan persyaratan CPOB setelah Surat Persetujuan Penggunaan Fasilitas Kapsul Keras untuk produksi Molnupiravir diperoleh PT Amarox pada 3 Januari 2022.

Selain PT Amarox, kata Penny, PT Kimia Farma juga berencana memproduksi Molinupiravir dan sudah mendapatkan lisensi medicines patent pool (MPP). "Saat ini sedang proses persiapan dossler dan fasilitas PQ WHO diharapkan pada Juni 2022 sudah dapat submit aplikasi ke WHO dan sudah bisa produksi," imbuhnya.

Dalam kegiatan itu, Penny juga melaporkan kesiapan produksi obat antivirus covid-19 Favipiravir di dalam negeri. Saat ini, terdapat lima industri farmasi yang sudah mendapatkan Izin Penggunaan Darurat (EUA) untuk produksi lokal, masing-masing Kimia Farma, Kalbe Farma, Novell, Amarox Pharma Laboratories Global, dan Lapi Laboratories. "Yang sudah aktif berproduksi dari lima industri farmasi tersebut adalah Kalbe Farma dan Kimia Farma," ujarnya.

Menurut Penny, Amarox, Novel dan Lapi belum berproduksi karena masih persiapan untuk produksi kemasan dan uji stabilitas. "Kami tetap mengawal dan mengawasi mutu produksi obat yang mereka buat," pungkasnya.(Ant/H-1)

BERITA TERKAIT