27 November 2021, 04:30 WIB

Orangutan Jantan Terekam Makan Kukang di Kalimantan


Basuki Eka Purnama | Humaniora

MI/Dok Kristana Parinters Makur
 MI/Dok Kristana Parinters Makur
Seekor orangutan jantan bernama Molong telah menangkap seekor kukang dan akan memakannya.

AKTIVITAS memakan daging merupakan kejadian langka dalam aktivitas makan orangutan. Berdasarkan laporan, sampai saat ini, baru terdapat kurang lebih 12 kasus orangutan memakan daging. Kasus itu terjadi pada orangutan Sumatra dan orangutan Kalimantan. Hal itu diungkapkan peneliti Universitas Nasional Kristana Parinters Makur kepada Media Indonesia, Sabtu (27/11)

"Sampai saat ini informasi mengenai orangutan memakan kukang hanya terjadi pada orangutan Sumatra dan belum pernah terdata pada orangutan Kalimantan," ujar Kristana.

Kasus di Kalimantan umumnya terkait dengan memakan tikus dan tupai. Namun, pada 2021 melalui jurnal Primates, tim gabungan dari Universitas Nasional, Rutgers, dan Zurich mempublikasikan kasus pertama orangutan Kalimantan memakan daging kukang.

Baca juga: Tiga Ekor Orangutan Dilepasliarkan di Hutan Kapuas Hulu

Peristiwa tersebut terekam pada 2017 di Stasiun Riset Orangutan Tuanan. Namun, dengan proses penelitian dan penulisan jurnal ilmiah yang cukup panjang, jurnal mengenai peristiwa tersebut baru diterbitkan pada 2021. 

Kristana adalah peneliti asal Indonesia yang merekam detik-detik kukang tersebut menjadi makan siang orangutan jantan dewasa. Saat itu, dia melakukan pengamatan bersama Mardianto dan Tono. 

Pengambilan data perilaku harian orangutan independen di Tuanan dimulai sejak 2003 dengan total waktu 64.000 jam. Sejak 2003, tidak pernah terdokumentasi orangutan menangkap atau memakan kukang.

Pada awalnya, tim peneliti sedang mengikuti orangutan betina bernama Kerry dan anaknya yang Bernama Ketambe untuk mengamati aktivitas harian mereka (nest to nest). Namun, pada pukul 13.46, seekor orangutan jantan bernama Molong, yang telah mengikuti Kerry dan Ketambe sejak pagi hari, terlihat turun ke tanah dan mengejar seekor kukang. 

Setelah beberapa kali mengejar kukang tersebut naik pohon, turun kembali ke tanah dan naik lagi ke pohon, Molong berhasil mematahkan cabang dimana kukang tersebut hinggap dan membawa kukang tersebut ke ketinggian 5-10 meter.

Awalnya, tim pengamat berasumsi Molong bergerak menjauh dan turun ke tanah karena takut dengan jantan lain karena sebelumnya dari jarak kurang lebih 150 meter terdengar suara longcall. Namun, beberapa saat kemudian, salah satu pengamat melihat Molong sedang mengejar mamalia kecil di atas tanah. 

Molong berjalan cepat di tanah dan beberapa saat kemudian, Molong naik lagi ke atas pohon untuk melakukan pengamatan (mencari satwa tersebut) dan turun lagi ketanah kemudian berjalan cepat (Q4) untuk mengejar mamalia tersebut. 

Setelah berjalan kurang lebih 10-15 meter di permukaan tanah, salah satu pengamat mencoba mengikuti Molong dan mengidentifiasi bahwa Molong sedang mengejar kukang. Pada saat mengejar Molong selalu mengeluarkan suara (Kiss-squeak). 

Pada pukul 13.55, Molong memukul kukang menggunakan tangan sehingga kukang tersebut jatuh ke pancang dibawahnya. 

Molong kemudian mematahkan pancang yang ada kukangnya dan membawanya ke pohon yang lebih tinggi dengan pangkal pancang dipegang ke bawah sehingga kukang sulit berpindah ke pohon yang lain. 

Pada ketinggan sekitar 5-10 meter, Molong duduk sambil mengambil kukang dari dahan  dan kemudian membunuh kukang dengan cara menggigit tengkuknya. Hal itu menyebabkan kukang berteriak selama sekitar satu menit sampai vokalisasinya berhenti, pada saat itu kukang tidak lagi bergerak dan dianggap mati. 

Setelah kukang mati, Molong memakan kepalanya terlebih dahulu. Para pengamat bisa mendengar suara keras tengkorak yang retak saat Molong memakan kepalanya. Ia kemudian tampak mengisap tenggorokan dan kemudian seluruh tubuh kukang. 

Molong kemudian memakan kaki dan tangan, dan kemudian mematahkan kaki dari bagian tubuh lainnya. Dia memegang anggota tubuh kukang yang tidak terpakai dengan kaki kirinya. 

Selama pengamatan, baik daging dan tulang kukang dimakan oleh Molong, namun teramati juga dia menjatuhkan beberapa tulang, termasuk tulang paha. 

Jarak antara Molong dan Kerry kurang dari 50 meter saat pertama kali Molong membunuh kukang. Tetapi, setelah suara Molong memecahkan tengkorak kukang terdengan, Kerry dan Ketambe bergerak ke arahnya. 

Saat duduk bersama, Kerry beberapa kali mencoba meminta kukang kepada Molong dengan beberapa kali menyentuh tangannya namun diabaikan. Kerry dan Molong duduk sangat dekat sehingga kepala mereka bersentuhan, namun tidak ada perselisihan langsung di antara mereka tentang kukang. 

Ketambe memperhatikan (dari jarak kurang dari 1 m) Molong dengan cermat saat dia memakan kukang, dan menarik rambut lengan Molong beberapa kali (mungkin sebagai isyarat memohon). 

Setelah 20 menit, Kerry menarik tangan Molong ke arahnya dan menjilat telapak tangannya, tetapi Molong menarik kembali tangannya. Kerry mencoba mengambil potongan kukang beberapa kali dengan meraih tangan Molong, tapi Molong tidak mengizinkannya mengambil potongan apapun. 

Kadang-kadang, Molong muncul untuk menunjukkan sisa-sisa kukang di tangannya yang terulur kepada Kerry, tetapi setiap kali dia mencoba mengambil sepotong, dia tidak melepaskan kukang. 

Setelah 40 menit mengamati Molong dari dekat dan berusaha mendapatkan daging kukang yang tersisa tanpa hasil, Kerry pindah ke pohon terdekat untuk memakan buah, sambil tetap mengamati Molong. 

Saat Kerry bergerak lebih jauh, Molong mengikutinya sambil memegang sisa-sisa kukang dengan kakinya. Hal menarik lain yang teramati adalah Molong memakan buah Mangkinang (Elaeocarpus mastersii) di sela-sela proses makan kukang, sambil memegang sisa-sisa kukang dengan kakinya. 

Pengamatan berakhir ketika hari mulai gelap dan Kerry membuat sarangnya. Pada saat itu, Molong telah pindah lebih dari 50 m dari Kerry dan Ketambe dan tidak dapat ditemukan lagi oleh tim peneliti.

"Pengamatan orangutan Kalimantan yang menangkap dan memakan kukang yang dijelaskan di sini mirip dengan yang dilaporkan untuk populasi orangutan Sumatra,  saat perburuan bersifat oportunis dan proses konsumsi dimana kukang dibunuh dengan cara digigit di bagian leher/tengkuk, lalu dimakan kepalanya terlebih dahulu, diikuti dengan anggota tubuh lainnya," ungkap Kristana.

"Hal unik lainnya yang terjadi dalam pengamatan ini adalah Molong mematahkan cabang kecil tempat kukang berada, dan memegang cabang tegak sambil membawanya ke pohon lain sebelum membunuh dan memakan kukang serta adanya proses belajar konsumsi daging kukang bagi Kerry dan Ketambe," pungksanaya. (OL-1)

BERITA TERKAIT