10 December 2021, 19:50 WIB

Seberapa Kuat Orang Indonesia Menghadapi Pandemi Covid-19? Ini Hasil Studinya


Atalya Puspa | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Ilustrasi

KETAHANAN rumah tangga dalam menghadapi pandemi covid-19 yang telah berjalan dua tahun masih terbilang rapuh. Hal tersebut diungkap dalam survei yang dilakukan oleh Smeru Institute.

"Saat ini kegiatan ekonomi memang sudah berjalan. Namun pemilihan ekonomi di tingkat rumah tangga masih rapuh," kata Peneliti Utama Smeru Institute Asep Suharyadi dalam acara bertajuk IVR Report Unicef: Dampak Sosial Ekonomi Pandemi Covid-19 terhadap Rumah Tangga di Indonesia yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (10/12).

Dikatakan Asep, survei tersebut dilakukan sebanyak tiga kali putaran sejak Oktober 2020 hingga 2021. Adapun, pada putaran pertama, survei dilakukan dari 7 hingga 19 Desember 2020 dengan melibatkan sebanyak 3.315 rumah tangga. Selain itu, survei putaran kedua dilakukan pada 21 Desember 2020 hingga 6 Januari 2021 dengan melibatkan 2.821 rumah tangga. Dan terakhir, putaran ketiga pada 8 hingga 22 Januari 2021 yang melibatkan 3.458 rumah tangga.

Dari survei tersebut, diketahui bahwa permasalahan pendapatan yang dialami rumah tangga di Indonesia sebenarnya cenderung menurun. Hal itu terlihat dari penurunan persentase keluarga yang mengalami penurunan pendapatan dari yang tadinya 78,9% pada survei putaran pertama menjadi 53,4% pada survei putaran ketiga.

"Sayangnya perekonomian rumah tangga masih rapuh. Pasalnya, setengah dari keluarga yang mengikuti survei masih mengalami fluktuasi pendapatan," beber dia.

Adapun, survei tersebut juga mengungkap bahwa sebanyak 37% rumah tangga mengalami peningkatan pengeluaran untuk makanan pada 2021 dibanding 2020. Permasalahan tersebut, akhirnya berdampak pada pengurangan porsi makan serta ketidakmampuan dalam menyediakan makanan yang bergizi bagi anak.

Hal yang disoroti dalam survei tersebut selanjutnya ialah mengenai bantuan sosial. Dikatakan bahwa 4 dari 10 rumah tangga telah mendapatkan bantuan sosial baik pangan maupun tunai.

"Namun permasalahan yang terjadi banyak masyarakat yang mengeluhkan bahwa sifat pencairan bantuan tidak terjadi setiap bulan," beber dia.

Berikutnya, permasalahan yang dialami rumah tangga di masa pandemi ialah mengenai kendala terhadap pembelajaran jarak jauh. 9 dari 10 rumah tangga mengaku banyak mengalami kendala saat anaknya harus melakukan PJJ.

"Lebih dari setengah rumah tangga mengalami keterbatasan akses internet dan anak-anak yang tinggal di pedesaan sangat merasakan dampak ini. Hampir 62% menyatakan bahwa keterbatasan internet merupakan isu utama pembelajaran," jelas Asep.

Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut, Asep kemudian mengeluarkan sejumlah rekomendasi kebijakan yang mungkin bisa diimplementasikan pemerintah agar memperkuat rumah tangga dalam menghadapi pandemi.

Pertama, melanjutkan program bantuan sosial, khususnya bagi keluaga yang memiliki anak. Selanjutnya, pemerintah jga harus memberikan bantuan tunai kepada keluarga untuk kesehatan dan nutrisi keluarga.

Berikutnya, pemerintah juga harus mengeluarkan kebijakan untuk membantu tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan. Terakhir, berikan dukungan pada pendidikan anak, mental keluarga, hingga akses terhadap layanan kesehatan. "Itu juga harus diperhatikan pemerintah," beber dia. (H-2)

BERITA TERKAIT