29 December 2021, 09:46 WIB

Kebutuhan Sinyal di Batudulang untuk Tunjang Pendidikan


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist/Metro TV
 Ist/Metro TV
Kepala Sekolah SMPN 3 Satu Atap Batu Lanteh, Rosdiana, dalam program Melihat Indonesia yang tayang di Metro TV.

PANDEMI covid-19 yang merebak hampir dua tahun ini memaksa dunia pendidikan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Di kota-kota besar yang ditunjang jaringan internet yang baik, kegiatan PJJ mungkin tidak mengalami banyak kedala.

Namun di wilayah terting­gal, terdepan, dan terluar (3T), para stakeholder pendidikan harus berjuang menyiasati proses belajar mengajar dari rumah di tengah keterbatasan sinyal telekomunikasi. Misalnya di wilayah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di SMPN 3 Satu Atap Batu Lanteh, Desa Batudulang, Kabupaten Sumbawa, proses bejalar mengajar jarak jauh belum dapat menggunakan aplikasi seperti Zoom atau video call karena ke­terbatasan jaringan internet. Alhasil, pihak sekolah memanfaatkan handy talky (HT) untuk berkomunikasi dengan murid. Setiap murid dipinjamkan sebuah HT untuk dapat digunakan di rumah. Sementara sang guru memberikan materi pelajaran dari sekolah.

"Ketika masa pandemi covid-19, proses belajar mengajar di sekolah kami menggunakan HT. Ini kita lakukan karena daerah kami sangat minim sinyal,” ujar Kepala Sekolah SMPN 3 Satu Atap Batu Lanteh, Rosdiana, dalam program Melihat Indonesia yang tayang di Metro TV.

Rosdiana menjelaskan, proses pengadaan HT ini adalah ide dari almarhum kepala sekolah sebelumnya. “Jadi pada saat itu bapak kepala sekolah kami mengadakan rapat dengan wali murid untuk pengadaannya, bekerja sama dengan RAPI (Radio Antar-Penduduk Indonesia),” ungkapnya.

Saat itu, para orangtua/wali siswa menyetujui pengadaan HT tersebut lalu pemesanan pun segera dilakukan. Menurut Rosdiana, proses belajar mengajar menggunakan HT ini dibagi per channel atau per gelombang. “Jadi kelas 1 untuk kelas 1, kelas 2 untuk kelas 2, sampai dengan kelas 9. Jadi dibagi channel-nya,” tuturnya.

Desa Batudulang di Kabupaten Sumbawa ini memang menjadi salah satu sasaran pembangunan menara base transceiver station (BTS) oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Sosialisasi pembangunan tower BTS BAKTI pun terus dilakukan kepada masyarakat.

Saat ini untuk mendapatkan sinyal yang baik, warga desa masih harus menuju tempat-tempat tertentu. Salah satunya ada di tempat bernama Bukit Sinyal.

Susi Susanti, siswi SMPN 3 Satu Atap Batu Lanteh, terlihat asyik mengunggah video di aplikasi Tiktok di atas Bukit Sinyal. “Di sini banyak sinyal. Ini tempat paling bagus buat mendapatkan sinyal,” ujar Susi.

Susi pun berharap kondisi sinyal akan semakin bagus di desanya. Jika sinyal sudah bagus, dia ingin membuat banyak vlog tentang desanya dan menyebarkannya ke dunia luas. Susi juga menyebut bahwa ia bercita-cita menjadi dokter. “Saya ingin bisa membantu orang lain,” cetusnya.

Selain Susi, Kepala Desa Batudulang Isnaini dan Kadis PMD Kabupaten Sumbawa, Rachman Ansori, juga harus mencari tempat yang tinggi untuk bisa berkomunikasi melalui telepon.

Di sisi lain, internet yang sudah tersedia di titik-titik tertentu di Desa Batudulang cukup membantu agar pe­ngiriman laporan seperti dana desa, stunting, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), dan penerima bantuan tunai desa, bisa dilakukan melalui e-mail atau aplikasi pesan daring. (Ifa/S2-25)

BERITA TERKAIT