16 December 2021, 07:30 WIB

Wader Pari, si Mungil dengan Potensi Ekonomi Besar


Bambang Retnoaji | Humaniora

Dok. UGM
 Dok. UGM
Telur wader pari. 

MUNGKIN belum banyak orang familier dengan nama Rasbora lateristriata, tetapi ketika disebutkan nama wader pari, banyak yang menjadi penggemar setia jenis ikan lokal ini, terutama di daerah Jawa Tengah. Di antara masyarakat setidaknya pernah membawa oleh-oleh camilan wader goreng untuk kerabat dan sahabat.

Wader pari salah satu yang diburu penikmat kuliner. Saat dicampur dengan racikan bumbu-bumbu tradisional dan tepung terigu, wader goreng mewujud camilan keripik, sambel, hingga abon yang enak dan nikmat. Ikan khas Indonesia itu banyak dijumpai di Pulau Sumatra, Jawa, Bali, hingga Lombok.

Tak ayal, wader pari sangat diminati para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) makanan. Sektor tersebut mencari ikan itu sebagai bahan baku untuk produk olahan mereka. Akan tetapi, karena kurangnya suplai, sering kali UMKM mencampur keripik mereka dengan ikan jenis lain atau mendatangkannya dari wilayah luar Jawa.

Selain karena rasanya yang enak, produk olahan wader memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kebutuhan protein hewani yang sangat penting bagi tubuh dapat diperoleh dengan harga terjangkau dari wader.

Wader pari mempunyai ciri khas garis yang memanjang dari belakang tutupan insang sampai ekor. Perbedaan ikan jantan dan betina terletak pada bentuk tubuh. Yang betina mempunyai perut relatif lebih besar, sementara pejantan dengan bentuk tubuh yang ramping.

Meski ukurannya mungil dengan rata rata 10 cm dan berat 10 gram, wader pari nyatanya memiliki potensi ekonomi luar biasa. Harganya di pasaran cukup mahal, mencapai Rp35 ribu-Rp55 ribu per kilogram untuk yang mentah. Jika kualitasnya baik, harganya dapat melambung hingga Rp65 ribu per kg.

 

Tantangan dan pembudidayaan

Besarnya potensi wader pari membuat banyak masyarakat mencari dan menangkap ikan itu di alam bebas. Memiliki demand dan harga jual tinggi mengakibatkan ikan lokal Indonesia tersebut banyak diburu hingga populasinya mengalami penurunan drastis di habitat alamnya.

Menurut International Union for Conservation of Nature’s (IUCN) Red List of Threatened Species, setidaknya populasi wader pari hanya 10 ribu hingga 100 ribu individu di alam liar. Faktor lain penyebab penurunan populasinya ialah dominansi ikan invasif yang kian meningkat di perairan Indonesia. Padahal, wader pari juga berperan dalam rantai makanan dan menjadi bioindikator kelestarian sungai.

Permasalahan itu pun mendorong Tim Gama Wader Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti wader pari pada 2013. Tim peneliti yang saya pimpin melakukan sampling di Sungai Baros dan Kali Code, Bantul, Yogyakarta. Kegiatan tersebut bertujuan mempelajari dan mengadaptasi wader pari menuju laboratorium.

Tim berfokus pada cara pembudidayaan wader pari karena belum ada metode pembudidayaan ikan itu. Belakangan diketahui, ikan itu hanya memiliki satu kali siklus reproduksi dalam satu tahun, yakni saat pergantian musim hujan. Pola reproduksi seperti itu tentunya berpotensi mengarah ke kepunahan populasi wader pari di alam akibat overfishing.

Di lain sisi kegiatan budi daya juga tidak menguntungkan sebab dalam praktiknya mengharuskan adanya ketersediaan benih kapan pun diperlukan. Karena itu, tim mencoba mengatasi tantangan tersebut dengan mengembangkan pola reproduksi yang lebih singkat.

 

Inovasi pemijahan

Dari usaha dan serangkaian kegiatan riset panjang yang kami jalankan, pada 2015 Tim Gama Wader berhasil melakukan pemijahan wader setelah memilih indukan yang bagus dan yang mampu beradaptasi. Hasil anakan menjadi bibit pijahan saat ini, yang merupakan generasi ketiga dan keempat dari proses seleksi di laboratorium.

Tim Gama Wader pun berhasil melakukan sejumlah adaptasi pada wader pari, seperti adaptasi perilaku, pola makan, pertumbuhan, hingga pemijahan. Salah satu kunci proses adaptasi ialah berbagai rekayasa penyesuaian kondisi yang terkontrol di laboratorium.

Alat pemijahan, misalnya, dibuat layaknya situasi musim hujan dengan gemericik air. Pakan yang kami aplikasikan juga memiliki kandungan protein 30% lebih tinggi. Wader pari hasil adaptasi juga sudah dapat mengonsumsi pakan pelet komersial.

Alhasil, berkat teknik pemijahan buatan itu, ikan yang alaminya hanya dapat melakukan pemijahan satu kali dalam setahun bisa dipercepat menjadi satu kali dalam dua minggu. Usia produksinya pun mampu mencapai lima tahun.

Keberhasilan itu menjadi potensi yang besar dalam budi daya perikanan mengingat jumlah telur yang dihasilkan juga banyak. Satu induk betina dapat memproduksi kurang lebih 1.000-2.000 butir telur dalam satu kali pemijahan.

Selain itu, Tim Gama Wader mengembangkan alat pemijah wader pari portabel yang mempunyai mobilitas tinggi sehingga dapat digunakan di dalam dan luar ruangan. Alat itu dapat dihubungkan langsung dengan bak pembesaran untuk meminimalkan kerusakan telur. (Dro/Hym/X-6)

BERITA TERKAIT