29 December 2021, 09:05 WIB

Karena Pandemi, Peserta Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia Justru Naik Hampir 300%


Faustinus Nua | Humaniora

Instagram
 Instagram
Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka Tahun 2021 diikuti secara daring oleh 5.000 pelajar SMA dan SMK di Sumatra Utara.

PANDEMI covid-19 mendatangkan dua sisi, baik dan buruk. Salah satu hal baik terjadi adalah meningkatnya animo peserta uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI).

Kepala Badan Bahasa Kemendikbudristek, Endang Aminudin Aziz mengatakan UKBI sebenarnya sudah dikembangkan sejak 2019, namun mulai pencanangan UKBI Adaptif resmi diluncurkan pada 2021.

Karena pandemi, tahap pendaftaran hingga penilaian, Badan Bahasa melaksanakannya secara daring. Tidak disangka ternyata animo pendaftarnya melonjak hampir tiga kali lipat, jika dibandingkan momen sebelum covid-19 datang.

“Ketika kami ubah ke metode baru ini, selama 11 bulan, tercatat pesertanya mencapai 166 ribu orang. Berkali-kali lipat jumlahnya dari tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 62 ribu orang. Kecepatan untuk mendapatkan sertifikat UKBI juga hanya memakan waktu sepekan terkirim ke peserta,” jelasnya saat taklimat media, Selasa (28/12).

Sebagai salah satu wujud komitmen Badan Bahasa untuk memartabatkan bahasa Indonesia melalui sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, pada tahun ini Badan Bahasa meluncurkan sebuah aplikasi kebahasaan bernama Aplikasi Penyuntingan Ejaan Bahasa Indonesia (Sipebi). Aplikasi ini bersifat luring mudah alih (portable) yang berfungsi untuk melakukan perbaikan/penyuntingan teks bahasa Indonesia secara otomasi.

“Tingkat kesalahan paling tinggi ada pada pengunaan kata di untuk imbuhan. Menjadi tantangan tersendiri bagi kami bukan hanya urusan ejaan tapi juga tata bahasa,” ujarnya.

Sipebi secara resmi diluncurkan pada 28 Oktober 2021 dan mendapatkan sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat. Sebagai karya perdana dalam hal pemeriksaan ejaan, Sipebi masih dalam tahap pengembangan sehingga dianggap memiliki banyak keterbatasan. “Oleh karena itu, Badan Bahasa sangat terbuka dalam menerima masukan dan saran dari masyarakat pengguna Sipebi untuk dalam upaya penyempurnaan produk ini di masa yang akan datang,” tutur Kepala Badan Bahasa.

Selanjutnya, dalam mendukung Gerakan Linterasi Nasional (GLN), Badan Bahasa pada tahun ini melakukan kegiatan Praktik Baik Literasi bagi Generasi Muda dan Pembinaan Komunitas Literasi. Kegiatan Praktik Baik Literasi bagi Generasi Muda dilakukan dalam rangka meningkatkan budaya literasi, khususnya minat membaca buku nonteks pelajaran dan minat menulis di kalangan generasi muda yang dilakukan di lima kabupaten yakni, Kabupaten Banjar, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanahlaut.

Sementara itu, untuk menambah wawasan dan pengetahuan para pegiat komunitas literasi dalam menggerakkan budaya literasi, terutama literasi dasar baca-tulis kegiatan Pembinaan Komunitas Literasi dilakukan dengan melibatkan pegiat komunitas literasi seperti Kampung Literasi, TBM, dan perpustakaan desa.

“Untuk meningkatkan kualitas buku bahan ajar, kami mengundang penulis profesional yang punya minat menulis bahan literasi dan kami buat sayembara. Ada 800 peserta yang dinilai dari berbagai kelompok dan ditetapkan 75 judul buku yang terpilih kami sebar ke wilayah 3T untuk dicetak tahun depan,” terang Kepala Badan Bahasa.

Target 2022
Di samping itu, pada tahun ini Badan Bahasa juga telah menerjemahkan sejumlah buku teks bahan bacaan anak yakni 1.375 judul cerita anak dan 350 judul buku cerita berbahasa daerah. “Tahun ini ada 1.375 buku terjemahan dari berbagai bahasa asing dan ini akan kami jadikan sebagai bahan pengayaan literasi," katanya.

Tahun depan, Badan Bahasa akan menceta dan mendistribusikan ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) untuk jenjang PAUD dan SD. Karena literasi harus dibiasakan sejak dini. Sementara untuk di wilayah perkotaan, disiapkan dalam bentuk arsip lunak (soft file) sehingga bisa diakses kapan saja, di mana saja.

“Kami juga lakukan penerjemahan dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Agar penulis bahasa daerah dari Sabang sampai Merauke bergairah untuk menulis menggunakan bahasa daerah. Ada 350 judul buku yang berhasil diterjemahkan. Semoga tahun depan lebih banyak lagi,” tambahnya. (H-2)

 

BERITA TERKAIT