11 January 2022, 10:12 WIB

Peneliti Korsel Ingatkan Pemerintah RI Baca Hasil Riset Kelautan


Laela Zahra, Metro TV | Humaniora

ANTARA
 ANTARA
Aktivis berunjuk rasa  bertepatan dengan peringatan Hari Laut Sedunia di Jakarta, Selasa (8/6/2021).

PEMERINTAH diminta lebih memerhatikan penelitian kelautan untuk meningkatkan sumber ekonomi biru, di bidang kelautan dan perikanan.

Co-Director of the Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC), Hansan Park mengatakan, Indonesia dan Korea Selatan telah bekerja sama di bidang penelitian untuk memgembangkan teknologi dan membangun tata kelola kelautan dan perikanan yang lebih baik sejak 2011.

Park mengatakan, kedua negara telah melakukan banyak penelitian bersama. Di antaranya pengembangan sistem operasional peramalan oceanografi, pembentukan stasiun validasi satelit optik, pengembangan energi laut, dan manajemen limbah laut.

Baca juga: Potensi Kelautan dan Perikanan Lampung Sangat Besar

"Kita juga mengembangkan proyek satelit laut berupa pembentukan sistem aplikasi pengelolaan perairan Indonesia, menggunakan satelit geostationary Korea," ujar Park, dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Untuk meningkatkan kekuatan ekonomi biru, hasil penelitian harus menjadi perhatian. "Penting bagi pemerintah membaca hasil penelitian," kata Park.

Tata kelola kelautan dan perikanan yang baik, menurutnya akan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas perikanan, dan mengatasi dampak perubahan iklim.  

Baca juga: KKP Pastikan Nelayan dengan Kapal Kecil tak Ditarik Pajak

Sayangnya, dia menilai, di Indonesia manajemen limbah masih belum optimal. "Ini bukan hanya masalah limbah laut, ini dimulai dari kebiasaan masyarakat, lalu juga dalam manajemen limbah, dan daur ulang (recycling) limbah," kata Park.

Baca juga: KKP: Kapal Cantrang Bisa Dipidana

Dalam misi ini, kedua negara juga telah melaksanakan gerakan bersih pantai di Cirebon, Jawa Tengah, yang mengikutsertakan berbagai elemen masyarakat, dan berhasil mengumpulkan 1 ton sampah.

Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia , Rokhmin Dahuri, mengatakan potensi produksi perikanan Indonesia lebih dari 1 juta ton per tahun. Angka ini yang tertinggi di dunia, namun dampak perubahan iklim perlu diantisipasi.

"Dampak perubahan iklim pada perikanan dirasakan pada peningkatan suhu air, karena ikan di daerah tropis memiliki kemampuan adaptasi terhadap peningkatan suhu air yang sangat rendah. sejak 5 tahun terakhir pelaku budi daya ikan telah menyiapkan species baru yang tahan terhadap peningkatan suhu air," terang Rokhmin. (X-15)

BERITA TERKAIT