21 November 2021, 19:56 WIB

Epidemiolog UGM: PPKM Level III saat libur Nataru Sudah Tepat


Ardi Teristi | Humaniora

ANTARA/Prasetia Fauzani
 ANTARA/Prasetia Fauzani
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin covid-19 kepada warga di Taman Hutan Kota Joyoboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (19/11/2021).

EPIDEMIOLOG UGM, dr Citra Indriani MPH menyatakan, meski angka kasus positif baru setiap hari rata-rata kurang dari 400 kasus, kebijakan pembatasan mobilitas dengan penerapan PPKM level 3 saat jelang Natal dan tahun baru sudah tepat. Namun begitu, kenaikan angka mobilitas masyarakat sekarang ini menurutnya tidak bisa dihindari.

"Kenaikan mobilitas adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Kalau kita lihat dari 1,5 tahun pandemi, gelombang kenaikan selalu diawali dengan peningkatan mobilitas, saat Natal-Tahun Baru dan pascalebaran," papar dia lewat siaran pers dari Humas UGM, Minggu (21/9).

Pembatasan mobilitas melalui penerapan PPKM level 3 jelang Natal dan tahun baru menurutnya sebagai bagian dari bentuk pengendalian. Dengan demikian, penularan secara masif bisa diminimalkan.

Baca juga: Wisma Atlet Kemayoran Rawat 199 Pasien Covid-19

"Meskipun kita batasi, mobilitas tetap terjadi, namun tidak semasif apabila tidak diberlakukan pembatasan," papar dia.

Pembatasan kerumunan dan mobilitas sudah sesuai dengan pembelajaran sebelumnya bahwa gelombang covid di Indonesia diawali pada periode Natal-tahun baru serta lebaran. "Apalagi di negara-negara tetangga saat ini sedang mengalami gelombang delta varian AY42," terang dia.

Menurutnya, pembatasan mobilitas dan penerapan protokol kesehatan dalam kegiatan masyarakat terus dilakukan hingga seluruh penduduk dunia betul-betul aman dari infeksi covid-19 dan vaksinasi sudah mencapai target di seluruh negara.

"Kita masih akan menghadapi kasus cCovid-19 selama angka vaksinasi dunia juga belum mencapai target," terang dia.

Menurut dia, yang diperlukan saat ini adalah mengubah pola pikitrdan menerima pembatasan mobilitas. Artinya, kita harus menjalani dinamika ketika PPKM naik level ataupun turun level.

"Kita beradaptasi dengan situasi ini karena tidak ada kepastian untuk menjawab sampai kapan," ujarnya.

Baca juga: Kedepankan Prokes, Menteri Agama : Kebijakan Umrah Satu Pintu

Citra juga memperkirakan, kemungkinan besar sekitar 80 persen penduduk Indonesia sudah terinfeksi oleh varian Delta. Prediksi tersebut didasari jumlah kasus positif covid-19 yang telah turun secara drastis.

"Infeksi covid lebih dari 50% adalah asimtomatis. Mungkin 80% penduduk kita telah terinfeksi (varian) Delta," kata dia.

Penurunan kasus covid-19 tersebut disebabkan terbentuknya imunitas kelompok secara alamiah. Artinya, tubuh telah memiliki antibodi yang spesifik untuk strain virus tertentu.

Sebagian besar infeksi natural membentuk antibodi yang spesifik untuk virus atau strain virus yang menginfeksi, tidak untuk strain yang lain. Imunitas alamiah yang terbentuk saat ini mungkin tidak bisa kita andalkan apabila kita kedatangan strain yang baru.

Program vaksinasi, sebut dia, sekarang ini sudah menyentuh di 208 juta yang sudah divaksinasi dan 88 juta diantaranya sudah mendapat dosis vaksin lengkap. "Saya kira vaksinasi mempunyai peran besar untuk mencegah bentuk parah sakit karena meskipun sudah divaksin masih punya potensi terinfeksi dan menjadi sakit," papar dia.

Melihat beberapa rekaman data yang terinfeksi di gelombang Januari, Juni, dan Juli, kasus-kasus meninggal memiliki riwayat belum mendapatkan vaksinasi. Ia berharap, percepatan vaksinasi bisa terus dilakukan.

Penyisiran warga yang belum divaksinasi, terutama lansia, bisa berperan untuk mitigasi bentuk parah infeksi SARS-COV 2. Dengan sudah divaksin, kalaupun gelombang 3 terjadi, sistem kesehatan kita, imbuh dia, tidak lagi menghadapi kasus-kasus berat yang jumlahnya ribuan setiap harinya. (H-3)

BERITA TERKAIT