19 November 2021, 22:28 WIB

Jokowi Ingatkan Kearifan Nenek Moyang Bisa Diaktualisasi untuk Masa Kini


Ihfa Firdausya | Humaniora

Setkab.go.id
 Setkab.go.id
Presiden Joko Widodo

PRESIDEN Joko Widodo resmi membuka Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2021 yang digelar mulai 19-26 November 2021. Dalam sambutannya, Kepala Negara mengingatkan bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dan harus dirujuk dari ilmu pengetahuan dan kearifan masa lalu karya nenek moyang Nusantara.

Menurutnya, ilmu pengetahuan dan kearifan masa lalu tersebut mungkin tidak tertulis dalam buku literatur atau artikel ilmiah dalam standar modern tetapi bisa dalam bentuk narasi lisan, skrip drama, dan pewayangan, serta berbagai kebiasaan. Semua itu adalah warisan kebudayaan yang kaya kearifan dan ilmu pengetahuan. "Warisan kearifan dan ilmu pengetahuan tersebut mungkin tidak terjelaskan secara metodologi modern. Justru itulah yang menjadi kewajiban kita untuk meneliti dengan bijak semua warisan kebudayaan tersebut dalam nalar modern, dalam metodologi yang kita kembangkan sendiri," tutur Presiden Jokowi dalam acara yang disiarkan di Indonesiana.tv dan TVRI Jumat (19/11) malam.

Presiden mengingatkan, banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh nenek moyang kita, seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, penyakit-penyakit tropis seperti malaria dan berbagai penyakit lain, serta pandemi, yang sering dialami sejak masa lalu. Selain tantangan alam, ada juga keberagaman etnis, adat-istiadat, dan agama, juga karakter masyarakat nenek moyang.

Menurut Jokowi, setiap tantangan yang dihadapi nenek moyang kita selalu ada cara untuk mengelola dan menemukan solusi dengan baik. "Itulah kebudayaan masyarakat Indonesia yang diwariskan melalui seni dan budaya, melalui jamu, dan berbagai bentuk ilmu pengetahuan lainnya," paparnya.

Ia menambahkan, kebudayaan Indonesia tumbuh dari berbagai kesulitan hidup nenek moyang dulu. Kebudayaan Indonesia juga dikembangkan dari interaksi nenek moyang dan antarsesamanya serta alam. "Selain melestarikan dan belajar dari kebudayaan nenek moyang, saya juga minta untuk terus memahami alam kita yang sangat kaya dan kompleks ini. Keberagaman hayati laut kita adalah yang terkaya di dunia. Keberagaman hayati darat kita adalah yang kedua terkaya di dunia setelah Brasil," tegasnya.

Karena itu, Jokowi menegaskan bahwa berangkat dari kekayaan kebudayaan dan hayati, Indonesia memiliki peluang besar untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan yang berbasis dari peradaban Indonesia. Misal, katanya, Indonesia mempunyai peluang untuk menjadikan jamu sebagai obat modern yang terbukti secara ilmiah. "Metodologi ilmu kita tentu harus secara arif menghargai kebudayaan dan peradaban kita. Jangan tergesa menyimpulkan suatu adat atau kebiasaan masyarakat asli kita tidak baik. Bisa jadi hanya karena kita belum mampu menjelaskannya secara ilmiah. Pelestarian menjadi kunci yang harus kita lakukan selain pengembangan dan pemanfaatan untuk kemajuan Indonesia," pungkas mantan Wali Kota Solo itu.

Pembukaan PKN 2021 mengangkat tema “Napas Jiwa” karya Rama Soeprapto yang disutradarai oleh Jay Soebijakto dan koreografi Athila. Tema ini merupakan respons terhadap situasi yang berangsur membaik. Cerita ini diangkat dari persilangan budaya lokal Jawa dan Bali yang terilhami warisan kekayaan situs budaya Candi Barong dan ceritanya.

Athila menyebut bahwa pertunjukan ini dibuat agar anak-anak muda mencintai budayanya. "Bahwa tradisi itu keren, bagaimana bahwa trandisi dan sejarah itu juga bisa dijadikan pertunjukan kekinian. Makanya saya selalu kolaborasi dengan Mas Jay karena saya tahu dia bikin itunya (pertunjukan) kekinian," katanya.

Sementara, Jay Soebijakto menyebut bahwa masyarakat terbiasa menempatkan kata tradisi kepada sesuatu yang dahulu. "Padahal tradisi itu harus selalu digarap karena itu sebenarnya akar dari kebudayaan kita yang harus terus dilestarikan, ditampilkan," tandasnya. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT