24 December 2021, 13:35 WIB

USK Ciptakan Ruang Isolasi Pasien Penyakit Menular yang Aman


Amiruddin Abdullah Reubee | Humaniora

MI/Amiruddin AR
 MI/Amiruddin AR
Staff laboratorium USK sedang mengambil data di ruang isolasi penyakit menular beberapa waktu lalu. 

PENELITI Universitas Syiah Kuala (USK) menciptakan suatu inovasi ruang isolasi pasien yang terpapar penyakit menular melalui udara, seperti Covid-19. Ruang isolasi diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi dokter dan pasien. Tim Riset USK diketuai oleh Rektor, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., IPU., ASEAN.Eng.

Koordinator Humas USK, Ferizal Hasan, kepada Media Indonesia, Jumat (24/12) mengatakan, penelitian ini juga berkolaborasi dengan Prof. T.M. Indra Mahlia, M.Eng dari University of Technology Sydney, Ultimo, New South Wales Australia. Sementara Tim Riset USK sendiri beranggotakan, Prof. Dr. dr. Maimun Syukri Sp.PD-KGH, Dr. Ir Hamdani Umar MT., Dr. Ir Razali Thaib M.Si, MT., Dr. Irwansyah ST., M.Eng., Dr.-Ing. Rudi Kurniawan, ST, M. Sc., Dr Sarwo Edhy Sofyan ST., M.Eng., dan dr. Harapan M.Infect.Dis, DTMH, PhD.

Rudi Kurniawan, seorang peneliti mewakili rekannya menyampaikan, pandemi Covid-19 yang melanda dunia dalam dua tahun terakhir telah memberikan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat. Hal inilah yang mendasari Tim Riset USK untuk melakukan riset tersebut.

Dikarenakan penularan melalui media udara maka pasien yang terinfeksi ditempatkan pada ruangan isolasi yang menggunakan tekanan udara negatif. Menurutnya, ruangan dengan tekanan udara negatif, dapat diartikan tekanan udara di dalam ruangan lebih rendah dibandingkan di luar ruangan.

Alasannya,  ruangan bertekanan udara negatif memiliki sifat untuk dapat menahan virus maupun bakteri yang ada atau masuk ke dalam ruangan, sehingga virus ataupun bakteri tersebut tidak akan keluar dari ruangan.

"Adapun untuk membuat tekanan udara negative pada ruang tersebut maka diperlukan sistem tata udara yang meliputi perangkat sistem pendingin udara, sistem cerdas untuk pengaturan sirkulasi udara di dalam ruang isolaso dan desain penempatan saluran udara masuk dan keluar dari ruangan," tutur Rudi.

Sistem cerdas sirkulasi udara ini berfungsi adalah untuk mengurangi kemungkinan  tertularnya paramedis virus dari penyakit menular tersebut semaksimal mungkin. Pada saat dokter akan melakukan visit ke ruangan isolasi, maka sistem cerdas ini akan melakukan proses tertentu sirkulasi udara tertentu untuk membersihkan udara didalam ruang isolasi dari virus dan yang memberi lampu hijau jika ruang ruang boleh dimasuki oleh dokter.

"Dokter pun diharapkan tidak perlu menggunakan Alat Pelindung Diri yang sangat kompleks, cukup masker saja. Dengan adanya sirkulasi udara yang baik dalam ruangan isolasi, maka resiko penularan penyakit pun diharapkan akan minim," bebernya.

Maka dengan sistem sirkulasi udara seperti itu dapat memberikan rasa aman dan nyaman, baik bagi pasien maupun dokter. Sebab jika dokter masih menggunakan APD yang komplek, pasien akan merasa tidak nyaman.

Sementara itu, Prof Samsul Rizal mengatakan, akhir dari penelitian ini maka para peneliti USK mencoba menawarkan sebuah standar yang dapat dilakukan secara nasional untuk menjadi acuan dapat membangun ruang isolasi untuk perawatan pasien dengan penyakit menular melalui media udara.

Sistem cerdas dalam penelitian ini memerlukan berbagai perangkat lunak dan perangkat keras yang berfungsi sebagai pengumpul data dan mengendalikan sistem sirkulasi udara. Selain itu, untuk mengamati pola aliran udara di dalam ruang isolasi secara visual maka diperlukan sebuah kamera kecepatan tinggi yang mampu merekam aliran udara yang sangat cepat. Peralatan tersebut diadakan dari luar negeri melalui kegiatan importasi.

Dalam kegiatan importasi ini, USK berterima kasih sebesar-besarnya kepada Direktorat Jendral Bea dan Cukai melalu Kantor Pelayanan Utama Tipe C Soekarno Hatta untuk dukungan dalam Pembebasan Bea Masuk dan Cukai atas Impor Barang untuk Keperluan Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan melalui PMK 200 tahun 2019 dengan nilai total pembebasan sekitar Rp550 Juta.

USK juga berterima kasih sebesar besarnya kepada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Aceh (Kanwil DJBC Aceh) atas dukungan dalam proses implementasi PMK 200 tahun 2019 tersebut. Hal ini dimulai Ketika Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Aceh (Kanwil DJBC Aceh) Aceh melaksanakan kegiatan Customs Goes to Campus di Universitas Syiah Kuala pada 30 Juli 2021.

Pada kegiatan tersebut dilakukan sosialisasi kepada peneliti di lingkungan USK dan semua Perguruan Tinggi Negeri lainnya di Aceh tentang tata cara untuk mendapatkan fasilistas Pembebasan Bea Masuk dan Cukai atas Impor Barang untuk Keperluan Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan.

"Sumber pendanaan riset ini berasal dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema yang mereka ikuti, yaitu Rispro International Collaboration & Diaspora, yang salah satu fokus penelitiannya di bidang kesehatan, material dan teknologi, dan maritim," kata Rektor Samsul Rizal.

Tim Riset USK berhasil lolos sehingga berhak menerima dana riset sebesarRp4,9 milyar untuk tiga tahun penelitian yang dimulai dari tahun 2021-2024.(OL-13)

Baca Juga: Presiden Jokowi Tinjau Penerapan Smart City dan Green Building di BSD City

BERITA TERKAIT