09 November 2021, 14:17 WIB

Cegah Stunting, FKM UI Sosialisasikan Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak


Eni Kartinah | Humaniora

Ist
 Ist
Fakultas Kesehatan Masyarakat UI menggelar sosialisasi pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan kepada para remaja.

SAAT ini pemerintah sudah menetapkan program prioritas nasional percepatan penurunan stunting dari 27,67 % menjadi 14% dalam kurun waktu 2020-2024. Stunting merupakan gangguan kronis yang terjadi sejak dalam kandungan yang akan nampak setelah anak usia dua tahun.

Semua pihak yang terlibat perlu bekerja keras untuk mencapai target tersebut dengan melakukan koordinasi antara pemerintah dari pusat sampai desa, lembaga kemasyarakatan nasional maupun internasional, perguruan tinggi, industri, media, dan tentu saja masyarakat.

Sasaran program tersebut antara lain menyasar kelompok remaja, ibu hamil, serta anak balita 0-59 bulan. Salah satu pilar dalam strategi nasional percepatan penurunan stunting adalah peningkatan komunikasi perubahan perilaku masyarakat.  

Oleh sebab itu, dosen dan mahasiswa Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) terpanggil untuk berkontribusi dalam mendukung program pemerintah melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) guna memberdayakan masyarakat.    

Tim Pengabdi Masyarakat dipimpin Dr. Ir. Trini Sudiarti  M.Si  dan Prof. dr.Kusharisupeni, M.Sc bersama 10 mahasiwa melakukan edukasi dalam bentuk penyuluhan kepada masyarakat dan konseling gizi bagi sasaran yang memiliki permasalahan berkaitan dengan kesehatan atau pengaturan makan

"Tujuan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), kesehatan dan konsumsi makanan bergizi untuk pencegahan stunting," kata Trini.

Seribu HPK merupakan periode kritis sekaligus periode emas, dimulai sejak dalam kandungan  sampai anak usia dua tahun.

"Selama periode tersebut terjadi pertumbuhan pesat organ-organ tubuh dan otak  membutuhkan asupan  zat gizi yang cukup dan berkualitas," jelasnya.

"Bila janin kekurangan gizi dalam kandungan dan berlanjut pada usia selanjutnya maka akan terjadi gangguan pertumbuhan organ -organ tubuh janin," kata Prof.Kusharisupeni.  

"Akibatnya ukuran organ lebih kecil, anak lebih pendek, kecerdasan anak terganggu dan saat dewasa anak berisiko mengalami penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes melitus, hipertensi  dan lain-lain," tuturnya.

Pengmas atau Pengabdian kepada Masyarakat pada awalnya berlokasi di Kota Bogor, namun karena kesulitan mendapatkan target penyuluhan ibu hamil dan ibu balita maka  diperluas wilayahnya ke Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang (Jabodetabek).

Adapun metode edukasi dilaksanakan secara daring menggunakan media sosial berbasis internet dan atau telepon genggam sebagai sarana Mimbar yang digunakan seperti zoom, whatsapp grup, dan google drive. Kegiatan pengmas dilaksanakan sejak bulan Juli sampai dengan September 2021.

Sasaran penyuluhan meliputi  ibu hamil, ibu baduta, remaja putri dan kader Posyandú.  

"Diharapkan melalui Pengmas ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan ibu balita tentang 1000 HPK,   Kurang Energi Kronis (KEK), Anemia, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), asupan gizi ibu hamil, ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI," papar Trini.

Materi penyuluhan untuk remaja putri meliputi Indeks Massa Tubuh (IMT), Lingkar lengan Atas (LiLA),   KEK, Anemia dan Pedoman Gizi Seimbang.

Selanjutnya penyuluhan untuk kader Posyandú mencakup materi pengukuran antropometri, pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS), asupan gizi ibu hamil dan asupan gizi anak baduta.

Cara penyuluhan menggunakan alat bantu berbagai video berdurasi 4-5 menit yang sudah dipersiapkan sebelumnya, booklet dan selebaran. Dilakukan  diskusi interaktif antara peserta dengan mahasiswa sebagai penyuluh.

Waktu penyuluhan dan diskusi kurang lebih 1 jam. Sebelum diputarkan video penyuluhan peserta diminta mengisi pretes dan setelah selesai penyuluhan juga dilakukan postes melalui pengisian pada google form.

Tes bertujuan untuk mengetahui perubahan skor pengetahuan  sasaran tentang 1000 HPK, kesehatan. dan konsumsi makanan bergizi setelah diedukasi.  

Berbagai kendala dihadapi pengabdi selama kegiatan penyuluhan seperti jaringan tidak stabil, ketrampilan ibu dalam menggunakan perangkat telepon selluler, kesibukan ibu dalam membantu anak belajar daring,   keterbatasan kepemilikan perangkat telepon genggam  maupun adanya jadwal vaksinasi.

Berbeda halnya untuk kader, selain kendala tersebut kesibukan lain adanya kegiatan bulan pembagian kapsul vitamin A dan pendataan tugas vaksinasi.  

Guna mengatasi permasalahan tersebut dilakukan penjadwalan penyuluhan berulang, mengganti mimbar dari zoom ke Whatssapp Grup, menggunakan fasilitas laptop atau telepon genggam bersama-sama bahkan memperpanjang waktu penyuluhan.

Kendala terutama dialami untuk sasaran ibu hamil, ibu balita maupun kader yang belum terbiasa menggunakan mimbar zoom, sementara kelompok remaja tidak mengalami kendala yang berarti karena sudah terbiasa menggunakan zoom saat kegiatan belajar.

Capaian sasaran edukasi melalui penyuluhan dan konseling kepada ibu hamil sebanyak 37 orang, ibu balita 138 orang, remaja putri 242 orang, dan kader Posyandú 28 orang.  

Edukasi dan konseling dapat meningkatkan skor pengetahuan 1000 HPK, kesehatan dan konsumsi makanan bergizi.

"Besar harapan pengabdi dengan peningkatan pengetahuan pada sasaran dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang pada akhirnya dapat mengubah perilaku ke arah positip untuk mengatasi stunting dan mencegah terjadinya stunting pada anak balita," tambah Trini. (Nik/OL-09) 

BERITA TERKAIT