16 December 2021, 12:27 WIB

Layar Terkembang Indonesian Dance Festival Kembali Mengarung


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
Layar Terkembang seri Tubuh Virtual merupakan salah satu pelantar program Indonesian Dance Festival (IDF).

LAYAR Terkembang seri Tubuh Virtual merupakan salah satu pelantar program Indonesian Dance Festival (IDF) yang dilaksanakan di 2021 sebagai program menuju 30 tahun IDF di tahun 2022.  

Lima koreografer Indonesia dan internasional yang diasumsikan lekat dengan media sosial dan aktif merepresentasikan diri secara virtual, diundang untuk menciptakan short dance film mengeksplorasi tema Tubuh Virtual bagi interpretasi dan pengalaman mereka masing-masing.

Dengan demikian, pengalaman media akan dikritisi dan dimaknai kembali melalui proses penciptaan koreografi.

Para koreografer terpilih adalah Abib Igal dari Sampit, Kalimantan Tengah (Indonesia), Maharani Pane dari Jakarta, (Indonesia), Minori Sumiyoshiyama dari Yokohama/Kyoto (Jepang), Buboy Raquitico dari Manila, (Filipina), dan Pythos Harris dari Jayapura, Papua, (Indonesia).

Lima karya berbentuk short dance film yang berdurasi 5-8 menit ini akan ditampilkan online di kanal YouTube Budaya Saya pada hari Sabtu (18/12) dan Minggu (19/12).

Selanjutnya pada Rabu, 22 Desember 2021, akan dilaksanakan sebuah Diskusi Dermaga Tari yang mana kelima seniman membahas proses eksplorasi serta kaitan karya mereka dengan tema Tubuh Virtual yang dipandu moderator Gianti Gigi.

Program ini didukung Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru Kementerian  Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), serta diorganisasi bersama dengan The Japan Foundation, Jakarta.

Abib Igal, koreografer muda yang karya tarinya berfokus pada ekspedisi riset terhadap ritual penyembuhan Wadian Dadas dari suku Dayak Ma’anyan di Kalimantan Tengah menyatakan bahwa realitas virtual yang terlihat ada hanya ilusi sedangkan dalam realitas yang tidak terlihat justru terlihat. 

“Dalam realitas virtual yang terlihat ada itu hanyalah ilusi algoritma, sedangkan dalam realitas ritual yang tak nampak justru meng’ada’, sehingga saya terus mempertanyakan bagaimana posisi sakralitas tubuh dalam semesta virtual?,” kata Abib Igal di Sampit, Kalimantan Tengah, Kamis (16/12).

Sedangkan bagi Maharani Pane, eksplorasi Tubuh Virtual memiliki arti mengeksplorasi kesadaran tubuh dan pada alam bawah sadar tubuh, dimana Ada batas dan garis besar antara ruang mimpi dan ruang realitas, begitu juga dengan dunia virtual. 

“Ada batas dan garis besar antara ruang mimpi dan ruang realitas, begitu juga dengan dunia virtual, apapun yang terjadi dalam ruang virtual pun selalu berkaitan dengan yang terjadi pada ruang realitas,”  ujar Maharani Pane di Jakarta. 

Seri tubuh virtual

Layar Terkembang 2021 seri Tubuh Virtual berangkat dari gagasan eksplorasi pengalaman tubuh fisik dan tubuh virtual yang disebabkan pengalihan presentasi seni tari dan pertunjukan ke ruang digital secara besar-besaran dalam masa pandemi Covid-19. 

Identifikasi kita terhadap perbedaan antara ruang fisik di IRL (In Real Life) dan ruang virtual di online live, menjadi sangat tebal dan terasa.

Seri Tubuh Virtual ini menawarkan refleksi yang tajam pada bagaimana citraan tubuh dalam kaitannya dengan Online Self Representation (mengutip dari Smith dan Watson, 2014) dihadirkan di kehidupan online dan hubungannya dengan kehidupan offline atau IRL (In Real Life).

Buboy Raquitico, seniman gerak dari Manila, Filipina, karyanya yang berjudul “Welcome” menggunakan Karaoke sebagai titik masuk untuk memahami diri serta hiburan komunal sebagai mekanisme adaptif yang ia lakukan di rumah untuk mengatasi isolasi di rumah di masa pandemi. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT