02 December 2021, 23:38 WIB

Pakar : Asal Tidak Berlebihan, MSG Aman Dikonsumsi 


Mediaindonesia.com | Humaniora

Dok. pribadi
 Dok. pribadi
Diskusi mengenai tren pangan 2022

PANDEMI Covid-19 turut mengubah pola konsumsi masyarakat, yang akhirnya mulai berinovasi menciptakan sajian yang mengundang selera melalui inovasi ingridien pangan. Meski demikian, di masyarakat masih santer terdengar bahayanya penggunaan monosodium glutamat (MSG). 

“MSG aman atau tidak sih? Sebetulnya dari sisi kajian itu sudah lama dikaji. Sejak 1988, melalui peraturan no.23 MSG dinyatakan aman dikonsumsi sebagai bahan penguat rasa, dengan penggunaan secukupnya dan tidak berlebihan.” kata Pakar Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Purwiyanto Hariyadi di acara webinar Tren Pangan 2022 Bersama MNG yang digelar Persatuan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia (P2MI) , Kamis (2/12).  

Peraturan menteri kesehatan-Permenkes tahun 1988 telah diperbaharui menjadi Permenkes Nomor 33 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan dengan isi yang sama yaitu menyatakan bahwa MSG aman dikonsumsi sebagai bahan penguat rasa Umami. 

Tidak heran, dengan penggunaan MSG di masa pandemi seperti sekarang ini banyak orang berinovasi membuat makanan sendiri di rumah maupun untuk berwirausaha. Hal itu karena MSG dapat memberi cita rasa kenikmatan Umami yg lezat. 

“Cita rasa atau kenikmatan dalam pangan itu penting membangun rasa happy atau senang dan juga mood booster saat mengonsumsi sesuatu. Ini juga penting berkenaan dengan kesehatan mental,” ujar Purwiyanto. 

Purwiyatno menegaskan asupan makanan tentu menjadi hal yang penting bagi masyarakat saat ini, khususnya ditengah pandemi Covid-19. Hal ini juga tak lepas dari kebiasaan generasi milenial yang hobi dan mencoba mengkonsumsi berbagai makanan baru.  

Menurut dia, diperlukan inovasi terkait asupan makanan diantaranya yang memberikan jaminan keamanan, memaksimalkan unsur yang diinginkan, serta meminimalkan unsur yang tidak diinginkan.  

"Karena pada dasarnya, nilai pangan itu dilihat dari sejauh mana keamanan pangan tersebut aman terhadap kita yang mengkonsumsinya baik secara jasmani dan rohani. Oleh karenanya diperlu inovasi untuk flavor Texture, sensori, cita-rasa, kenampakan, lokalitas, gizi, home cooking, lingkungan atau unsur yang diinginkan. Serta meminimalkan unsur yang tak diinginkan diantarnya fungsionalitas, waktu persiapan, dan kompleksitas Harga", tutur Purwiyatno. 

Ia juga menjelaskan betapa pentingnya berinovasi ingredien pangan yakni pada bahan (bahan baku, bahan tambahan, zat gizi, bahan fungsional) yang digunakan dalamkegiatan produksi pangan dengan berbagai tujuan. Salah satunya adalah bumbu pembangun rasa dasar yaitu manis, asam, asin, pahit, umami.  

"Salah satunya adalah MSG (MNG) dan bumbu/bahan Umami lainnya yang mampu memberikan cita rasa dan turut memberikan kecukupan asupan pada orang yang memakannya. Melalui penelitian yang sahih asupan natrium/Sodium dari garam dapur dapat dikurangi sebesar sekitar 30% dengan penambahan sedikit MSG, dimana hal itu sama sekali tidak mempengaruhi tingkat kesukaan," jelasnya.  

Baca juga : Peringatan Hari Disabilitas Internasional Jadi Momen Penghormatan Bagi Penyandang Disabilitas 

Purwiyatno menjelaskan, ssupan gizi (dari pangan) yang baik dan cukup sangat penting untuk kesehatan. Hal ini dapat dipenuhi melalui kecukupan asupan ditambah citarasa pangan itu sendiri.  

"Terutama pada saat sistem kekebalan tubuh diperlukan untuk melawan Covid-19," ucapnya.  

Ketua Bidang Komunikasi P2MI Satria Gentur Pinandita, menjelaskan kehadiran asosiasinya adalah untuk memberikan informasi yang benar dan faktual tentang MSG dan turunannya kepada masyarakat dan instansi terkait.  

"Hingga saat ini pemberitaan atau artikel terkait MSG yang berintonasi negatif masih kerap muncul. Surat tanggapan dari tahun ke tahun makin menurun publikasinya. Per tahun 2021, efektifitasnya hanya 6%. Performa yang bagus di tahun 2018, karena memang nama asosiasi baru muncul dan media banyak yang memberitakan. Oleh karenannya kedepan P2MI akan lebih proaktif menyebarkan informasi melalui aset sendiri. Kami akan lebih sering bersosialisasi dan mengedukasi," paparnya.  

Ia menjelaskan, MNG merupakan nutrisi yang aman dikonsumsi. Dalam hal ini untuk para yang suka memasak menggunakan garam kini dapat menggantikan penggunaan garam berlebih dengan melakukan subsitusi menggunakan MNG. 

"Misalnya, biasa satu sendok teh garam, bisa kita substitusi setengahnya dengan MNG. Nah ini membantu kita untuk mengurangi konsumsi garam yang cukup signifikan," ujar Satria. 

MSG merupakan bagian dari pangan untuk menciptakan makan gizi seimbang. Namun, penggunaan MSG juga harus disertai dengan mengonsumsi makanan beraneka ragam agar asupan yang ada bisa saling melengkapi.  

“Makanan memiliki komposisi zat gizi yang berbeda-beda dan satu sama lain saling melengkapi untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Hera Nurlita, Sub Koordinasi Subtansi Mutu Gizi Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan.  

Menurut Corporate Executive Chef Hotel, Freddy Demianus, penggunaan MSG di kalangan milenial akan menjadi tren di tahun 2022 mendatang. Hal itu karena banyaknya kalangan milenial yang meminati makanan bercita rasa asin dan gurih/Umami atau mengandung MSG.  

“Namanya orang Indonesia meskipun Healthy Food dia bakal bosen juga. Orang yang tadinya tidak suka pakai MSG, dia kangen buat pakai MSG lagi. Apalagi rata-rata makanan tradisional Indonesia menggunakan MSG sebagai bahan cita rasa yang khas,” tukasnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT