07 December 2021, 15:00 WIB

Tari Ja'i dari Ngada Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda


Palce Amalo | Humaniora

MI/Palce Amalo
 MI/Palce Amalo
Tari  Ja'i merupakan tarian tradisional yang dilakukan secara massal oleh laki-laki dan perempuan sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembira

TARI Ja'i, tarian tradisional asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia.

Sertifikat penetapan warisan budaya tersebut dijadwalan diserahkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim kepada Bupati Ngada, Paru Andreas di Jakarta, Selasa (7/12) malam.

"Ja'i adalah adalah warisan budaya tak benda NTT yang ke-30 yang ditetapkan di tingkat nasional," kata Kabid Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Robby Ndun kepada Media Indonesia. Ja'i merupakan tarian tradisional yang dilakukan secara massal oleh laki-laki dan perempuan sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan.

Sebelumnya, Kemdikbudristek menetapan alat musik tradisonal Sasando dan Topi Ti'i Langa asal Kabupaten Rote Ndao sebagai warisan budaya tak benda.

Robby berharap setelah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, tarian ja'i semakin dikenal dan diminati masyarakat, serta berkembang menjadi salah satu atraksi budaya yang menarik.

Menurutnya, NTT memiliki 293 obyek kebudayaan dari 22 kabupaten dan kota yang telah diregistrasi. Dari jumlah itu, obyek kebudayaan yang sudah ditetapkan secara nasional 30 obyek yang berasal dari 19 kabupaten.

Masih ada sekitar 27 obyek kebudayaan di NTT yang telah dicatat oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, antara lain 301 tradisi lisan, 50  manuskrip, 7.461 koleksi musemum, tuju organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 84 hasil kajian sejarah pejuang lokal, 12 kajian koleksi museum, 19 kajian megalitik, dan 895 cagar budaya.

Selain itu, terdapat 647 cerita rakyat, 1.121 ritual atau upacara adat, 375 permainan tradisioal, 458 pengetahuan tradisional, 463 teknologi tradisional dan 86 bahasa daerah tersebar di 22 kabupaten dan kota. Namun, sebanyak 11 bahasa daerah di antaranya hampir punah.

"Bahasa daerah yang hampir punah itu seluruhnya berasal dari Kabupaten Alor," kata Robby Ndun. (OL-13)

Baca Juga: PPKM Beda Level Tuntut Kolaborasi Pengawasan yang Baik Antardaerah

 

BERITA TERKAIT