13 December 2021, 11:58 WIB

STIE Kasih Bangsa Gelar E-Seminar Bertema Inkubator Inovasi 'Leadership For Change'


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
STIE Kasih Bangsa menggelar E-Seminar Nasional ke-63 dengan tema Inkubator Inovasi 'Leadership For Change'..

SEKOLAH Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kasih Bangsa kembali menggelar E-Seminar Nasional yang ke-63 pada Sabtu (11/12) dengan tema Inkubator Inovasi 'Leadership For Change'.

Tema Inkubator Inovasi ini merupakan program dari STIE Kasih Bangsa untuk mengaplikasikan Merdeka Belajar yang menjadi program unggulan pembelajaran Kampus Merdeka Belajar dari Ditjen Diktiristek, Kemendikbudristek

Pada awal pembuka Ketua STIE Kasih Bangsa, Ruslaini SE, M.M mengemukakan bahwa jumlah pengusaha di Indonesia masih tertinggal jauh dari beberapa negara di asia seperti negara tetangga Singapore dan Malaysia.

"Secara realita Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa baik kekayaan alam juga kekayaan sumber daya manusia di mana Indonesia merupakan negara dengan peringkat ke-4 dengan populasi terbesar di dunia, mirisnya jumlah penggangguran di Indonesia meningkat di mana penyumbang yang besar di Angkatan Pendidikan SLTA dan lulusan S1," papar Ruslaini. 

"Sehingga sangat diharapkan bahwa lahir lebih banyak lagi para entrepreneur yang dapat memperbanyak lapangan pekerjaan," imbuhnya.

Dalam seminar Inkubator Inovasi ini, STIE Kasih bangsa berkolaborasi dengan Badan Ristek dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan menghadirkan narasumber Plt. Direktur Manajemen Talenta BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, Ph.D.

Dalam pemaparannya, Arthur mengatakan bahwa Indonesia sedang mempersiapkan Generasi Emas tahun 2045.

"Untuk itu diharapkan bahwa seluruh generasi muda mampu keluar dari zona nyaman dan mulai melakukan terobosan terutama dalam inovasi agar lebih siap menjadi generasi muda yang dapat menjadi innovation entrepreneur atau innopreneur," jelas Arthur.

"Dengan kata lain menjadi entrepreneur berbasis Inovasi yang diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan sebanyak banyaknya bagi bangsa Indonesia," ucapanya.

Menurut Arthur, membahas lebih lanjut bagaimana Generasi Emas tahun 2045 tidak luput dari peran pemimpin.

Ia menyampaikan bahwa pemimpin harus dapat memberikan pengaruh bagi orang lain, mampu membawa perubahan karena dalam beradaptasi dalam perubahan memerlukan waktu.

"Sehingga pemimpin yang efektif dalam membawa perubahan harus memiliki talenta dalam berkomunikasi, berkolaborasi dan tentunya memiliki komitmen dengan didukung oleh support system yang ada," papar Arthur.

"Seorang pemimpin yang efektif dalam membawa perubahan juga harus memiliki kompetensi yang membawa perubahan itu sendiri, inisiatif, stategi dan juga mampu mengeksekusi proses sejak awal sampai dengan akhir," jelasnya.

Pada sesi kedua dimana narasumber yang datang dari pelaku innopreneur yaitu Gringgo.id yang merupakan salah satu start-up yang suskses dengan misi menjadikan lingkungan Inonesia menjadi lebih bersih dan membawa manfaat ekonomis bagi masyarakat Indonesia.

CEO dari Gringgo.idFebriadi Pratama atau yang akrab disapa dengan Febri mengemukakan bahwa bagi anak muda yang akan membuat suatu usaha wajib dan harus memiliki goal yang jelas yang memang berasal dari masalah-masalah atau isu yang sering dijumpai dimasyarakat.

"Solusi yang diberikan akan membawa perubahan untuk menyelesaikan masalah yang ada," uacapnya.

Febri juga mengajak generasi muda untuk mendistrupsi industri yang sudah ada dan maju sehingga industri mau melihat dan menerima sesuatu yang baru untuk dapat dikembangkan menjadi suatu kebaruan yang inovatif dan memberikan solusi dari masalah yang ada.

Pada sesi terakhir, menghadirkan narasumber  dari Goplay member dari Gojek yang merupakan perusahaan karya anak bangsa yang sudah menyandang startup decacorn.

Chief Revenue Officer (CRO) Goplay, Laode Hartanto, dikenal sudah malang melintang di perusahaan kaliber nasional dan internasional seperti RCTI, EMTEK Group, dan Facebook.

Dalam paparannya, Laode Hartanto atauakrab disapa dengan Tanto, memfokuskan pada bagaimana seorang leadership dapat membawa perubahan bagi orang lain terutama tim di perusahaannya.

Tanto juga mengatakan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang menciptakan pemimpin pemimpin baru bukan hanya menciptakan pengikut bagi dirinya.

Ia juga mengatakan bahwa dasar dari seorang pemimpin yang baik harus memiliki tiga komponen utama yaitu interpersonal communication, conflict management, dan problem solving . 

Pada akhir seminar, Ketua LPPM dr. Dr Eka Wahyu Kasih mengambil kesimpulan bahwa dalam seminar ini seluruh peserta dibawa ke dalam kelas perkuliahan S2 dan S3 di mana pada level ini isi dari seminar yang disampaikan Direktur Manajemen Talenta BRIN untuk membimbing semua peserta untuk menjadi innoupreneur dengan wawasan riset dan keterbaruan inovasi.

Lalu dilanjut kedua pembicara yang berasal dari praktisi startup yang berhasil mengharumkan nama bangsa yang memberikan inspirasi baik dari tujuan usaha yang dibangunnya juga bagaimana cara para pemimpin ini memberikan wawasan menjadi seorang pemimpin yang baik untuk institusinya.

Terselenggaranya e-seminar yang didukung oleh Media Indonesia, Medcom.id, PT. Ambico, Frisian Flag, dan Vicenza dengan dihadiri lebih dari 400 peserta yang setia menyaksikan sampai acara usai.

Peserta yang hadir selain dari mahasiswa STIE Kasih Bangsa juga dari sekolah lanjutan tingkat atas dan SMK, juga universitas dari penjuru di Tanah Air.

Dalam seminar ini peserta sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan, menggali informasi dan wawasan dari seluruh narasumber yang hadir pada E-Seminar Nasional Inkubator Inovasi “Leadership For Change”. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT