16 December 2021, 10:40 WIB

Budaya dan Bahasa Sarana Pembentukan Pendidikan Karakter


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

ANTARA/Prasetia Fauzani
 ANTARA/Prasetia Fauzani
Seorang anak memainkan wayang dari karton saat pentas wayang bocah di Sekolah Alam Ramadhani, Kelurahan Mojoroto, Kediri,  Jumat (5/11/2021)

PENELITI Paramadina Institute of Education Reforms Dr. M. Abduhzen menilai selama ini terdapat kekeliruan cara memandang proses pendidikan karakter di sekolah, proses pendidikan karakter memang betul untuk membentuk seutuhnya karakter agar menjadi manusia berbudaya.

"Namun sesungguhnya proses pendidikan yang benar adalah include di dalamnya pembentukan karakter. Tidak dipisah antara pendidikan seni budaya dan pendidikan karakter," kata Abduhzen, Kamis (16/12).

Selama ini masyarakat umum menganggap pendidikan karakter hanya berisi pelajaran agama, budi pekerti, PPKN, tapi lupa bahwa karakter sangat dipengaruhi oleh pelajaran matematika, dan ilmu-ilmu scientific seperti biologi, fisika, kimia.

Baca juga: Kurikulum 2022, Tak Ada Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA

Karena basis pembentukan karakter adalah ketika orang mampu berpikir logis dan rasional karena terbiasa berpikir oleh ilmu-ilmu scientist.

Menurutnya tidak heran dalam rangking PISA anak-anak didik di Indonesia tidak mampu beranjak dari posisi 6 terbawah dunia, karena memang tidak dibiasakan berpikir ilmiah, karenanya mereka punya kemampuan science yang lemah. Ketika diberikan soal-soal science maka kemampuan berpikir atau bernalar jeblok karena tidak terlatih berpikir.

"Evaluasi atas problem pendidikan nasional pertama, problem pendidikan nasional telah melampaui kapasitas departemental atau diserahkan hanya pada level kementerian, tetapi harus ditangani terpadu sampai pada tingkat negara dan dipimpin langsung oleh kepala negara," ujarnya.

Kedua, siswa didik harus dibiasakan mau berpikir dengan proses menggunakan nalar. Kemampuan bernalar sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang berkarakter unggul.

"Ketiga, proses belajar mengajar harus menggunakan proses dialogis dengan penggunaan bahasa yang benar, sebagai media pencerdasan. Karena itu membenahi bahasa berarti sedang membenahi cara berpikir," ungkapnya.

Baca jugaMelawan Dosen Pelecehan Seksual di Lingkup Kampus

Guru Besar Falsafah & Agama Universitas Paramadina Prof Abdul Hadi WM mengatakan pendidikan nasional bisa bergairah kembali jika pendidikan Bahasa kembali diperhatikan.

Sayangnya saat ini bahasa hanya dipakai sebagai sarana komunikasi tetapi tidak digunakan untuk berpikir. Padahal semakin canggih berbahasa maka akan semakin mendukung kecerdasan.

"Sehingga perlu diperkuat dan dipahami ihwal kearifan lokal. Sebenarnya kearifan lokal tertera pada kitab-kitab keagamaan, filsafat, sastra yang sayangnya sudah jarang dipelajari," ungkapnya.

Padahal kearifan lokal dalam pendidikan sangat berpengaruh pada pembentukkan karakter anak di sekolah. Ditambah dengan peran bahasa yang bisa mempermudah pembentukan karakter anak sehingga etos dan seni budaya bisa terbentuk karena 2 unsur tersebut merupakan aspek penting dalam menanggapi aneka corak kehidupan.

"Pendidikan merupakan investasi bernilai strategis yang merupakan penanaman modal sumber daya manusia nasional. Perjalanan pendidikan kita masih terus mencari pola dan tak tahu sampai kapan ujungnya," kata Wakil Rektor Bidang Akademik, Universitas Paramadina Fatchiah E Kertamuda.

Terlebih dengan munculnya pandemi covid-19 membuat para tenaga pengajar menjadi harus menyesuaikan sistem pengajaran yang tidak mudah.

"Setiap kebudayaan memiliki local wisdom yang bisa dikembangkan menjadi sistem perilaku. Bagaimana setiap orang bisa tumbuh pertama dari lingkungan keluarga yang kondusif," ungkapnya.

"Namun mengubah semuanya tentu tidak mudah dan butuh waktu. akhlak mulia tidak mungkin bisa dibentuk dalam satu dua hari. Tetapi butuh proses panjang.," pungkasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT