05 December 2021, 19:26 WIB

Pembangunan GKI Yasmin Dimulai


Dede Susianti | Humaniora

MI/Dede Susianti
 MI/Dede Susianti
Peletakan batu pertama GKI Yasmin

GEDUNG Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin yang kini disebut GKI Pengadilan di Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, resmi dimulai pembangunannya. Pembangunan GKI Pemgadilan yang terletak di Jl KH Abdullah Bin Nuh ditandai dengan peletakan batu pertama, Minggu (5/12).

 

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik, Dirjen Binmas Kristen Kementrian Agama Thomas Pentury yang mewakili Menteri Agama, perwakilan dari pihak GKI Pengadilan Tri Santoso, perwakilan FKUB dan perwakilan LPM (lembaga pemberdayaan masyarakat) Cilendek Barat.

 

Bima Arya mengatakan, pembangunan GKI Pengadilan bukan persoalan membangun gedung gereja saja. Ini adalah membangun tatanan toleransi di negara Indonesia dengan sistem kebersamaan. "Izinkan saya mengawali sambutan ini dengan mengucapkan berribu- ribu maaf, berjuta- juta maaf dari hati paling dalam pada keluarga besar GKI karena moment ini terlambat 15 tahun. Harusnya bisa lebih cepat supaya jemaat GKI Pengadilan bisa menjalani ibadah dengan tenang dan damai lebih cepat lagi," ujar Bima dalam sambutannya 

 

 

Meski demikian lanjut Bima, pembangunan bukan akhir dari segalanya dan prosesnya bukan berhenti sampai di situ saja. Menurutnya, di depan akan banyak tantangan. Namun tentunya ini harus disyukuri sebagai bagian proses pembelajaran untuk menguatkan toleransi ke depan.

"Di hadapan kita, di samping kita, mungkin di belakang kita masih ada orang-orang yang belum paham makna toleransi. Tidak ngerti lingkungannya, keluarganya, ayahnya, sekolahnya, pengajiannya, partai politiknya, apapun lingkungannya membuat dia gak paham toleransi. Terapinya tentu edukasi," ungkapnya.

 

Ia melannutkan, toleransi kadang diabaikan oleb orang yang memahami maknanya tapi karena kepentingan ekonomi, agenda pragmatis kemudian menjadi intoleran. Kata kuncinya, tidak cukup dengan komunikasi dan edukasi saja.

 

"Saya kira dua kata kuncinya yaitu konsistensi dan konstitusi di sini menghadapi orang-orang yang seperti ini. Jadi sekali lagi, ikhtiar besar kita mungkin ke depan ada hujan, ada badai, ada topan, tapi Insyaallah pengalaman kedepankan edukasi, komunikasi silaturahmi, konsistensi dan diujungnya dan pondasi kita konstitusi tadi, bisa diatasi,"katanya.

 

Dia mengatakan, semua memegang peranan dan andil. Tidak saja pemkot, tapi juga tentu pihak sinode, pihak majelis jemaat dan terutama FKUB, MUI (majelis ulama Indonesia), DMI (dewan masjid Indonesia), RT,RW, LPM semua mendukung.

"Jadi ini hasil kebersamaan kita semua. Insyaalah kita akan kawal tidak saja sampai ini berdiri dan di resmikan. Tapi selama gereja ini berdiri. Selama itulah kebebasan untuk menjalankan ibadah semua teman -teman,"pungkas Bima

 

Sementara itu, Juru Bicara Tim 7 atau perwakilan dari GKI Pengadillan Arif Zuwana berterima kasih atas nama jemaat GKI Pengadilan. Menurutnya, itu monumental sekali karena setelah bertahun-tahun, berpuluh tahun berpolemik, namun karena ada komunikasi, silaturahmi dan komitmen akhirnya terselesaikan dan pembangunan gereja terwujud.

 

"Hari ini membuktikan bahwa komitmen pemerintah dalam hal ini Pemkot Bogor, benar -benar membuktikan bahwa negara hadir dalam melindungi rakyatnya dalam membangun rumah ibadah,"katanya.

 

Dia menjelaskan dengan komunikasi yang difasilitasi oleh Pemkot Vogor, pihak GKI dan tim 7 bersama pemangku kepentingan di Kota Bogor, para ulama, FKUB, masyarakat sekitar, tokoh-tokoh yang lain, akhirnya ada titik temu.

 

"Di sinilah, inilah titiknya. Ini menjadi monumen bagi bangsa Indonesia. Bahwa permasalahan tidak bisa diselesaikan jika tidak ada komunikasi dan tidak benar bahwa di Bogor ada diskriminasi keagamaan. Dan tidak benar bahwa di Bogor adalah kota yang intoleran. Ini sudah kita buktikan. GKI dalam hal ini membuktikan," pungkasnya. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT