08 November 2021, 10:15 WIB

COP26: Sekitar 100.000 Demonstran di Glasgow Tuntut Aksi Iklim yang Lebih Cepat


Welysa Tarigan | Humaniora

AFP/ Paul Ellis
 AFP/ Paul Ellis
PROTES COP26: Para pengunjuk rasa melakukan aksi protes di George Sqaure, Glasgow selama Konferensi Perubahan Iklim PBB COP26.

SEKITAR 100.000 orang melakukan demonstrasi serta aksi long march di Glasgow, Skotlandia pada  Sabtu (6/11/2021). Aksi ini digelar bertepatan dengan hari ketujuh pelaksanaan COP26 yang bertujuan untuk menuntut para pemangku kepentingan agar segera melakukan tindakan konkret atas hasil pelaksanaan COP26.

Dikutip dari Reuters, aksi ini merupakan aksi terbesar selama berlangsungnya COP26 dan berlangsung bersamaan di sejumlah negara yang ada di dunia. Bertajuk Call for GlobalDay of Action for Climate Justice, kegiatan ini dibagi dalam beberapa blok termasuk kelompok penduduk asli, anti rasisme, perkumpulan komunitas, anak-anak muda, penganut kepercayaan, dan penuntut keadilan iklim.

Para peserta hadir dengan membawa berbagai macam poster serta atribut yang menarik. Atribut yang mereka kenakan selaras dengan tema blok dimana peserta tersebut bergabung. Beberapa anak kecil terlihat bergabung dalam aksi ini, termasuk seorang anak asal Indonesia bernama Yasa Sirait. Yasa menyampaikan pentingnya perlindungan terhadap hewan agar mencegah terjadinya kepunahan.

Hujan dan angin kencangmengiringi jalannya aksi pada hari itu. Terlihat para warga menggunakan jas hujan dan payung saat melakukan aksi long march. Antusiasme peserta terlihat sepanjang aksi ini, begitu pula dengan warga setempat yang terlihat menyemangati para demonstran yang sedang melakukan aksinya.

Di titik akhir long march ini, yaitu Glasgow Green, para peserta berkumpul untuk melanjutkan agenda acara selanjutnya. Peserta yang hadir dapat turut menikmati penampilan yang dibawakan oleh beberapa musisi lokal. Mereka terlihat sangat antusias dan menari bersama dalam pertunjukan tersebut.

Terdapat panggung yang disediakan pada lokasi acara dimana sejumlah aktivis yang berasal dari beberapa negara diberikan kesempatan untuk menyampaikan orasi dan seruan kepada publik. Salah satu diantaranya adalah Vanessa Nakate, aktivis muda asal Uganda.

Sejumlah anggota kepolisian terlihat dikerahkan untuk menjaga keamanan berlangsungnya acara, termasuk personil polisi berkuda yang ada di Glasgow.(H-1)

 

BERITA TERKAIT